TEKNIK PEMASANGAN MULSA PLASTIK DAN MANFAATNYA
A. LATAR BELAKANG
Sektor pertanian di Kecamatan Sampara memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan dan peningkatan pendapatan masyarakat. Sebagian besar petani di wilayah ini mengusahakan tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, terong, mentimun, dan sayuran lainnya. Namun demikian, dalam pelaksanaannya petani masih menghadapi berbagai kendala, antara lain tingginya pertumbuhan gulma, keterbatasan air pada musim kemarau, tingginya serangan penyakit tular tanah, serta meningkatnya biaya tenaga kerja untuk penyiangan dan perawatan tanaman.
Seiring dengan perkembangan teknologi budidaya pertanian, penggunaan mulsa plastik perak–hitam merupakan salah satu inovasi sederhana yang dapat diterapkan oleh petani. Mulsa plastik berfungsi menutup permukaan tanah sehingga mampu menekan pertumbuhan gulma, menjaga kelembapan tanah, menstabilkan suhu tanah, serta meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman.
Berdasarkan kondisi agroekosistem Kecamatan Sampara yang memiliki curah hujan relatif tinggi pada musim hujan dan periode kemarau yang cukup panjang, penggunaan mulsa plastik sangat relevan untuk diterapkan. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan penyuluhan kepada petani agar memahami teknik pemasangan mulsa plastik yang benar serta manfaatnya bagi peningkatan produksi dan efisiensi usaha tani.
B. POTENSI PENERAPAN MULSA PLASTIK DI KECAMATAN SAMPARA
1. Potensi Sumber Daya Lahan
Kecamatan Sampara memiliki lahan pertanian yang cukup luas dengan struktur tanah yang relatif mudah diolah. Kondisi ini mendukung pembuatan bedengan sebagai prasyarat utama penggunaan mulsa plastik. Penggunaan mulsa juga berpotensi mengurangi erosi dan kerusakan tanah akibat curah hujan tinggi.
2. Potensi Komoditas Hortikultura
Komoditas unggulan yang banyak diusahakan petani, seperti cabai, tomat, terong, dan mentimun, sangat responsif terhadap penggunaan mulsa plastik. Penerapan mulsa plastik pada komoditas tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, mempercepat waktu panen, serta menghasilkan buah yang lebih bersih dan berkualitas.
3. Potensi Pengendalian Gulma
Pertumbuhan gulma di Kecamatan Sampara tergolong cepat akibat kondisi tanah yang subur dan kelembapan yang tinggi. Mulsa plastik mampu menekan pertumbuhan gulma hingga sebagian besar permukaan bedengan tertutup, sehingga dapat mengurangi frekuensi dan biaya penyiangan.
4. Potensi Efisiensi Air
Pada musim kemarau, ketersediaan air menjadi salah satu kendala utama dalam budidaya tanaman. Mulsa plastik berperan dalam mengurangi penguapan air dari permukaan tanah, sehingga kelembapan tanah dapat dipertahankan lebih lama dan kebutuhan penyiraman menjadi lebih efisien.
5. Potensi Peningkatan Produksi dan Pendapatan
Dengan penerapan mulsa plastik yang dikombinasikan dengan pemupukan yang tepat, petani berpotensi meningkatkan hasil panen sebesar 20–40 persen. Selain itu, kualitas hasil panen yang lebih baik akan meningkatkan nilai jual dan pendapatan petani.
6. Potensi Integrasi dengan Pupuk Organik Lokal
Ketersediaan pupuk organik, seperti pupuk kandang ayam dan bokashi, cukup melimpah di Kecamatan Sampara. Penggunaan pupuk organik yang dikombinasikan dengan mulsa plastik dapat meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
C. KESIMPULAN
Penggunaan mulsa plastik perak–hitam merupakan teknologi budidaya yang sederhana, efektif, dan sangat potensial untuk diterapkan di Kecamatan Sampara. Penerapan teknik pemasangan mulsa plastik yang benar mampu menekan pertumbuhan gulma, menjaga kelembapan dan suhu tanah, mengurangi serangan penyakit tular tanah, serta meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman hortikultura.
Dengan memanfaatkan potensi sumber daya lahan, komoditas unggulan, serta ketersediaan pupuk organik lokal, penggunaan mulsa plastik diharapkan dapat meningkatkan efisiensi usaha tani dan pendapatan petani. Melalui kegiatan penyuluhan ini, diharapkan petani Kecamatan Sampara dapat memahami dan menerapkan teknologi mulsa plastik secara tepat dan berkelanjutan guna mendukung pembangunan pertanian yang maju, mandiri, dan berdaya saing.
Penulis
Penyuluh Pertanian BPP Sampara