Loading...

STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUKSI PERTANIAN BERKELANJUTAN YANG RAMAH LINGKUNGAN

STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUKSI PERTANIAN BERKELANJUTAN YANG RAMAH LINGKUNGAN
Pertanian berkelanjutan dapat diciptakan melalui integrasi antara praktek produksi tanaman dan hewan yang biasa dikaitkan sebagian pertanian organik . Pengertian pertanian organik menurut IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements) adalah teknik pertanian yang tidak menggunakan bahan kimia (non sintetik), tetapi memakai bahan-bahan organik berdasarkan prinsip daur ulang yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi setempat dengan sistem manajemen produksi holistik yang meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agroekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah. Berusahatani secara organik merupakan salah satu bentuk dari sistem bertani yang berkelanjutan, maksud dari sistem pertanian berkelanjutan adalah suatu sistem pertanian menggunakan prinsip ekologi, serta studi hubungan antara organisme dan lingkungannya yang lebih ramah. Beberapa fungsi pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan diantaranya: 1) Memenuhi kebutuhan pangan dan serat manusia; 2) Meningkatkan kualitas lingkungan dan sumber daya alam berdasarkan kebutuhan ekonomi pertanian; 3) Menggunakan sumber daya alam tidak terbarukan secara sangat efisien; 4) Menggunakan sumber daya yang tersedia di lahan pertanian secara terintegrasi, dan memanfaatkan pengendalian dan siklus biologis jika memungkinkan; dan 5) Meningkatkan kualitas hidup petani dan masyarakat secara keseluruhan. Strategi pertanian organik adalah memindahkan hara secepatnya dari sisa tanaman, kompos dan pupuk kandang menjadi biomassa tanah yang selanjutnya setelah mengalami proses mineralisasi akan menjadi hara dalam larutan tanah, dengan kata lain, unsur hara didaur ulang melalui satu atau lebih tahapan bentuk senyawa organik sebelum diserap tanaman. Perlu ada konsep dasar dalam pengembangan produksi pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan, di antaranya dengan konsep SMILE: S – Sederhana; untuk mengaplikasikan strategi pengembangan produksi pertanian, menggunakan teknologi atau tidak, sifatnya sederhana, sehingga mudah diadaptasikan dengan kondisi pertanian yang ada. Juga tidak menambahkan beban tambahan seperti keharusan mengikuti pelatihan yang mahal, dan ketergantungan teknologi atau spare part atau perawatan. M – Murah; artinya secara finansial dapat dijangkau oleh petani dan tidak menimbulkan pengorbanan yang besar secara finansial, atau dapat dikatakan layak sebagai investasi (menguntungkan). Kelayakan sebagai investasi tentu saja mempertimbangkan kapasitas dan kemampuan petani dalam mengalokasikan anggaran dan hubungannya dengan kinerja I – Ilmiah; terbukti dapat diterapkan di mana saja, tidak saja pada demoplot. Pendekatan ini tidak memerlukan persyaratan infrastruktur yang rumit, memerlukan biaya tambahan, dan adaptif dengan kondisi yang berbeda-beda. L – Lestari; jangka panjang dan selaras alam yaitu bahwa pengembangan produksi tidak melawan alam dan harmoni dengan lingkungan yang ada. E – Efektif; menghasilkan secara finansial (menguntungkan), mengurangi biaya perawatan, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan kesejahteraan. Strategi Produksi Pertanian Merancang strategi pengembangan produksi pertanian berkelanjutan ramah lingkungan, yang menjangkau kebebasan finansial dan pendapatan hingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani yang lebih baik, dapat dilakukan dengan beberapa strategi diantaranya adalah: Diversifikasi Produk. Diversifikasi produk dengan melakukan penanaman tanaman beraneka jenis dengan pendekatan polikultur (polyfarming) yang berdampak pada diversifikasi produk dan peningkatan hasil pertanian. Keragaman Komoditas Pertanian. Petani setidaknya menanam 3 jenis tanaman yang menghasilkan melalui survei pasar. Petani memilih beberapa jenis tanaman yang dapat memberikan “jaminan”, di mana apabila satu komoditas gagal, dengan berbagai sebab misalnya pandemi, penyakit, harga jatuh, dan lain-lain, dapat ditutupi oleh komoditas lainnya. Panen terus menerus. Petani