Loading...

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA ULAT GRAYAK PADA TANAMAN KEDELAI

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA ULAT GRAYAK PADA TANAMAN KEDELAI
Kedelai merupakan komoditas utama tanaman pangan yang penting setelah padi dan jagung. Komoditas ini merupakan sumber protein, nabati, lemak, vitamin dan mineral yang murah dan mudah tumbuh di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai bahan makanan kedelai mempunyai kandungan gizi yang tinggi terutama protein (40%), lemak (20%), karbohidrat (35%) dan air (8%). Sampai saat ini produksi kedelai di Indonesia masih rendah, sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri. Salah satu faktor pembatas rendahnya produksi kedelai adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pada musim tanam kedelai tahun 2018 bulan Maret – Juni, pertanaman kedelai petani di Kabupaten Sambas terserang ulat grayak yang menyebabkan produksi tidak optimal < 1,5 ton/ha yang biasanya petani biasa memperoleh produksi 1,8 – 2,4 ton/ha. Ulat grayak (Spodoptera litura F). merupakan salah satu hama utama pada tanaman kedelai disamping hama lalat bibit dan penggerek polog. Ulat Grayak ini memakan epidermis daun (hijau daun) meninggalkan epidermis atas (transparan) dan tulang daun sehingga daun yang teserang dari jauh terlihat berwarna putih. Kondisi ini mengakibatkan terganggunya proses fotosintesis dan akhirnya mengakibatkan kehilangan hasil panen. Besarnya kehilangan hasil tergantung pada tingkat kerusakan daun dan tahap pertumbuhan tanaman waktu terjadi serangan. Kerusakan daun sebesar 12,5%, menyebabkan kerugian ekonomi setara dengan biaya dua kali aplikasi insektisida. JIka kerusakan daun terjadi pada fase pembungaan, maka akan menyebabkan bunga yang terbentuk gugur. Kehiangan luas daun 50% menyebabkan panen berkurang 17,3%. Apabila kerusakan daun terjadi pada fase generative menyebabkan hasil panen dan bobot biji kedelai menurun. Selain mengakibatkan kerusakan pada daun, ulat grayak dewasa juga memakan polong muda dan tulang daun muda, sedang daun tua, tulang-tulangnya akan tersisa.Hama ulat grayak ini cepat sekali berkembang jika kondisi lingkungan sesuai untuk pertumbuhannya. Faktor-faktor yang dapat mendukung perkembangan ulat grayak adalah :Cuaca panas Pada kondisi kering dan suhu tinggi, metabolisme serangga hama meningkat sehingga memperpendek siklus hidup. Akibatnya jumlah telur yang dihasilkan meningkat dan akhirnya mendorong peningkatan populasi. Oleh karena itu, intensitas serangan ulat grayak pada pertanaman kedelai dimusim kemarau lebih tinggi di musim penghujanPenanaman tidak serentak dalam satu areal yang luas. Penanaman kedelai yang tidak serentak menyebabkan tanaman berada pada fase pertumbuhan yang berbeda-beda sehingga makanan ulat grayak selalu tersedia di lapangan. Akibatnya, pertumbuhan populasi hama makin meningkat karena makanan tersedia sepanjang musim.Aplikasi insektisida Penggunaan insektisida yang kurang tepat baik jenis maupun dosisnya, dapat mematikan musuh alami serta meningkatkan kekebalan hama (resistensi) terhadap insektisida tertentu jika insektisida yang diberikan melebihi dosis anjuran serta dapat menambah populasi hama (resurgensi) jika dosis yang diberikan dibawah dosis anjuran. Cara Pengendalian hama Ulat Grayak dapat dilakukan dengan :1. Teknik budidaya tanaman Cara ini dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan yang tidak sesuai atau tidak menguntungkan bagi perkembangan ulat grayak. Teknik budidaya tanaman yang dapat menekan populasi hama ulat grayak yaitu :a. Penanaman varietas tahan terhadap hama dan penyakit, contohnya varietas Ijenb. Penggunaan benih sehat dan berdaya tumbuh baik. Dengan benih yang sehat akan menghasilkan tanaman yang sehat danselanjutnya tanaman yang sehat akan mampu mempertahankan dirinya dari serangan hama dengan kemampuan tumbuh kembali yang lebih cepat.c. Pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup hama Pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup hama dlakukan dengan menanam tanaman bukan inang yang pada akhirnya dapat menekan populasi hama. Perlu diketahui bahwa inang ulat grayak ini cukup banyak antara lain cabai, kubis, padi, jagung, tomat, tebu, buncis, jeruk, tembakau, kapas, bawang merah, terung, kentang, kacang-kacangan (kacang tanah), kangkung, bayam, pisang, dan tanaman hias serta berbagai gulma. Jadi tanamlah setelah kedelai, tanaman yang bukan inang.d. Sanitasi Sanitasi dilakukan dengan membersihkan sisa-sisa tanaman atau tanaman lain yang bisa menjadi inang bagi ulat grayak.e. Penetapan masa tanam dan penanaman secara serempak Penetapan masa tanam dan penanaman secara serempak pada satu hamparan dengan selisih waktu tanam maksimal 10 hari untuk menghindari waktu tanam yang tumpang-tindih. Dampak dari tanam serempaka dalah terjadinya penurunan populasi awal hama,sehingga kegilangan hasil persatuan luas dapat di perkecilf. Penanaman tanaman perangkap atau penolak hama Penggunaan tanaman perangkap bertujuan untuk menciptakan suatu keadaan supaya populasi hama yang akan dikendalikan mengumpul pada areal terbatas., sehingga pengendalian hanya dilakukan pada tanaman perangkap. Tanaman perangkap yang dapat digunakan adalah bunga matahri dan jarak.2. Pengendalian secara fisik dan mekanik. Pengendalian ini dilakukan dengan cara mengambil kelompok telur ulat grayak, membunuh larva dan imago serta mencabut tanaman yang sakit sehingga dapat mengurangi populasi hama. Waktu terbaik untuk mengumpulkan dan mengambil larva adalah apda pagi hari dan sore hari.3. Pengendalian secara biologis Pengendalian biologis pada dasarnya pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan hama. Pengendalian secara biologis dapat dilakukan dengan agensi hayati NPV/Nuclear Polyhedrosis virus yang menjadi patogen bagi ulat grayak dan Bacillus thuringiensis (Bt) yang berbahan aktif bakteri yang efektif mengendalikan ulat grayak4. Pestisida nabati Penggunaan pestisida nabati biji mimba yang mengandung azadirachtin terbukti dapat menekan serangan ulat grayak.5. Pestisida Kimia Penggunaan insektisida secara selektif dan diizinkan merupakan pilihan terakhir apabila populasi hama telah melebihi batas ambang kendali. Apabila ditemukan telur ulat grayak sekitar umur 30 HST maka aplikasi insektisida dapat dilakukan empat hari setelah pemantauan.Penyusun : Ir. Sari Nurita, penyuluh BPTP Kalimantan BaratSumber Marwoto dan Suharsono, 2008. Strategi Dan Komponen Teknologi Pengendalian Ulat Grayak (Spodoptera Litura Fabricius) Pada Tanaman Kedelai. Jurnal Litbang Pertanian, 27(4), 2008. Marwoto, E. Wahyuni, dan K.E. Neering. 1991. Pengelolaan Pestisida dalam Pengendalian Hama Kedelai secara Terpadu. Monograf Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. Nugroho, B.A., 2013. Pengenalan Dan Pengendalian Hama Ulat Grayak pada Tanaman Kapas. http://Ditjetbun.Pertanian.Go.Id/Bbpptp surabaya/Berita-439-Pengenalan-Dan-Pengendalian-Hama-Ulat-Grayak-Pada-Tanaman-Kapas.Html. Diakses Tanggal 25 Mei 2016 Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2006. Hama Penyakit dan Masalah Hara Pada Tanaman Kedelai, Identifikasi dan Pengendaliannya. Bogor. Tengkano, W dan Suharsono, Ulat Grayak Spodoptera litura Fabricius (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) pada Tanaman kedelai dan Pengendaliannya. https://media.neliti.com/media /publications /226478-ulat-grayak-spodoptera-litura-fabricius-534afa19.pdf. Diakses tanggal 20 Mei 2019