Loading...

TEKNIK PRODUKSI BENIH TANAMAN KOPI ARABIKA

TEKNIK PRODUKSI BENIH TANAMAN KOPI ARABIKA
Salah satu jenis kopi yang cukup banyak dikembangkan oleh masyarakat adalah kopi arabika yang dapat ditanam pada ketinggian lebih dari 800 meter dpl. Selain dari sisi teknis budidaya sala satu faktor penentu keberhasilan budidaya kopi adalah benih atau bibit yang akan ditanam. Kopi arabika bersifat menyerbuk sendiri (self pollination) sehingga bahan tanaman baru yang diperbanyak secara generatif dari biji akan menghasilkan pertanaman dengan sifat-sifat yang sama dengan pohon induknya. Benih kopi arabika yang diperbanyak harus berasal dari benih unggul yang sudah dilepas dan ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian. Beberapa varietas kopi arabika unggul yang dikembangkan antara lain: Kopi S 795 yang dilepas tahun 1995 dengan potensi produksi 1,0-1,5 ton/ha, agak tahan karat daun dan dapat beradaptasi di daerah dengan ketinggian tempat ≥ 700 m dpl, lahan sub optimal, Kopi Sigarar Utang yang dilepas tahun 2005 dengan potensi produksi 0,8-2,3 ton/ha, agak tahan karat daun dan dapat beradaptasi di aaerah dengan ketinggian tempat >1000 m dpl dengan tipe iklim A, B dan C, Kopi Gayo 1, yang dilepas tahun 2010 dengan potensi produksi 0,9-1,2 ton/ha, agak tahan karat daun dan nematode dan agak tahan PBKo, dapat beradaptasi di aaerah dengan ketinggian tempat >1000 m dpl dengan tipe iklim A, B dan C, Gayo 2 yang dilepas tahun 2010 dengan potensi produksi 0,9-1,1 ton/ha, agak tahan karat daun dan PBKo dan agak tahan nematode, dapat beradaptasi di daerah dengan ketinggian tempat >1000 m dpl dengan tipe iklim A, B dan C,dan Kopyol Bali yang dilepas tahun 2010 dengan potensi produksi 2,25-2,53 ton/ha, agak tahan karat daun dan PBKo dan agak tahan nematode, dapat beradaptasi di daerah dengan ketinggian tempat 900 m dpl dengan pola curah hujan merata sepanjang tahun. Syarat Mutu Benih Syarat mutu benih kopi harus viabilitas tinggi, daya kecambah tinggi, serta tidak terserang hama penggerek maupun jamur yang menyerang biji. Benih tersebut berumur kurang dari 6 bulan sesudah panen. Adapun standar mutu benih (biji) kopi yang harus diperhatikan adalah berasal dari kebun benih sumber bersertifikat/ ditetapkan oleh pejabat yang berwenang, Varietas/klon anjuran dengan kemurnian 100%, daya kecambah Minimal 80%, kadar air 35-45%, Kemurnian Fisik Biji >80%, serta bebas dari serangan OPT. Persiapan Persemaian Lokasi persemaian sebaiknya ditempatkan pada tempat yang relatif datar, drainase baik, mudah diawasi, dekat pembenihan dan bebas dari nematoda parasit serta cendawan akar kopi. Bedengan dibuat arah Utara-Selatan, dengan lebar 1 m dan panjang 10 m. Bedengan diberi atap/naungan berupa paranet, tinggi sebelah Barat 125 cm, dan sebelah Timur 180 cm. Tanah dalam bedengan dicangkul sedalam 30 cm kemudian diisi tanah yang sudah disaring. Bedengan ditinggikan ± 20 cm dengan diberi panahan dari bata merah agar tanah tidak longsor. Kemudian diberi lapisan pasir halus setebal 20 cm. Diatas lapisan tanah yang sudah disaring. Untuk mencegah serangan nematoda parasit, dilakukan fumigasi dengan fumigan yang dianjurkan, dengan cara ditutup plastik selama 7 hari kemudian plastik penutup dibuka dan bedengan dikering anginkan minimal selama 7 hari, setelah itu benih baru boleh disemaikan. Pelaksanaan Persemaian