Hama ganjur telah menyerang tanaman padi sawah petani di Kecamatan lebong Utara Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu. Lokasi desa/kelurahan di Kecamatan Lebong Utara sebagian besar merupakan hamparan, lereng dan puncak dengan yang terletak di luar kawasan hutan dan di tepi kawasan hutan. Berdasarkan ketinggian, Kecamatan Lebong Utara berada pada ketinggian 300 – 625 meter diatas permukaan laut (dpl). Suhu di wilayah ini berkisar antara 180C- 310C dengan kelembaban mencapai 60 – 100%. Wilayah ini memiliki tingkat keasaman tanah (pH tanah) sebesar 4,5 – 7,5 dengan jenis tanah pedsolik Merah Kuning (PMK). Kecamatan Lebong Utara dilewati sungai besar yang dikenal dengan nama Air Kotok dan Air Amen, yang kemudian bermuara ke Sungai Air Ketahun di Desa Tunggang. Pada Musim Tanam I (MT I), sebagian besar petani melaksanakan penanaman padi sawah pada akhir bulan januari sampai akhir bulan februari. Pada waktu tanam tersebut intensitas curah hujan dan hari hujan cukup tinggi. Dengan kondisi seperti ini wilayah ini cukup endemis untuk perkembangan hama ganjur. Serangan hama ganjur atau yang lebih dikenal oleh petani setempat dengan nama poysuling telah menyerang tanaman padi sawah walaupun tidak berdampak besar secara ekonomi tetapi dikhawatirkan jika hama ganjur ini tidak dikendalikan akan mengakibatkan terjadinya fuso. Hal ini disebabkan karena hama ini menyerang titik tumbuh padi sehingga tunas yang diserang akan membentuk puru. Puru ini menyebabkan malai tanaman padi tidak terbentuk sehingga menimbulkan fuso. Ngengat hidup dengan menghisap embun yang terdapat pada permukaan daun. Nisbah kelamin jantan/betina adalah 4:1, betina hanya kawin sekali. Serangga ganjur hanya menyerang tanaman pada fase vegetatif, akibat serangan daun menjadi puru (pentil) dan tidak menghasilkan malai. Pada awal musim hujan ini para petani sebaiknya waspada adanya serangan hama ganjur karena biasanya serangga dewasa muncul pada awal musim hujan, sebelum berkembang biak pada tanaman padi serangga ganjur sudah melalui 1 atau 2 generasi pada rerumputan, satu musim dapat mencapai 3-4 generasi. Gejala khas ganjur adalah tunas padi yang tumbuh menjadi bentuk pentil atau daun bawang, dengan panjang bervariasi, 15-20 cm. Anakan yang terserang ganjur tidak mampu menghasilkan malai. Larva serangga ganjur memakan tanaman padi pada titik tumbuh yang menyebabkan daun tumbuh berbentuk gulungan seperti daun bawang (puru/pentil). Pada titik tumbuh inilah larva makan dan berlindung sehingga titik tumbuh rusak. Timbulnya puru diduga disebabkan oleh senyawa kimia yang dihasilkan oleh larva pada saat memakan titik tumbuh. Puru mulai tampak 3-7 hari setelah larva mencapai titik tumbuh, puru yang telah berkembang sempurna berdiameter 1-2 mm dan panjang 10 - 30 mm. Perkembangan optimum terjadi pada kelembaban nisbi 80% suhu antara 25 - 300C, cuaca mendung dan hujan gerimis. Serangan berat terjadi pada musim hujan terutama untuk tanaman yang terlambat tanam, umumnya dijumpai didaerah sawah irigasi maupun tadah hujan. Serangan hama ganjur dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor iklim, cara bercocok tanam, varietas, keberadaan musuh alami, dan penggunaan insektisida. Namun, cara pengendalian yang dapat diterapkan pada spesifik lokasi wilayah Kecamatan Lebong Utara saat ini adalah pengendalian secara budidaya dan pengendalian secara kimiawi. Hal ini dikarenakan keberadaan musuh alami di wilayah ini jarang dijumpai. Sementara untuk varietas tahan hama ganjur untuk saat ini susah didapatkan (langka). Pengendalian secara budidaya Pengendalian Utama dengan mengatur waktu tanam lebih awal sehingga pada saat kelembaban tinggi tanaman sudah masuk fase generatif. Penggunaan pupuk Nitrogen (N) dengan dosis yang sedang sesuai kebutuhan tanaman padi Pengaturan jarak tanam supaya tidak terlalu rapat seperti jarak tanam padi sawah 25 x 30 cm dengan jumlah bibit 2-3 bibit Untuk mengurangi serangan hama ganjur, lahan sawah dilakukan pengeringan sekali-kali Penyiangan serta membuang inang alternatif dapat menekan perkembangan hama ganjur Alternatif pengendalian hama ganjur yang lain adalah dengan lampu perangkap. Hama ganjur dewasa tertarik terhadap cahaya, oleh karena itu pasang lampu perangkap untuk menangkap ganjur dewasa. Pengendalian secara kimiawi Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan insektisida yang spesifik terhadap hama sasaran dengan waktu aplikasi dan dosis yang tepat. Karna larva ganjur berada dalam tunas padi maka penggunaan insektisida sistemik berbahan aktif fipronil atau dimehipo. Bisa juga gunakan insektisida granular yang berbahan aktif karbofuran dengan cara disebarkan’ Ditulis oleh : Fretty Anggreani W penyuluh pertanian BP3 Tunggang Kab. Lebong Sumber : Maspary, 2012. Mengendalikan Hama Ganjur (Pentil). http://www.gerbangpertanian.com/2012/12/mengendalikan-hama-ganjur-pentil.html