Ubi jalar (Ipomea batatas) merupakan makanan pokok orang asli papua (OAP) yang biasa dikenal dengan sebutan hipere. Hipere banyak dibudidayakan terutama di daerah pegunungan Jayawijaya dan Yahukimo yang berada pada ketinggian diatas 1.650 meter di atas permukaan laut. Budidaya ubi jalar sudah dilakukan secara turun temurun oleh OAP dengan pembagian kerja antara kaum laki-laki dan kaum perempuan sangat jelas. Kegiatan budidaya ubi jalar dilakukan secara tradisional dan dimulai dari pembukaan lahan hingga lahan siap tanam dilakukan oleh kaum laki-laki, sementara pemilihan bibit/stek, penanaman sampai panen serta pemasaran dilakukan oleh kaum perempuan. Pembagian kerja dalam pengelolaan usahatani ubi jalar Kegiatan pengelolaan usahatani ubi jalar yang dilakukan oleh OAP lebih banyak dilakukan oleh kaum perempuan. Biasanya kaum laki-laki hanya bertugas membuka kebun, membuat pagar, mengolah tanah, dan membuat saluran air. Pekerjaan kaum perempuan meliputi penyiapan setek, penanaman, penyiangan, panen, menjual dan memasak/pengolahan hasil. Kaum perempuan memiliki kearifan lokal yang perlu dipertahan dalam hal pengelolaan usahatani ubi jalar yaitu pengetahuan kaum perempuan yang memiliki kemampuan untuk membedakan jenis ubi jalar atau kultivar sesuai kegunaannya yang akan ditanam dengan mempertimbangkan jumlah anggota keluarga dan ternak babi yang dipelihara. Pengolahan tanah dan penanaman ubi jalar Masyarakat yang tergolong OAP sangat terampil dalam mempraktikkan teknik budidaya intensif tanaman ubi jalar. Pengolahan tanah, membuat saluran air, dan pembuatan lahan terasering di lereng gunung serta penggunaan pupuk hijau dan kotoran hewan sudah menjadi budayanya. Prinsip-prinsip LEISA (low external input suistenable agriculture), dengan tidak menggunakan pupuk an organik seperti merek dagang Urea, SP-36 dan KCl dan tidak menggunakan pestisida untuk mengendalikan hama penyakit sudah diterapkan secara turun temurun. Di dukung dengan Kebijakan Pemerintah daerah Kabupaten Jayawijaya tentang pelarangan penggunaan pupuk an organik dan pestisida menjadikan daerah Jayawijaya sebagai kawasan “organik”. Peralatan yang digunakan dalam budidaya ubi jalar sangat sederhana dan umumnya berupa kapak batu untuk menebang pohon serta tongkat kayu yang berujung runcing terbuat dari besi biasanya dikenal dengan “sege” digunakan untuk membuat lubang tanam. Pada umumnya kaum pria mengolah lahan tidak menggunakan cangkul, namun menggunakan peralatan skop, parang, garpu dan linggis, Teknik Penanaman Berbagai teknik budidaya ubi jalar yang dilakukan oleh OAP seperti menanam ubi jalar secara monokultur, diantaranya wen hipere yaitu penanaman ubi jalar pada kebun yang terletak di lembah dengan parit-parit yang lebar dan dalam atau dengan wen yawu yaitu penanaman ubi jalar pada kebun yang terletak di lereng gunung dengan parit-parit kecil dan letak bedeng saling bersilangan untuk mengurangi erosi, serta melakukan penanaman berbagai jenis ubi jalar. Ubi jalar biasanya ditanam pada tumpukan-tumpukan tanah berbentuk guludan tunggal yang lebih dikenal dengan cuming, dan di atas cuming ditanam satu stek batang ubijalar dengan cara melipat dua agar tumbuhnya banyak, jadi kalau ada satu yang mati, masih ada yang lain. Cara tanam ini tidak pernah diajarkan di bangku sekolah melainkan diturunkan secara turun temurun. Varietas Varietas ubi jalar di daerah pegunungan Jayawijaya dan Yahukimo cukup banyak, ada sekitar 224 varietas ubi jalar. Varietas yang ditanam petani pada umumnya adalah varietas lokal (helaleke, yeleli, atau musaneken). Selain varietas lokal yang dikenal oleh petani, Pemerintah juga telah memperkenalkan varietas unggul yang sudah diadopsi oleh petani seperti varietas Papua Salossa, Papua Patippi, Cilembu dan Cangkuang. Varietas unggul Papua Salossa mampu ber produksi hingga 24 t/ha, Varietas Papua Pattipi dapat menghasilkan produksi hingga mencapai 25 t/ha dan Varietas Sawentar dengan produksi rata-rata 23 t/ha. Panen Saat panen yang tepat untuk ubi jalar dicirikan dengan kondisi tanah yang retak. Kondisi tanah yang sudah retak mencirikan bahwa umbi di dalam gundukan sudah cukup besar dan dapat dipanen. Ubi jalar dipanen secara bertahap, setiap panen diambil umbi yang besar saja sekitar 2-3 buah, dan gundukan ditutup kembali. Panen umumnya dilakukan oleh kaum perempuan. Dengan menggunakan linggis atau kayu untuk mencari ubi yang siap panen di dalam tumpukan tanah. Setelah menemukan ubi jalar yang siap di panen, tanah dibuka untuk mengambil ubi tersebut. Setelah ubi dikeluarkan dari tanah lalu tanah ditimbun kembali. Cara ini merupakan salah satu penyimpanan ubi jalar segar untuk ketahanan pangan keluarga. Selanjutnya ubi-ubi tersebut dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam noken, yaitu semacam tas khas lokal yang digantungkan dikepala. Umumnya kaum perempuan akan membawa ubi jalar dalam noken tersebut ke rumah untuk di makan anggota keluarga dan sebagian untuk di jual ke pasar lokal. Beberapa kearifan lokal untuk menjaga kelestarian dalam membudidayakan ubi jalar OAP diantaranya : 1) Ubi jalar yang ditanam pada lahan searah kontur akan menyebabkan air tertahan pada bedengan yang menyebabkan ubi jalar kurang manis dan rasanya tidak disukai. 2) Ubi jalar yang ditanam pada lahan tegak lurus kontur memiliki rasa yang lebih manis dibandingkan ubi jalar yang ditanam pada lahan searah kontur. 3) Wen hipere merupakan kebun ubi jalar yang terletak di lembah dengan parit-parit yang lebar dan dalam, dimana ubi jalar ditanam secara monokultur. 4) Wen yawu adalah kebun ubi jalar yang terletak di lereng gunung dengan parit-parit kecil dan letak bedeng saling bersilangan untuk mengurangi erosi, dengan melakukan penanaman berbagai jenis ubi jalar. 5) Kaum perempuan memiliki kearifan lokal yang perlu dipertahan yaitu pengetahuan kaum perempuan yang luas berkaitan dengan ubi jalar. Mereka memiliki kemampuan untuk membedakan jenis ubi jalar atau kultivar sesuai kegunaannya yang akan ditanam dengan mempertimbangkan jumlah anggota keluarga dan ternak babi yang dipelihara. Sumber : Pengalaman penulis sejak menjadi Penyuluh Pertanian Spesialis (PPS) di Papua (tahun 1985 sampai 1996), dan dari berbagai sumber tulisan yang berasal dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua 2022. Sumber Gambar : Dokumen Pribadi