Perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari dan memberikan dampak terhadap berbagai segi kehidupan, salah satunya adalah di sektor pertanian. Berdasarkan hasil kajian Program Kajian Ekonomi dan Lingkungan Asia Tenggara (EEPSEA, 2006), Indonesia memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap perubahan iklim dibandingkan dengan Negara lainnya di Asia Tenggara,. Selain sebagai Negara kepulauan, hal ini juga terkait dengan faktor biofisik wilayah, system/pola usahatani dan social-ekonomi dengan tingkat kelenturan yang rendah. Pemilihan wilayah Indonesia berdasarkan tingkat indikasi kerentanannya, dimana sebagian besar wilayah pantai berat Sumatera, selatan dan utara Jawa, sebagian wilayah dan Papua bagian utara, hamper seluruh Maluku termasuk ke dalam katagori wilayah dengan tingkat indikasi tinggi (UN_OCHA 2006) Selaras dengan indikasi tingkat kerentanan dan kelenturan sumberdaya dan system pertanian menghadapi perubahan iklim, menurut hasil kajian Yusup dan Fransisco (2008), daya adaptasi Indonesia menghadapi perubahan iklim juga diindikasikan relatif rendah. Dalam perubahan iklim yang terjadi beberapa tahun-tahun ini membuat banyak perubahan cara pola hidup mahluk di dunia khusus yang dalam usaha tani, pengaruh besar yang di alami pertanian adalah perlunya banyak perbaikan cara sistem usaha tani yang dapat tahan terhadap perubahan iklim yang terjadi salah satu yaitu pemilihan bibit dengan varietas yang unggul juga tahan terhadap perubahan iklim tersebut. Dengan terjadinya perubahan iklim seperti yang jelaskan di atas misalnya iklim ekstrim kering ataupun ekstrim basah, maka untuk tetap mendapatkan produksi jagung yang baik salah satu jalan yang di lakukan adalah menanam jagung lebih awal dari yang biasa. Lebih awal menanam jagung tentunya diperlukan pengolahan tanah lebih awal atau bekas tanaman padi yang sudah disabit tidak usah diolah tetapi langsung ditanam biji jagung, pada saat pemeliharaan dilakukan pemeliharaan yang baik, misalnya pembumbunan pohon jagung dan lain-lain. Selain itu dapat dilakukan dengan penanaman jagung lebih awal untuk mengantisipasi perubahan iklim sekaligus menanam variets jagung yang umurnya lebih pendek sehingga waktu pemeliharaan dan tibanya panen lebih pendek pula dilakukan petani. Maka disarankan para petani yang menanam jagung dalam mengantisipasi perubahan iklim, menanam jagung lebih awal dan menggunakan varietas yang lebih pendek umurnya misalnya varietas P 28, secara rinci diuraiakan di bawah ini ; Deskripsi Jagung Hibrida Varietas P28 Asal : FX6A242/MX6A242 dan MX6A242 merupakan galur murni tropis yang dikembangkan oleh Piooner Hi-Bred Thailand, Inc. Golongan : Hibrida silang tunggal (single cross) Umur : Dataran rendah 50 % keluar rambut ± 53 hari setelah tanam Masak fisiologis ± 113 hari setelah tanam Dataran tinggi 50 % keluar rambut ± 60 hari setelah tanam Masak fiiologis ± 120 hari setelah tanam Tinggi tanaman : Dataran rendah ± 251 cm Dataran tinggi ± 230 cm Keseragaman tanaman : Sangat seragam Batang : Kokoh Warna Batang : Hijau tua pada bagian bawah Kerebahan : Tahan rebah Warna daun : Hijau tua Bentuk malai : Tegak dan melambai, sedikit bercabang Warna malai (anther) : Ungu kemerahan Warna sekam : Kuning Warna rambut : Kunig kemerahan Perakaran : Sangat baik Bentuk tongkol : Kerucut Kedudukan tongkol : Dipertengahan tanaman, dekat dengan batang Kelobot : Menutup dengan baik dan rapat Baris Biji : Lurus dan rapat Jumlah baris biji per tongkol : ± 14 baris Warna biji : Oranye tua Tipe Biji : Mutiara Berat 1000 butir (KA 15%) : ± 321,6 gram Rata - rata hasil : 8,1 ton / ha pipilan kering Potensi hasil : 11,1 ton / ha pipilan kering Kandungan karbohidrat : ± 64,1 % Kandungan protein : ± 7,0 % Kandungan lemak : ± 4,4 % Ketahanan terhadap hama Dan penyakit : Tahan terhadap penyakit busuk tongkol Gibberella, agak tahan terhadap penyakit busuk tongkol Diplodia, memiliki ketahanan sedang terhadap penyakit bercak daun kelabu (Grey Leaf Spot) dan hawar daun Northern Leaf Blight. Keterangan : Cocok dtanam di daerah dataran rendah dengan ketinggian < 300 m dpl dan beradaptasi baik di lahan marginal. Pemulia : Emmanuel Serrano dan Febri Hendrayana. Pengusul : PT. DuPont Indonesia Oleh ; Dr. Ibrahim Saragih / Penyuluh Pertanian Sumber : - Kementan, Kenali dan Pahami Perubahan Iklim, 2010, Jakarta - SK Menteri Pertanian No 1227/ kpts/ SR.120/3/2010