Loading...

PENANAMAN PADI SAWAH SISTEM JAJAR LEGOWO

PENANAMAN PADI SAWAH SISTEM JAJAR LEGOWO

PENANAMAN PADI SAWAH SISTEM JAJAR LEGOWO

I.     PENDAHULUAN

Salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha tani padi adalah dengan menerapkan sistem produksi yang murah, ramah lingkungan, serta mudah diaplikasikan oleh petani. Salah satu alternatif teknologi yang direkomendasikan adalah sistem tanam jajar legowo.

Sistem tanam jajar legowo merupakan pola tanam dengan susunan berselang-seling antara dua atau lebih barisan tanaman padi dengan satu barisan kosong. Pola ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah tanaman pinggir sehingga tanaman memperoleh cahaya matahari, udara, dan unsur hara secara lebih optimal.

Istilah legowo berasal dari bahasa Jawa, yaitu kata “lego” yang berarti luas dan “dowo” yang berarti memanjang. Dengan demikian, sistem jajar legowo menciptakan ruang tanam yang lebih luas dan memanjang di antara barisan tanaman padi.

 

II. JENIS-JENIS SISTEM JAJAR LEGOWO

Legowo 2:1

·         Pola tanam: 2 baris tanaman + 1 baris kosong

·         Cocok untuk sistem intensifikasi

·         Potensi hasil lebih tinggi

·         Membutuhkan ketelitian dan tenaga kerja lebih banyak

Legowo 4:1

·         Pola tanam: 4 baris tanaman + 1 baris kosong

·         Lebih mudah diterapkan oleh petani

·         Tetap memberikan peningkatan produksi dibanding sistem tegel

III. MANFAAT SISTEM JAJAR LEGOWO

Penerapan sistem tanam jajar legowo memberikan berbagai keuntungan, antara lain:

  • Dapat meningkatkan produksi padi sebesar 12–22% dibandingkan sistem tanam tegel.
  • Menyediakan lorong tanam yang luas sehingga dapat dimanfaatkan untuk efisiensi pemeliharaan dan menutup sebagian biaya usaha tani.
  • Tanaman padi yang berada di barisan pinggir menghasilkan produksi 1,5–2 kali lebih tinggi dibandingkan tanaman yang berada di bagian tengah.
  • Pada sistem jajar legowo 4:1, sekitar 50% tanaman berada di posisi pinggir, sehingga memperoleh manfaat border effect.
  • Jumlah rumpun padi meningkat hingga ±33% per hektar.
  • Memudahkan kegiatan pemeliharaan tanaman seperti penyiangan, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit.

PENULIS: NIMROD ARRUAN BANGA, S.P