Padi adalah komoditas pertanian yang memiliki peran yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di Indonesia, terutama karena mayoritas penduduk negara ini mengandalkan konsumsi beras sebagai sumber karbohidrat utama. Oleh karena itu, peningkatan produksi padi menjadi salah satu prioritas utama dalam sektor pertanian. Namun, untuk mencapai hasil yang optimal dalam budidaya padi, diperlukan berbagai inovasi teknologi yang dapat mendukung produktivitas tanaman tersebut. Salah satu faktor kunci yang sangat menentukan keberhasilan dalam usaha peningkatan hasil panen padi adalah pemilihan benih yang berkualitas dan penggunaan varietas unggul baru (VUB). Benih bermutu yang dipilih dengan cermat, serta penerapan varietas unggul yang telah teruji, dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan hasil pertanian secara keseluruhan. Benih bermutu adalah benih yang memiliki daya tumbuh yang tinggi, sehat, bebas dari penyakit dan hama, serta mampu menghasilkan tanaman yang optimal dalam kondisi tertentu. Benih berkualitas tinggi akan memberikan tanaman yang lebih tangguh, mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, serta memiliki potensi hasil yang lebih tinggi. Benih yang baik juga dapat meminimalkan kerugian akibat gagal tumbuh atau serangan penyakit, yang pada akhirnya akan mengurangi kebutuhan akan penggunaan bahan kimia seperti pestisida atau fungisida. Varietas unggul baru (VUB) adalah varietas tanaman yang dikembangkan melalui proses penelitian dan seleksi untuk memiliki karakteristik unggul seperti hasil yang tinggi, ketahanan terhadap penyakit, serta daya adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan. VUB padi yang telah dihasilkan melalui riset-riset pertanian berfungsi untuk mengoptimalkan produktivitas, baik dalam kondisi tanah yang subur maupun tanah yang kurang subur. Selain itu, beberapa varietas unggul baru juga memiliki ketahanan terhadap bencana alam seperti kekeringan atau banjir, sehingga petani dapat memperoleh hasil yang lebih stabil meskipun menghadapi perubahan iklim yang tidak menentu. Keunggulan varietas dan mutu benih merupakan justifikasi utama untuk membangun suatu sistem produksi benih bersertifikat. mutu suatu benih dapat dilihat dari beberapa faktor antara lain kebenaran varietas, kemurnian benih, daya hidup (daya kecambah dan kekuatan tumbuh), bebas dari hama dan penyakit. Beberapa keuntungan dari penggunaan benih bermutu, antara lain : (a) menghemat penggunaan benih persatuan luas; (b) respon terhadap pemupukan dan pengaruh perlakuan agronomis lainnya; (c) produktivitas tinggi karena potensi hasil yang tinggi; (d) mutu hasil akan terjamin baik melalui pasca panen yang baik; (e) memiliki daya tahan terhadap hama dan penyakit, umur dan sifat-sifat lainnya jelas; dan (f) waktu panennya lebih mudah ditentukan karena masaknya serentak. Adapun ciri-ciri benih bermutu yaitu a). Varietasnya asli; b). Benih bernas dan seragam; c). Bersih, tidak tercampur dengan biji gulma atau biji tanaman lain; d). Daya berkecambah dan vigor tinggi sehingga dapat tumbuh baik jika ditanam di sawah; e). Sehat, tidak terinfeksi oleh jamur atau serangan hama. Penggunaan benih bermutu tidak terlepas dari penggunaan varietas unggul baru (VUB) yang sesuai dengan agroekosistemnya atau jenis cekamannya. Penggolongan dari varietas padi berdasarkan ekosistem antara lain: a). Inhibrida Padi Sawah Irigasi (INPARI), merupakan varietas yang cocok ditanam pada persawahan; b). Inhibrida Padi Gogo (INPAGO), Dimana varian ini adalah yang berkembang di lahan kering; c). Inbrida Padi Rawa (INPARA), Padi yang bisa dikembangkan di daerah rawa. Penggunaan VUB padi berdasarkan cekaman antara lain; a). Daerah yang rentan terhadap penyakit Blas (Pyricularia grisea): Lahan pasang surut: Inpara-1, Inpara-2, Inpara-3, Inpara-6, dan Inpara-7 ; Lahan sawah irigasi: Inpari-11, Inpari-12, Inpari-13, Inpari-14, Inpari-15, Inpari-16, Inpari-17, Inpari-21 Batipuah, Inpari-22, Inpari-26, Inpari-27, Inpari 31, Inpari 32, Inpari 34, Inpari 35, Inpari Unsoed 79; b). Daerah yang rentan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB): Lahan pasang surut: Inpara-1, Inpara-6, Lahan sawah irigasi: Inpari-1, Inpari-6 Jete, Inpari-11, Inpari-16 Pasundan, Inpari-17, Inpari-18 dan Inpari-19, Inpari-20, Inpari-21 Batipuah, Inpari 22, Inpari-23 Bantul, Inpari-25 Opak Jaya,dan Inpari-27, Inpari 28, Inpari-32, Inpari 33; c). Untuk daerah yang rentan terhadap Wereng Batang Coklat: Lahan pasang surut: Inpara-3 dan untuk Lahan sawah irigasi: Inpari-13, Inpari 22, Inpari-31, Inpari-32, Inpari-33; d). Daerah endemik penyakit tungro : Lahan sawah irigasi: Inpari-8 dan Inpari-9, Inpari 36, Inpari 37; e). Daerah dengan cekaman Kekeringan: Lahan pasang surut: Inpara-1 dan Inpara-3; Lahan sawah irigasi: Dodokan, Silugonggo, Situ Bagendit, Inpari-1, Inpari-10, Inpari-18, Inpari-19; e). daerah dengan cekaman rendaman: Lahan pasang surut: Inpara-3, Inpara-4, Inpara-7, Lahan sawah irigasi: Inpari-29 Rendaman, Inpari-30 Sub1; f). daerah dengan cekaman air asin : Lahan pasang surut: Margasari, Dendang, Lambur, Sungai Lalan, Indragiri, Air Tenggulang, dan Banyuasin. Lahan sawah irigasi : Inpari-34, Inpari-35. Semoga bermanfaat. Penulis: Religius Heryanto, S.ST (Penyuluh BPTP Sulbar Sumber Bacaan : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian