Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan komoditas hortikultur utama di daerah kecamatan Batur. Budidaya kentang sudah mengakar kuat bagi para petani bahkan sudah menjadi budaya bagi masyrakat kecamatan batur. Akan tetapi produktifitas kentang semakin tahun semakin menurun, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah gangguan hama dan penyakit, iklim, teknik budidaya, mutu bibit dan kesuburan tanah. Diantara faktor- faktor tersebut gangguan hama dan penyakit merupakan penyebab utama penurunan produktifitas kentang. Salah satu penyakit yang dapat menurunkan produktifitas kentang disebabkan oleh Nematoda Sista Kentang (NSK). Ada dua jenis NSK yang berkembang di daerah kecamatan batur dan sekitarnya, yaitu Globodera rostochiensis (Nematoda sista kuning) dan Globodera pallida (Nematoda Sista Putih). NSK dalam perkembanganya melalui stadium telur, larva dan dewasa. Siklus hidup telur sampai dewasa berlangsung 38-48 hari. Daur hidup NSK antara 5-7 minggu tergantung kondisi lingkungan dengan produksi telur 200-500 butir. Kemampuan bertahan hidup dari NSK pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (tidak ada inang, suhu sangat rendah,suhu sangat tinggi dan kekeringan) dengan membentuk sista dan dapat aktif kembali pada kondidi yang sesuai, terutama adanya eksudat akar tanaman inang selama lebih dari 10 tahun. NSK mengambil nutrisi tanaman dari akar dengan melukai akar sehingga pasokan nutrisi dan air ke batang dan daun berkurang sehingga tanaman tumbuh kerdil. Gejala serangan NSK diawali dengan pertumbuhan tanaman kerdil secara spot-spot dan apabila infestasi NSK berkembang maka spot tanaman kerdil meluas. Infestasi NSK yang berat menyebabkan tanaman layu terutama pada siang hari, pertumbuhan terhambat serta perkembangan akar terhambat. Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan petani untuk menekan dampak serangan dari NSK ini adalah sebagi berikut:1. Pengendalian NSK pada saat sebelum tanama. Pemilihan calon lahan kentang yang bebas dari NSK atau populasi NSK nya dibawah 31 sista hidup per 100 gr tanahb. Sanitasi kebun : lahan dicangkul sdalam 30 cm dan bongkahan tanah dihancurkan, semua perakaran diangkat dan dibakar dan tanah dibiarkan terkena sinar mataharic. Pemilihan bibit yang bebas dari NSK yang terbawa tanah (bibit unggul)d. Rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan inang NSK atau bukan dari famili Solanaceae 2. Pengendalian NSK pada saat pertanamana. Pemupukan berimbang sesuai rekomendasi, yaitu:- Pupuk organik yang sudah terdekomposisi sebanyak 30 ton/ha- Pupuk Anorganik urea: 200 kg/ha, ZA: 400 kg/ha, TSP: 250 kg/ha, KCL: 300 kg/hab. Pencabutan tanaman yang sakit disertai pembongkaran perakaran tanamanc. Pengendalian hayati dengan menggunakan musuh alami NSK yaitu dengan cendawan Verticillium chlamidosporum, cvlindrocarpon destructans dan Acremonium strictumd. Penggunaan nematisida selektif (karbofuran 3% dosis 150-200 kg/ha) pada saat taname. Penggunaan tanaman perangkap dari tanaman tomat dan terong Dipublikasikan Oleh : Imam Sutriasno, S.Pt