Loading...

TEKNIK PERSEMAIAN PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH

TEKNIK PERSEMAIAN PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH
Bawang merah merupakan salah satu komoditas strategis Kementerian Pertanian yang harus dikembangkan melalui berbagai upaya diantaranya pemanfaatan lahan dan aplikasi inovasi teknologi spesifik lokasi. Melalui aplikasi inovasi teknologi hasil penelitian dan pengkajian (litkaji) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balibangtan) sangat baik dengan hasil optimal meskipun ditanam di luar musim dan di lahan marginal. Bawang merah merupakan kamomoditas penting yang dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan rumah tangga petani. Komoditas bawang merah di Lampung merupakan komoditas unggulan dari sektor hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi, salah satu wilayah pengembangannya di Kabupaten Tanggamus, dengan rata-rata produktivitasnya masih tergolong rendah yaitu 5,2 ton/ha. Peningkatan produktivitas tersebut masih bisa ditingkatkan apabila faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti tanah, iklim, teknologi produksi, permodalan dan tenaga kerja dikelola secara optimal (Thamrin, dkk, 2003). Hasil litkaji yang telah dilakukan oleh BPTP Lampung tentang perbaikan teknologi budidaya bawang merah di Desa Kuto Dalem Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus menunjukkan bahwa, dengan penerapan rekomendasi teknologi pemupukan sesuai anjuran produktivitas yang dihasilkan mencapai 24,86 ton/ha umbi kering, sedangkan teknologi yang biasa diterapkan petani hanya mencapai 14,421 ton/ha umbi kering (Mulyanti, 2015). Varietas yang digunakan untuk budidaya bawang merah yaitu benih lokal dan benih hibrida impor. Beberapa masalah yang dihadapi dalam budidaya bawang merah, antara lain adalah ketersediaan benih bermutu. Benih dalam budidaya bawang merah dapat berasal dari perbanyakan generatif (biji) dan vegetatif (umbi). Sebagian besar budidaya bawang merah di sentra menggunakan bahan tanam asal umbi. Namun penggunaan umbi sebagai bahan tanam membutuhkan jumlah yang besar yaitu sekitar sekitar 800-1200 kg benih. Permasalahan lain penggunaan umbi sebagai bahan tanam adalah umbi sangat rentan terhadap penyakit dan umbi yang terkena penyakit akan mengganggu tanaman lain. Penanaman bawang merah menggunakan biji yang dikenal dengan TSS (True Shallot Seeds) memiliki keunggulan terutama dari jumlah benih yang cukup menggunakan 2-3 kg benih/ha. TEKNIK PERSEMAIAN DI LAHAN/BEDENG SEMAI Berikut adalah tahapan dan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan persemaian di bedeng semai. Biji bawang merah berukuran kecil sehingga media semai yang digunakan harus remah agar biji dapat berkecambah dengan baik dan tumbuh normal serta sehat. Lahan yang telah dibajak dan dibuat bedengan dengan ukuran lebar sekitar 1 (satu) m dan panjang disesuaikan dengan lahan. Pada lahan yang teksturnya tidak remah, perlu ditaburi sekam dengan ketebalan 20 cm kemudian membuat titik api dengan jarak 1 (satu) meter kemudian dibakar. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi tanah yang bertekstur remah, meminimalisir pertumbuhan gulma dan serangan pathogen dalam tanah. Bedengan yang telah dicampur arang sekam dibuat larikan sepanjang lebar bedengan dengan jarak 10 cm. Sebelum disebar benih sebaiknya direndam terlebih dahulu dalam air hangat selama 3 jam, kemudian ditiriskan selama satu malam. Penaburan benih merata didalam larikan dengan kebutuhan benih 10-30 gram dalam 1 m2 atau sekitar 1-3 gram/larikan. Kemudian ditutup dengan campuran tanah yang remah. Setelah benih ditanam, sebaiknya bedengan ditutup dengan karung selama 3 hari untuk mempercepat perkecambahan. Upayakan kondisi lahan di bedeng persemaian tetap lembab atau tidak kering selama persemaian. Benih umumnya tumbuh merata setelah 5 hari semai. Gunakan tudung semai atau sungkup untuk melindungi persemaian dari curah hujan yang tinggi. Lakukan penyiangan (pencabutan gulma) agar pertumbuhan tanaman di persemaian tidak terganggu. Setelah benih berumur 3-4 minggu dilakukan pemupukan NPK yang dilarutkan ke dalam air dengan konsentrasi 2,0 gram/liter air. Benih siap pindah tanam setelah berumur 5-6 minggu atau 35 hari setelah semai. Apabila benih yang akan dipindahkan terlalu panjang, potong daun sehingga ukuran benih sekitar 25 cm. PERSEMAIAN DI RAK PERSEMAIAN Persemaian di rak memiliki keunggulan dalam hal kemudahan memonitoring persemaian karena umumnya dilakukan di halaman rumah. Berikut adalah tahapan dan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan persemaian di rak persemaian. Bangunan rak dibuat dari bambu dengan tinggi 1 m dan lebar 1 m, untuk panjang disesuaikan dengan lahan dan kemudahan dalam melakukan kontrol persemaian. Dasar rak dialasi dengan karung agar media semai tidak keluar dari rak. Rak persemaian dinaungi dengan plastik UV untuk menjaga kelembaban dan menaungi persemaian dari curah hujan yang tinggi. Taburkan secara merata media tanam yang remah pada rak persemaian dengan ketinggian sekitar 6-10 cm Sebelum disebar benih sebaiknya direndam terlebih dahulu dalam air hangat selama 3 jam, kemudian ditiriskan selama satu malam. Penaburan benih merata didalam larikan dengan kebutuhan benih 10-30 gram dalam 1 m2 atau sekitar 1-3 gram/larikan. Kemudian ditutup dengan campuran tanah yang remah. Setelah benih ditebar segera ditutup dengan arang sekam dan disiram air sampai basah kemudian ditutup rapat dengan plastik hitam sampai benih berkecambah (4-7) hari. Pemeliharaan persemaian dilakukan dengan penyiraman, penyiangan, serta pemberian pupuk cair bila kondisi tanaman di persemaian memerlukan unsur hara. Tanaman siap dipindah ke lahan setelah berumur 5-6 minggu atau 35 hari setelah semai. Sebelum pindah tanam, benih di persemaian sebaiknya dibawa ke lahan seminggu sebelumnya agar bibit bisa beradaptasi dengan lingkungan tempat tanam terlebih dahulu. Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh BPTP Lampung) Bahan Bacaan Mulyanti, N. 2015. Perbaikan Teknlogi Budidaya Bawang Merah di Lampung. Laporan Akhir Tahun. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung. Thamrin, M., Ramlan, Armiati, Ruchjaningsih dan Wahdania. 2003. Pengkajian Sistem Usahatani Bawang Merah di Sulawesi Selatan. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Vol. 6 (2) : 141 – 153. ________ Teknik pembibitan bawang merah menggunakan biji. Leaflet PT EWSI.