Loading...

Strategi Pengendalian Penyakit CPVD

Strategi Pengendalian Penyakit CPVD
Pada saat ini, agribisnis jeruk di Indonesia sudah mulai terancam lagi oleh serangan penyakit CPVD seperti yang terjadi di Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan dan di Sambas Kalimantan barat. Penyebab penyakit ini adalah karena petani belum sepenuhnya menerapkan teknologi inovatif pengendalian penyakit yang mematikan ini. Hingga saat ini masih belum diketemukan obat yang dapat menyembuhkan pohon jeruk yang terinfeksi penyakit CVPD yang disebabkan oleh patogen Liberibacter asiaticum. Namun demikian penyakit CVPD yang berbahaya ini, bisa dihindari dan dikendalikan dengan penerapan lima komponen teknologi pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat atau lebih dikenal dengan PTKJS secara utuh dan serentak. PTKJS terdiri dari lima komponen teknologi, yaitu anataralain : Menggunakan benih jeruk sehat berlabel biru bebas CVPD dan penyakit virus lainnya. Mengendalikan serangga penular/ kutu loncat/ vektor CVPD/ Diaphorina citri. Mengeradikasi tanaman jeruk yang terserang penyakit CVPD. Memelihara tanaman jeruk di kebun secara optimal. Diterapkan diseluruh kawasan agribisnis jeruk melalui kelompok tani sebagai unit terkecil pembinaan. Menanam benih jeruk menggunakan benih berlebel biru berarti kita telah menjaga dan membebaskan area kebun dan kawasan jeruk kita dari sumber penyakit CVPD. Menyulam tanaman jeruk yang baru dibongkar dengan menggunakan benih sehat berlebel unggu, menjadikan kebun kita bebas dari tanaman sakit CVPD yang dapat menularkan ke tanaman sehat sebelahnya. Selain itu juga dengan melakukan eradikasi tanaman sakit CVPD berarti membuang sumber penyakit tersebut dari kebun jeruk, kemudian melakukan penyulaman dengan benih berlabel biru. Untuk pertanaman jeruk apabila sudah terinfeksi oleh penyakit CVPD, penerapan komponen teknologi pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat (PTKJS) harus dilakukan secara proposional dengan penekanan sesuai dengan kondisi riel di lapangan. Kegiatan yang dilakukan misalnya melakukan eradikasi tanaman yang terserang penyakit CVPD dengan melakukan pemangkasan atau membongkar, lalu mengganti dengan benih baru bebas penyakit yang diikuti oleh pengendalian vektornya. Jika tanaman jeruk yang terserang penyakit CVPD sudah dibongkar dan diganti dengan benih baru lebel biru, maka kita harus mengendalian vektor CVPD yaitu serangga Diaphorina citri. Pengendalian vektor CVPD ini dilakukan pada saat tanaman bertunas, cara yang efektif dilakukan dengan penyaputan batang dengan menggunakan insektisida sistemik Covidor yang berbahan aktif imadakloprid 2 kali setiap 4 minggu, dan penyemprotan insektisida kontak 2 kali berselang. Agar kebun kita dan milik tetangga ingin terbebas dari penyakit CVPD, maka seluruh anggota kelompok tani di kawasan agribisnis jeruk harus secara serentak menerapkan pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat (PTKJS). Kelompok tani merupakan unit terkecil yang paling ampuh untuk mengendalikan penyakit CVPD karena antar anggota saling mengingatkan. Kelompok tani yang tangguh akan dapat mengendalikan serangan penyakit CVPD dengan mudah. Sumber : Balai Penelitian Tanaman Jeruk Dan Buah SubTrofika (Balitjestro) Penulis : Edwin Hediansyah, SP