PENDAHULUAN Virus kuning gemini tergolong dalam keluarga Geminiviridae. Partikel virus berukuran kecil (20 nm), berbentuk isometrik dan materi genetiknya berupa DNA utas tunggal. Partikel ini muncul secara berpasangan atau kembar sebagai akibat fusi parsial dua partikel isometrik. Virus ditemukan di dataran rendah dari 100 m dpl hingga dataran tinggi di atas 1000 m dpl (pada pertanaman cabai lahan pantai belum ditemukan infeksi virus). Virus dapat menyerang berbagai umur tanaman. Virus menyerang berbagai varietas cabai. Kehilangan hasil 20 – 100%. Virus kuning gemini ditularkan oleh kutukebul Bemisia tabaci Genn. Gejala yang ditimbulkan oleh isolat virus gemini berbedabeda, tergantung pada genus dan spesies tanaman yang terinfeksi. Gejala pada Capsicum annuum var. Jatilaba berupa klorosis pada anak tulang daun dan ukuran daun mengecil. Penularan oleh serangga vektor kutukebul sangat dipengaruhi oleh lamanya masa akuisisi serangga pada tanaman sakit, jumlah serangga dan lamanya periode inokulasi yang terjadi pada tanaman sehat. Kutukebul menularkan virus kuning secara persisten (tetap) artinya sekali kutukebul makan tanaman yang mengandung virus kuning, maka selama hidupnya dapat menularkan virus kuning. Periode makan akuisisi (makan tanaman sakit untuk memperoleh virus) selama 48 jam dapat menghasilkan tingkat penularan yang paling efisien. TEKNIK PENGENDALIAN VIRUS KUNING PADA TANAMAN SAYURAN 1. Penggunaan varietas tahan/toleran Penggunaan varietas tahan/toleran bertujuan untuk menghindari serangan yang lebih parah. Beberapa varietas cabai merah diketahui toleran terhadap penyakit virus kuning antara lain adalah C. annum (Tit Super, CK Sumatera, TM 99 dan Lembang– 1) dan C. frutescens (Bara dan Rawit Thailand). Sedangkan varietas tomat yang tahan terhadap penyakit virus kuning adalah varietas Martha 2. Penggunaan benih berkualitas Penggunaan benih berkualitas bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit yang terbawa benih. Langkah yang perlu dilakukan untuk eradikasi virus dalam benih dengan cara merendam benih selama 1-2 jam dalam Na3PO4 10%, kemudian mencucinya dengan air mengalir atau membilasnya sebanyak 4 kali, lalu merendamnya dalam HCl 0,8% selama 20 menit, dan akhirnya mencuci air bersih benih sebanyak 3 kali. Eradikasi bakteri dalam benih dapat dilakukan dengan merendamnya dalam agrept 1% selama 5-10 menit. Eradikasi cendawan dalam benih dilakukan dengan cara merendam benih dalam Ca(ClO)2 0,5% selama 15 menit atau merendam benih dalam air panas ± 50°C selama 30 menit atau dalam fungisida dari golongan sistemik (seperti Triazole atau Pyrimidin 0.05 – 0.1 %) selama kurang lebih satu jam. 3. Penggunaan persemaian yang benar Penggunaan persemaian yang benar dilakukan untuk mengurangi kontaminan dan dapat dilakukan untuk membuat media dengan aerasi baik (karena tanah gembur dan remah memudahkan akar tumbuh dengan baik). Selain itu langkah yang harus dilakukan adalah mengisolasi tanaman di persemaian agar vektor kutukebul dan serangga lain tidak hinggap dan makan pada semaian cabai (karena masa pesemaian merupakan masa paling rentan untuk terjadinya infeksi virus). Media persemaian terdiri atas pupuk kandang matang dan tanah dari bagian subsoil (perbandingan 1:1). Campuran tersebut diaduk secara merata, kemudian disaring lalu dikukus selama 6 jam. Setelah dingin campuran tersebut digunakan sebagai media persemaian. Isolasi tanaman dapat dilakukan dengan perlindungan fisik yaitu menutup persemaian sejak benih disebar mengunakan nylon, katun atau kawat dengan kerapatan 50 mesh/cm2 , dan usahakan sinar matahari masih dapat menembus penutup tersebut. Atur bentuk tutup sedemikian agar mudah diangkat atau dibuka pada waktu pemeliharaan. 4. Pengolahan tanah dan pemupukan berimbang Pengolahan tanah dan pemupukan berimbang bertujuan untuk menghilangkan atau memperkecil sumber infeksi dan memperbaiki tekstur tanah (aerasi baik). Waktu pengolahan tanah, bersihkan lahan dari gulma inang virus dan sisa-sisa tanaman sebelumnya. Gunakan pupuk kandang matang. Keseimbangan nutrisi (nitrogen, fosfor, dan kalium) dan dosis penggunaan pupuk yang tepat adalah penting untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan melindungi serangan OPT. 5. Penggunaan mulsa plastik hitam perak Penggunaan mulsa plastik hitam perak bertujuan untuk memantulkan sinar matahari, sehingga serangga hama tidak menyukai kondisi tersebut, selain itu mulsa digunakan untuk menghambat pertumbuhan gulma, dan dapat menyebabkan patogen tanah tidak aktif. Penggunaan mulsa plastik dapat menunda insiden penyakit virus lebih kurang 21 hari karena pengaruhnya yang dapat menekan gulma inang virus dan dapat menekan populasi vektor B. tabaci. 