dapat merancang agar lahan pertanian dapat memanen harian (misalnya penanaman susulan annual sehingga dapat dipanen setiap hari), mingguan, dan musiman (setahun sekali). Sehingga petani tidak mengalami masalah putus panen. Pelayanan Pasca Jual. Petani meningkatkan pelayanan pertanian seperti pelayanan pasca jual pada pelanggan pertanian, dengan mengganti sayur yang rusak, dan lain-lain. Pengendalian Hama dan Penyakit Alamiah. Petani merancang iklim mikro pertanian yang terintegrasikan dengan pengendalian hama dan penyakit dengan menanam berbagai tanaman refugia, penolak hama, mengundang predator, mendayagunakan gulma, sehingga meringankan beban pemeliharaan pertanian. Integrasi Proses Produksi. Integrasi proses produksi dilakukan tidak saja untuk mengurangi biaya operasional dan biaya perawatan, tetapi juga untuk mendapatkan panen berlimpah pada masing-masing elemen integrasi. Misalnya pada kasus bebek yang diumbar di sawah meningkatkan produktivitas telur hingga dua kali lipat, sementara padi bebas dari serangan hama keong dan wereng. Output menjadi Input. Petani dapat mendayagunakan output apa saja yang tidak diperlukan sebagai input yang lain. Dengan mengumbar ayam di kebun maka output kebun seperti serangga, menjadi input Sementara output ayam berupa kotoran menjadi input bagi kebun. Input menjadi output. Dengan mendayagunakan semua output, maka elemen pertanian, misalnya bebek di sawah, akan meningkat produktivitas telurnya hingga dua bahkan tiga kali lipat dibanding bebek yang hanya didiamkan di kandang. Siklus tani ternak. Petani dapat merancang siklus pertanian dan peternakan secara terintegrasi dengan memasukkan ternak ke lahan, misalnya untuk mentraktor, mengolah tanah, mengendalikan hama, dan lain-lain. Dan sebaliknya memasukkan hasil pertanian dengan meramban daun dan rumput oleh ternak yang diumbar. Dengan metode siklus ini, petani tidak harus mengangkut rumput ke kandang atau mengangkut kotoran hewan ke lahan, meskipun masih diperlukan. Meminimalkan Input Luar. Dengan integrasi di atas, petani juga dapat bekerja sama dengan petani lain dalam memanfaatkan output yang ada dan sehingga membangun suatu closed loop (siklus paripurna) antar petani, atau komunitas tani, atau korporasi petani, sehingga secara perlahan mengurangi kebutuhan input dari luar. Pendayagunaan Sumberdaya Lokal Hayati, di mana kita mendayagunakan sumber-sumber hayati (biologis) dalam kegiatan pertanian. Pengolahan lahan dengan penggunaan ternak sebagai traktor dapat menyehatkan tanah, menyehatkan ternak dan mengurangi ketergantungan input Petani juga dapat memikirkan untuk mencari sumberdaya lokal dalam produksi pertanian, seperti pembuatan pupuk, pengendalian hama bersama, dan bahkan mengembangkan pasar lokal bersama. Pengolahan Pasca Panen. Pengolahan pasca panen akan meningkatkan nilai jual produksi pertanian. Meningkatkan efisiensi. Termasuk di dalamnya adalah pengemasan, pengawetan, pengalengan dan pengepakan yang meningkatkan nilai jual. Memperpendek rantai nilai. Dengan pengolahan pasca panen, maka rantai nilai lebih pendek dan petani mendapatkan surplus, selain mengurangi dampak akibat carbon footprint yang panjang. Nilai tambah. Petani dapat meningkatkan nilai tambah pertanian baik berupa refinasi, biofortifikasi, fermentasi dan lain-lain, yang tidak saja memberi nilai tambah finansial, juga nilai tambah kualitas produk, termasuk nilai nutrisi yang meningkat dari produk pertanian. Percepatan Peningkatan Pendapatan. Dengan pengolahan pasca panen, maka diharapkan terjadi peningkatan kesejahteraan petani dengan cepat. Dalam mendukung pengembanan produksi pertanian berkelanjutan yang ramah linkungan, Kementerian Pertanian melalui Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP tahun 2023 telah memprogramkan kegiatan Genta Organik melalui SL-Tematik Organik di daerah. Penyuluh Pertanian sebagai garda terdepat dalam menyebarluaskan teknologi produksi pertanian diharapkan dapat melakukan pendampingan pelaksanaan SL-Tematik Organik melalui pembuatan dan pengunaan pupuk organik, pestisida nabati dan biochart secara terus menerus sampai pelaku utama dan pelaku usaha terbiasa membuat dan mengaplikasikannya pada lahan usahatninya. (LW, Sumber