Benih Sebelum biji disemai, sebaiknya bedengan disiram air sampai jenuh selanjutnya buatlah pola jarak tanam menggunakan penggaris. Jarak tanam benih dalam baris diatur 2 cm, sedangkan antar baris 5 cm. Sebelum biji disemaikan dikupas kulit tanduknya secara manual dan direndam air selama 3 hari (setiap hari air diganti). Penyemaian benih dilakukan dengan cara membenamkan biji sedalam kurang lebih 0,5 cm; permukaan benih yang rata menghadap ke bawah. Setelah benih tertata di atas bedengan, di atasnya ditaburi potongan jerami atau alang-alang kering, agar terlindung dari sengatan matahari maupun curahan air siraman secara langsung. Metode lain dengan cara penyungkupan. Pemeliharaan di Pesemaian Pemeliharaan persemaian adalah berupa penyiraman dan pembersihan gulma secara manual, tidak ada pemupukan pada tahap persemaian. Setiap hari (kecuali ada hujan) bedengan disiram air dengan menggunakan gembor dan dijaga jangan sampai ada genangan air, rumput yang tumbuh dibersihkan. Sebaiknya dipakai air penyiram yang bersih, tidak tercemar pestisida. Sesudah sepasang daun membuka (stadium kepelan), benih segera dipindah ke media kantong plastik (polibeg). Pembuatan Bedengan Pembenihan Pembuatan bedengan pembenihan memiliki syarat-syarat sebagai berikut : Cara membuat pembenihan mirip seperti pada bedengan pesemaian. Media tumbuh untuk polibag berupa campuran tanah atas (top soil) dan pupuk kandang dengan perbandingan 3 : 1. Bedengan menggunakan atap/naungan dari parenet dengan tinggi 1,5 m Penanaman dalam polibag Kantong polibag sebelum diisi tanah dibuat lubang sebanyak 8 – 15 buah/polibag. Kantong polibag diisi media tumbuh dan disiram hingga basah, kemudian diatur/ditata di bedengan dengan jarak antar kantong ± 7 cm, sehingga dengan lebar bedengan 120 cm dapat diletakkan 6 - 7 baris kantong plastik. Dipilih benih yang tumbuhnya normal dan sehat, akarnya jika terlalu panjang dipotong sebagian sehingga tinggal 7 cm. Benih ditanam dalam polibag dengan cara melubangi media sedalam ± 10 cm; tanah dipadatkan agar akar tidak menggantung (tanah berongga). Diusahakan agar akar tidak terlipat/bengkok. Pemeliharaan Benih Intensitas cahaya di pembenihan ± 30 %. Secara bertahap intensitas cahaya dinaikkan dengan membuka naungan sedikit demi sedikit. Penyiraman disesuaikan dengan kondisi kelembaban lingkungan. Media digemburkan setiap dua bulan sekali. Pemupukan dilakukan sesuai umur benih dengan cara pupuk dibenamkan atau dilarutkan dalam air. Dosisnya, umur 1-3bulan = 1 g Urea + 2 g TSP + 2 g KCl, umur 3-8 bulan = 2 g Urea. Urea diberikan 2 minggu sekali, apabila berupa larutan diberikan dengan konsentrasi 0.2% sebanyak 50-100ml/benih/2-minggu. Untuk mencegah infeksi patogen tular tanah diberi perlakuan agens hayati seperti jamur Trichoderma Pengendalian gulma dilakukan secara manual, sedangkan pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara kimiawi atau menggunakan bio pestisida. Hama yang sering menyerang benih kopi yaitu ulat kilan, belalang dan bekicot, atau nematoda parasit. Penyakit yang sering dijumpai adalah penyakit rebah batang (Rizoctonia solani) dan bercak daun (Cercospora sp). Demikian naskah ini saya buat semoga bermanfaat bagi kita semua. Ditulis oleh : Religius Heryanto (BPTP Sulawesi Barat) Sumber : Balitbangtan dan Berbagai sumber media elektronik (Internet) lainnya