Wereng, terutama Wereng Batang Coklat (WBC) (Nilaparvata lugens), adalah salah satu hama paling merusak dan ditakuti oleh petani padi di Indonesia. Serangan wereng yang parah dapat menyebabkan fenomena hopperburn, yaitu kondisi di mana tanaman mengering, menguning, dan mati total, yang berujung pada gagal panen (puso).
Pengendalian wereng tidak bisa hanya mengandalkan satu metode, melainkan harus dilakukan secara terpadu melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Berikut adalah strategi komprehensif untuk mencegah dan mengatasi serangan wereng pada padi.
1. Pencegahan (Tindakan Preventif)
Pencegahan adalah kunci utama untuk menghindari ledakan populasi wereng.
A. Penggunaan Varietas Tahan dan Pergiliran Varietas
Varietas Tahan: Tanam varietas unggul baru (VUB) yang memiliki gen ketahanan terhadap biotipe wereng yang umum di lokasi tersebut, seperti varietas Inpari tertentu (misalnya Inpari 13, 18, 19, 31, 33) atau varietas lain yang direkomendasikan. Pergiliran Varietas: Lakukan pergiliran varietas setiap musim tanam. Penanaman varietas yang sama secara terus-menerus akan memicu wereng untuk beradaptasi dan membentuk biotipe baru yang resisten, menyebabkan kegagalan ketahanan varietas.
B. Pola Tanam dan Budidaya Sehat
Tanam Serempak: Lakukan penanaman padi secara serentak dalam satu wilayah (minimal satu hamparan subak/desa). Hal ini memutus siklus hidup wereng dan mengurangi penyebarannya. Pergiliran Tanaman: Hindari pola tanam padi-padi-padi. Lakukan pergiliran dengan tanaman non-padi (palawija) sekali dalam setahun untuk memutus inang dan rantai makanan wereng. Manajemen Air: Lakukan pengeringan sementara (intermittent irrigation) pada sawah. Lahan yang terlalu lembap dan tergenang terus-menerus sangat mendukung perkembangan wereng. Pupuk Seimbang: Hindari penggunaan pupuk Nitrogen (N) dosis tinggi secara berlebihan, karena pupuk N tinggi cenderung membuat tanaman lebih "empuk" dan menarik bagi wereng.
2. Pengamatan Dini dan Intervensi Tepat Waktu
Pengamatan rutin (setiap 1-2 minggu) sangat penting untuk menentukan ambang ekonomi dan kapan harus bertindak. Lampu Perangkap: Pemasangan lampu perangkap dapat digunakan untuk memantau migrasi wereng dewasa (imago). Hasil tangkapan membantu memprediksi puncak kedatangan wereng generasi nol (G0) dan waktu munculnya wereng generasi berikutnya (G1 dan G2) yang harus segera dikendalikan. Fokus Batang Bawah: Wereng, baik nimfa maupun dewasa, biasanya menetap dan mengisap cairan pada pangkal batang padi. Pengamatan harus difokuskan di area tersebut.
3. Pengendalian Biologi dan Ekologi
Memanfaatkan alam untuk melawan hama adalah pilar PHT yang ramah lingkungan. Musuh Alami: Jaga kelestarian predator wereng, seperti laba-laba, kumbang koksi, capung, dan jamur patogen serangga. Gunakan insektisida yang selektif dan hindari penggunaan yang membunuh musuh alami. Mina Padi: Sistem mina padi (menggabungkan padi dengan budidaya ikan, seperti nila) dapat membantu menekan populasi wereng. Wereng yang tercebur ke air dapat menjadi santapan ikan. Pestisida Nabati: Gunakan pestisida alami berbahan dasar tumbuhan seperti daun sirsak, tembakau, atau bawang putih, yang dapat berfungsi sebagai racun kontak, racun perut, atau penolak (repellent).
4. Pengendalian Kimiawi (Pestisida)
Penggunaan insektisida kimia adalah jalan terakhir (last resort) ketika populasi wereng telah mencapai ambang ekonomi dan metode lain gagal. Pilih Bahan Aktif Tepat: Gunakan insektisida yang spesifik untuk hama penghisap, seperti yang mengandung bahan aktif pymetrozine, dinotefuran, atau buprofezin. Buprofezin, misalnya, bekerja sebagai penghambat pertumbuhan kulit (kitin) pada nimfa wereng.
Aplikasi Tepat Sasaran: Insektisida harus diarahkan tepat pada pangkal batang padi, karena di situlah wereng berkumpul. Gunakan nozel semprot yang menghasilkan butiran halus (fogging) agar dapat menjangkau sela-sela batang.
Rotasi Insektisida: Jangan gunakan satu jenis insektisida terus-menerus. Lakukan pergiliran (rotasi) bahan aktif untuk mencegah wereng menjadi resisten.
Waktu Aplikasi: Waktu yang paling rentan bagi wereng adalah saat baru menetas. Pengendalian harus selesai sebelum wereng mencapai generasi ke-2 (G2), karena populasi pada generasi ini seringkali menyebabkan hopperburn masif.
Dengan menerapkan strategi pengendalian terpadu dan disiplin dalam pengamatan, petani dapat meminimalkan risiko serangan wereng, melindungi hasil panen, dan menjaga keberlanjutan ekosistem sawah.