disarikan dari Modul Pelatihan Pertanian Regeneratif Berbasis Ekonomi Sirkular oleh WAIBI& BPPSDMP dan sumber lain). Pertanian berkelanjutan dapat diciptakan melalui integrasi antara praktek produksi tanaman dan hewan yang biasa dikaitkan sebagian pertanian organik . Pengertian pertanian organik menurut IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements) adalah teknik pertanian yang tidak menggunakan bahan kimia (non sintetik), tetapi memakai bahan-bahan organik berdasarkan prinsip daur ulang yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi setempat dengan sistem manajemen produksi holistik yang meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agroekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah. Berusahatani secara organik merupakan salah satu bentuk dari sistem bertani yang berkelanjutan, maksud dari sistem pertanian berkelanjutan adalah suatu sistem pertanian menggunakan prinsip ekologi, serta studi hubungan antara organisme dan lingkungannya yang lebih ramah. Beberapa fungsi pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan diantaranya: 1) Memenuhi kebutuhan pangan dan serat manusia; 2) Meningkatkan kualitas lingkungan dan sumber daya alam berdasarkan kebutuhan ekonomi pertanian; 3) Menggunakan sumber daya alam tidak terbarukan secara sangat efisien; 4) Menggunakan sumber daya yang tersedia di lahan pertanian secara terintegrasi, dan memanfaatkan pengendalian dan siklus biologis jika memungkinkan; dan 5) Meningkatkan kualitas hidup petani dan masyarakat secara keseluruhan. Strategi pertanian organik adalah memindahkan hara secepatnya dari sisa tanaman, kompos dan pupuk kandang menjadi biomassa tanah yang selanjutnya setelah mengalami proses mineralisasi akan menjadi hara dalam larutan tanah, dengan kata lain, unsur hara didaur ulang melalui satu atau lebih tahapan bentuk senyawa organik sebelum diserap tanaman. Perlu ada konsep dasar dalam pengembangan produksi pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan, di antaranya dengan konsep SMILE: S – Sederhana; untuk mengaplikasikan strategi pengembangan produksi pertanian, menggunakan teknologi atau tidak, sifatnya sederhana, sehingga mudah diadaptasikan dengan kondisi pertanian yang ada. Juga tidak menambahkan beban tambahan seperti keharusan mengikuti pelatihan yang mahal, dan ketergantungan teknologi atau spare part atau perawatan. M – Murah; artinya secara finansial dapat dijangkau oleh petani dan tidak menimbulkan pengorbanan yang besar secara finansial, atau dapat dikatakan layak sebagai investasi (menguntungkan). Kelayakan sebagai investasi tentu saja mempertimbangkan kapasitas dan kemampuan petani dalam mengalokasikan anggaran dan hubungannya dengan kinerja I – Ilmiah; terbukti dapat diterapkan di mana saja, tidak saja pada demoplot. Pendekatan ini tidak memerlukan persyaratan infrastruktur yang rumit, memerlukan biaya tambahan, dan adaptif dengan kondisi yang berbeda-beda. L – Lestari; jangka panjang dan selaras alam yaitu bahwa pengembangan produksi tidak melawan alam dan harmoni dengan lingkungan yang ada. E – Efektif; menghasilkan secara finansial (menguntungkan), mengurangi biaya perawatan, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan kesejahteraan. Strategi Produksi Pertanian Merancang strategi pengembangan produksi pertanian berkelanjutan ramah lingkungan, yang menjangkau kebebasan finansial dan pendapatan hingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani yang lebih baik, dapat dilakukan dengan beberapa strategi diantaranya adalah: Diversifikasi Produk. Diversifikasi produk dengan melakukan penanaman tanaman beraneka jenis dengan pendekatan polikultur (polyfarming) yang berdampak pada diversifikasi produk dan peningkatan hasil pertanian. Keragaman Komoditas Pertanian. Petani setidaknya menanam 3 jenis tanaman yang menghasilkan melalui survei pasar. Petani memilih beberapa jenis tanaman yang dapat memberikan “jaminan”, di mana apabila satu komoditas gagal, dengan berbagai sebab misalnya pandemi, penyakit, harga jatuh, dan lain-lain, dapat ditutupi oleh komoditas lainnya. Panen terus menerus. Petani dapat merancang agar lahan pertanian dapat memanen harian (misalnya penanaman susulan annual sehingga dapat