6. Penanaman tanaman penghadang (barrier) Penanaman tanaman penghadang bertujuan untuk menghalangi serangga vektor dan penyakit lain dari pertanaman lain agar tidak dapat masuk ke pertanaman cabai. Tanaman penghadang yang dapat digunakan adalah tanaman jagung yang ditanam 5-6 baris rapat (jarak tanam 15-20 cm) di sekeliling kebun 2-3 minggu sebelum tanam cabai. 7. Sanitasi dan pencabutan tanaman sakit Bertujuan untuk menghilangkan sumber infeksi dan dilakukan dengan cara selalu melakukan monitoring sampai tanaman berumur 35-40 hari. Tanaman yang menunjukkan gejala sakit dimusnahkan dan diganti dengan tanaman cabai yang sehat. Gulma yang merupakan inang virus juga dikumpulkan lalu dibakar. 8. tumpangsari Tumpangsari berbagai jenis tanaman Bertujuan untuk mengurangi/ mengurangi populasi kutukebul. Tumpangsari antara cabai merah dengan kubis atau cabai merah dengan tomat dapat menekan populasi kutukebul sebesar 25 – 60%. 9. Penggunaan perangkap kuning Perangkap kuning digunakan untuk memerangkap populasi kutukebul, dan dipasang sebanyak 40 perangkap/ha di tengahpertanaman cabai. Perangkap dipasang dengan ketinggian ± 30 cm. 10. Penggunaan predator M. sexmaculatus Predator M. sexmaculatus digunakan untuk mengurangi populasi kutukebul. Pelepasan predator M. sexmaculatus sebanyak 1 ekor/10 m2 atau 1 ekor/tanaman setiap dua minggu sekali dikombinasikan dengan insektisida Confidor 200 SL dapat menekan populasi kutukebul lebih dari 70%. 11. Penggunaan cendawan entomopatogen Cendawan entomopatogen dapat dimanfaatkan untuk mengurangi populasi kutukebul. Beberapa cendawan entomopatogen yang dikenal dapat digunakan untuk mengendalikan hama ini antara lain Verticillium lecanii, Paecilomyces fumosoroseus, Peacilomyces farinosus, Aschersonia aleyrodis, and Beauveria bassiana. 12.Pergiliran (rotasi) tanaman Pergiliran (rotasi) tanaman dilakukan untuk mengurangi sumber infeksi, menggunakan tanaman bukan inang virus terutama tanaman yang bukan anggota famili solanaceae (seperti tomat, cabai, kentang) dan cucurbitaceae (seperti mentimun). Pergiliran tanaman harus dilakukan dalam satu hamparan luas, dan serentak. 22 13. Penggunaan pestisida nabati Penggunaan insektisida nabati dilakukan untuk mengurangi residu pestisida pada produk sayuran dan lingkungan. Beberapa tanaman yang dapat digunakan sebagai insektisida nabati adalah tembakau, sirsak (5 %), yang nilai efikasinya dapat mencapai 83 – 100%. Pestisida nabati lainnya yang dapat digunakan adalah insektisida campuran Agonal (nimba, lengkuas dan serai wangi). Cara pembuatan agonal adalah sebagai berikut: Bahan : daun mimba (8 kg), lengkuas (6 kg), serai (6 kg), deterjen/sabun colek (20 kg) dan air (80 liter). Langkah pembuatan: • Daun mimba, lengkuas dan serai ditumbuk halus, dicampur dengan deterjen/sabun colek, lalu ditambahkan 20 liter air diaduk sampai merata. Kemudian direndam selama 24 jam. Setelah itu disaring dengan kain halus. • Larutan akhir diencerkan dengan 60 liter air. Larutan tersebut disemprotkan pada tanaman untuk luasan 1 hektar. 14. Penggunaan insektisida selektif Penggunaan insektisida selektif bertujuan agar efektif untuk hama target, sehingga pemakaiannya tidak berlebih dan tidak menimbulkan cemaran baik pada produk maupun lingkungan. Penyemprotan insektisida diusahakan mengenai permukaan daun bagian bawah dan perlu dihindari penggunaan insektisida secara berlebihan, karena dapat mendorong meningkatnya populasi kutukebul. Beberapa bahan aktif yang banyak digunakan dalam formulasi pestisida yang digunakan untuk mengendalikan kutukebul antara lain adalah diafentiuron 500 g/l, tiametoksam 25%, buprofezin 10%, imidakloprid 5%, imidakloprid 6%, amitraz 200g/l, asefat 75%, dan metidation 25% (Anonim, 2007). Menurut Moekasan dan Prabaningrum (2008). Actara dapat digunakan untuk mengendalikan kutukebul, yaitu pada persemaian menggunakan dosis 2 g/ 10 l dan diberikan dua minggu setelah bibit dibumbun. Untuk tanaman di lapangan, Actara diaplikasikan pada satu, dua, dan tiga minggu setelah tanam dengan dosis 4 g/10 l dengan cara mengecor 50 cc larutan tiap tanaman. Penyusun : Dede Rohayana (Penyuluh Pertanian BPTP Lampung) Referensi :Balai Penelitian Tanaman Sayuran Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hortikultura