Loading...

TEKNIK SAMBUNG SAMPING KAKAO

TEKNIK SAMBUNG SAMPING KAKAO
TEKNIK SAMBUNG SAMPING KAKAO - Syarat – syarat Batang Atas (Entres)Cabang plagiotrop berasal dari pohon yang kuat, perkembangannya normal, bebas dari hama dan penyakit, bentuk cabang lurus dan diameternya disesuaikan dengan batang bawah. - Persiapan Batang AtasEntres diambil dari pohon entres kebun produksi, mempunyai produksi stabil, tahan hama dan penyakit utama kakao. Klon anjuran untuk batang atas yaitu Sulawesi 1, Sulawesi 2, ICCRI 03, ICCRI 04, Scavina 6, ICS 60, ICS 13, TSH 858, UIT 1, GC 7, RCC 70, RCC 71, RCC 72, dan RCC 73. Entres berupa cabang plagiotrop berwarna hijau atau hijau kecoklatan dan semi hardwood, dengan ukuran diameter 0,75 – 1,50 cm. Panjang cabang ± 40 cm, entres yang telah diambil langsung disambung pada hari yang sama. Apabila lokasi jauh maka entres dikemas terlebih dahulu dengan cara sebagai berikut : 1). potong entres sepanjang ± 40 cm, masukkan ke dalam dos ukuran 45 x 20 x 23 cm berisi media yang dilapisi plastik,2). media terdiri dari serbuk gergaji sebanyak 1 kg, air 1,5 L dan alcosorb 3 g,3). bahan entres diatur sedemikian rupa sehingga setiap bahan tertutupi oleh media. Setiap dos berisi 50 entres dan membutuhkan media 2 kg serbuk gergaji, 2 L air dan 6 g alcosorb. Entres Kadangkala juga dibungkus dengan plastik atau batang pisang.Entres sebaiknya segera digunakan, usahakan jangan lebih dari 5 hari setelah pengambilan dari pohon entres. Sebelum entres disambungkan terlebih dahulu dipotong - potong ± 20 cm atau 5 mata tunas selanjutnya pangkal entres disayat miring atau runcing ± 3 - 4 cm. - Syarat– Syarat Batang BawahBatang bawah harus sehat, kulit batang masih muda ketika dibuka warna kambium putih bersih. Apabila batang bawah kurang sehat, sebelum penyambungan dilakukan pemupukan, pemangkasan, penyiangan gulma serta pengendalian hama dan penyakit. - Cara Melakukan Teknik Sambung SampingLangkah-langkah teknik sambung samping sbb :a. Batang pokok yang masih utuhb. Kulit batang dikeratc. Kulit batang diiris vertikald. Kulit batang dibukae. Pemasangan entresf. Pengikatan dan pengerudungan sambunganPenyambungan dilakukan sebaiknya pada pagi hari dan awal musim hujan, agar tanaman yang akan disambung masih dalam keadaan segar dan mudah terkelupas. Tahapan pelaksanaan sambung samping sebagai berikut : batang kakao dikerat pada ketinggian 40 – 60 cm dari permukaan tanah. Setelah itu batang disayat dengan pisau bersih selebar 1 cm dengan panjang 2 - 4 cm. Sayatan dibuka dengan hati-hati agar tidak merusak kambium. Kemudian entres dimasukkan ke dalam lubang sayatan sampai ke bagian dasar sayatan. Teknik sambung samping dilakukan pada kedua sisi batang bawah. Kulit batang bawah ditutup kembali sambil ditekan dengan ibu jari dan diikat. Setelah itu sambungan dikerodong dengan plastik penutup, selanjutannya dilakukan pengamatan tanpa membuka plastic penutup selama 2 - 3 minggu setelah penyambungan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui keberhasilan sambungan, bila kondisi entres masih segar berarti sambungan berhasil. Pembukaan plastic penutup dilakukan bila panjang tunas sudah mencapai 2 cm atau lebih kurang umur satu bulan sejak pelaksanan sambungan. - PemeliharaanTunas yang baru tumbuh dilindungi dari serangan OPT dengan aplikasi pestisida yang didasarkan atas hasil pengamatan. Dalam pemeliharaan ini tidak hanya pada batang yang disambung samping tetapi meliputi berbagai aspek yaitu pendangiran, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan, pemangkasan, dan pengairan. Pemupukan dilakukan 2 kali, yaitu sebulan sebelum penyambungan dan sebulan setelah penyambungan. Jenis dan dosis pupuk sesuai dengan hasil analisa tanah dan daun. Setelah 3 bulan pelaksanaan sambung samping sebaiknya tajuk batang bawah dipangkas. Batang bawah dapat dipotong total bila batang atas telah tumbuh kuat dan berbuah. Penanaman pohon pelindung tetap yang dianjurkan adalah tanaman gamal dengan jarak tanam 6 m x 6 m.- PanenTanaman hasil teknik sambung samping lebih cepat waktu panennya yaitu pada umur 14 - 18 bulan setelah penyambungan, dan produksi dapat mencapai 1.500 kg – 2.500 kg/ha/thn (Prawoto, 1999; Anonim2, 2010; dan Anonim3, 2010). By Sudirman, SPPenyuluh Pertanian