dipanen setiap hari), mingguan, dan musiman (setahun sekali). Sehingga petani tidak mengalami masalah putus panen. Pelayanan Pasca Jual. Petani meningkatkan pelayanan pertanian seperti pelayanan pasca jual pada pelanggan pertanian, dengan mengganti sayur yang rusak, dan lain-lain. Pengendalian Hama dan Penyakit Alamiah. Petani merancang iklim mikro pertanian yang terintegrasikan dengan pengendalian hama dan penyakit dengan menanam berbagai tanaman refugia, penolak hama, mengundang predator, mendayagunakan gulma, sehingga meringankan beban pemeliharaan pertanian. Integrasi Proses Produksi. Integrasi proses produksi dilakukan tidak saja untuk mengurangi biaya operasional dan biaya perawatan, tetapi juga untuk mendapatkan panen berlimpah pada masing-masing elemen integrasi. Misalnya pada kasus bebek yang diumbar di sawah meningkatkan produktivitas telur hingga dua kali lipat, sementara padi bebas dari serangan hama keong dan wereng. Output menjadi Input. Petani dapat mendayagunakan output apa saja yang tidak diperlukan sebagai input yang lain. Dengan mengumbar ayam di kebun maka output kebun seperti serangga, menjadi input Sementara output ayam berupa kotoran menjadi input bagi kebun. Input menjadi output. Dengan mendayagunakan semua output, maka elemen pertanian, misalnya bebek di sawah, akan meningkat produktivitas telurnya hingga dua bahkan tiga kali lipat dibanding bebek yang hanya didiamkan di kandang. Siklus tani ternak. Petani dapat merancang siklus pertanian dan peternakan secara terintegrasi dengan memasukkan ternak ke lahan, misalnya untuk mentraktor, mengolah tanah, mengendalikan hama, dan lain-lain. Dan sebaliknya memasukkan hasil pertanian dengan meramban daun dan rumput oleh ternak yang diumbar. Dengan metode siklus ini, petani tidak harus mengangkut rumput ke kandang atau mengangkut kotoran hewan ke lahan, meskipun masih diperlukan. Meminimalkan Input Luar. Dengan integrasi di atas, petani juga dapat bekerja sama dengan petani lain dalam memanfaatkan output yang ada dan sehingga membangun suatu closed loop (siklus paripurna) antar petani, atau komunitas tani, atau korporasi petani, sehingga secara perlahan mengurangi kebutuhan input dari luar. Pendayagunaan Sumberdaya Lokal Hayati, di mana kita mendayagunakan sumber-sumber hayati (biologis) dalam kegiatan pertanian. Pengolahan lahan dengan penggunaan ternak sebagai traktor dapat menyehatkan tanah, menyehatkan ternak dan mengurangi ketergantungan input Petani juga dapat memikirkan untuk mencari sumberdaya lokal dalam produksi pertanian, seperti pembuatan pupuk, pengendalian hama bersama, dan bahkan mengembangkan pasar lokal bersama. Pengolahan Pasca Panen. Pengolahan pasca panen akan meningkatkan nilai jual produksi pertanian. Meningkatkan efisiensi. Termasuk di dalamnya adalah pengemasan, pengawetan, pengalengan dan pengepakan yang meningkatkan nilai jual. Memperpendek rantai nilai. Dengan pengolahan pasca panen, maka rantai nilai lebih pendek dan petani mendapatkan surplus, selain mengurangi dampak akibat carbon footprint yang panjang. Nilai tambah. Petani dapat meningkatkan nilai tambah pertanian baik berupa refinasi, biofortifikasi, fermentasi dan lain-lain, yang tidak saja memberi nilai tambah finansial, juga nilai tambah kualitas produk, termasuk nilai nutrisi yang meningkat dari produk pertanian. Percepatan Peningkatan Pendapatan. Dengan pengolahan pasca panen, maka diharapkan terjadi peningkatan kesejahteraan petani dengan cepat. Dalam mendukung pengembanan produksi pertanian berkelanjutan yang ramah linkungan, Kementerian Pertanian melalui Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP tahun 2023 telah memprogramkan kegiatan Genta Organik melalui SL-Tematik Organik di daerah. Penyuluh Pertanian sebagai garda terdepat dalam menyebarluaskan teknologi produksi pertanian diharapkan dapat melakukan pendampingan pelaksanaan SL-Tematik Organik melalui pembuatan dan pengunaan pupuk organik, pestisida nabati dan biochart secara terus menerus sampai pelaku utama dan pelaku usaha terbiasa membuat dan mengaplikasikannya pada lahan usahatninya. (LW, Sumber disarikan dari Modul Pelatihan Pertanian Regeneratif Berbasis Ekonomi Sirkular oleh WAIBI& BPPSDMP dan sumber lain).