TEKNIS BUDIDAYA BAWANG PUTIH Bawang putih (Allium sativa) adalah tanaman yang masuk dalam jenis Genus Allium (umbinya yang dikonsumsi), selain itu bawang putih juga sudah lama dikenal serta digunakan di daerah laut tengah dan menjadi bumbu masak di Asia Afrika serta Eropa sejak 7.000 tahun yang lalu. Selain itu bawang putih mempunyai beberapa manfaat terutama untuk kesehatan, diantaranya: 1) mencegah kanker; 2) menurunkan tekanan darah; dan 3) sebagai antivirus/antioksidan. Tanaman bawang putih cocok dibudidayakan pada iklim dengan suhu 15 - 20oC dengan curah hujan 110 – 200 mm/bulan atau 800 - 2.000/tahun. Untuk itu budidaya bawang putih akan lebih baik apabila diusahakan pada dataran tinggi, yaitu kurang lebih 700 - 1000 mdpl. Waktu Tanam Bawang putih hanya dapat tumbuh dengan baik pada musim kemarau meskipun tanaman ini sangat memerlukan air yang banyak, tapi jika kondisi tanah pada daerah penanaman bawang putih becek akan menurunkan kualitas dari umbi bawang putih yang dihasilkan. Oleh sebab itu penanaman bawang putih sebaiknya pada musim kemarau di bulan April sampai Juni, agar hasil umbi bawang putih terjaga kualitasnya. Pemilihan Benih Bawang Putih Berkualitas ciri-ciri benih bawang putih berkualitas yaitu: 1) benih bersih dari kotoran; 2) benih bawang putih berisi/bernas; 3) benih bawang putih berwarna cerah; dan 4) benih bawang putih memiliki ukuran yang sama/seragam Persiapan dan Pengolahan lahan Tanaman bawang putih memiliki kriteria lahan seperti jenis tanah dan kadar pH tanah. Lahan yang cocok tanaman bawang putih yaitu jenis tanah lempung berpasir serta struktur tanah yang gembur dan memiliki kadar pH 5,6 – 6,8. lakukan pengecekan pH tanah, jika pH tanah dibawa 5 ada baiknya melakukan pengapuran terlebih dulu. Pada pH 5 tambahkan kapur dengan dosis 5,5 ton/ha, pada pH 5,5 dosisnya 3,1 ton/ha, dan pada pH 6 dosisnya 0,75 ton/ha. Persiapan lahan yaitu dengan cara membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman yang ada dipermukaan tanah atau didalam tanah dengan cara melakukan pembajakan. Lakukan pembajakan dengan kedalamam sekitar 20 – 30 cm dengan intensitas 2 – 3 kali dalam waktu satu minggu. Setelah proses pembajakan selesai maka tahap selanjutnya adalah pembuatan bedengan. Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 60 – 150 cm dan tinggi 20 – 50 cm. Untuk panjang bedengan dapat disesuaikan dengan luas lahan yang digunakan untuk budidaya bawang putih. Jangan lupa untuk membuat parit diantara bedengan dengan ukuran lebar sekitar 30 – 40 cm. Fungsi pembuatan parit adalah untuk pengairan tanaman atau irigasi. Kedalaman parit untuk menanam bawang putih bisa disesuaikan dengan keadaan musim. Pada musim penghujan parit dibuat lebih dalam. Tahap terakhir adalah pembuatan lubang tanam yang akan diisi benih bawang putih. Penanaman Penanaman benih bawang putih dilakukan dengan mengisi lubang yang sudah disiapkan pada proses pengolahan lahan dengan memasukan satu benih disetiap lubang. Setelah itu tutup menggunakan tanah dengan tipis lalu siram dengan air secukupnya. Umbi ditanam dengan kedalaman 2 – 3 cm. Sedangkan jarak tanam dapat disesuaikan dengan ukuran siung. Misalnya berat siung lebih berat dari 1,5 gram maka jarak tanam yang digunakan adalah 20 x 20 cm. Jika berat siung kurang dari 1,5 gram maka jarak tanamnya adalah 15 x 15 cm atau 15 x 10 cm. Untuk keperluan benih dalam 1 hektar lahan tanaman bawang putih dibutuhkan sekitar 1.600 kg siung bawang putih. Dengan berat benih siung sekitar 3 gram. Akan tetapi jika berat siung hanya 1 gram maka jumlah yang dibutuhkan untuk budidaya bawang putih sekitar 670 kg. Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman bawang putih: Pemupukan Pupuk kandang ayam dosis anjuran 10 - 20 ton/ha atau pupuk kandang kambing 30 ton/ha. Sedangkan pupuk anorganik dosis per hektarnya yaitu 200 Kg N, 60 Kg K2O, 180 Kg P2O5 dan 142 Kg S. Pupuk Nitrogen diberikan sebanyak 3 kali selama masa pertumbuhan tanaman bawang putih. Pupuk Kalium dan Fosfor diberikan bersamaan pupuk kandang pada awal tanam. Untuk meningkatkan hasil dan kualitas dari ubi tanaman bawang putih dapat diberikan pupuk cair dengan konsentrasi 0,25% yang disemprotkan ke daun tanaman, salah satu contoh pupuk cair yaitu Sitozim. Pemulsaan Kegiatan ini dilakukan pada musim kemarau karena jika dilakukan pada musim penghujan dapat mengakibatkan tanah terlalu lembab serta dapat merusak kualitas bawang putih. Bahan pemulsaan berupa jerami atau sisa-sisa tanaman yang sudah mati, hindari menggunakan mulsa dari bahan plastik karena dapat meningkatkan suhu disekitar area perakaran sehingga dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Pengairan Pada tahap awal sebaiknya pengairan dilakukan 2 - 3 hari sekali, namun setelah masuk proses pertumbuhan tunas proses pengairan dilakukan 7 - 15 hari sekali. Selain itu jika tanaman sudah mendekati panen hentikan proses pengairan. Penyiangan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Sesuaikan penyiangan dengan pesatnya laju pertumbuhan gulma. Hentikan penyiangan pada saat tanaman memasuki fase generatif. Hal ini dilakukan karena penyiangan pada fase tersebut dapat mengganggu proses pembentukan dan pembesaran umbi. Lakukan juga perbaikan pada bedengan budidaya bawang putih setiap 20 – 30 hari. Terbilang 19 jenis hama pengganggu yang sering menyerang tanaman bawang putih, diantaranya adalah Thrips tabaci yang dapat menmbulkan kerusakan sebesar 80%, Spodoptera exigua, Fusarium sp., Alternaria porii dan Onion Yellow Dwarf Virus (OYDV). Pengendalian dilakukan dengan sistem PHT, yaitu dengan menggunakan benih sehat, musuh alami, pengendalian secara kultur teknis, penggunaan perangkap, sanitasi, dan penggunaan pestisida berdasarkan ambang pengendalian. Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya. Panen dan Pasca Panen Umur panen bawang putih panen sekitar 90 - 120 hst. Ciri-ciri tanaman bawang putih yang siap panen yaitu warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dengan tingkat kelayuan 60%. Ketika menjelang panen anda harus menghentikan semua kegiatan pemupukan, pengairan serta pengendalian OPT. Panen dilakukan dengan cara mencabut tanaman dengan tangan pada saat cuaca cerah. Produksi umbi mencapai 5,6 sampai 12 ton/ha. Umbi hasil panen diikat sebanyak 20-30 rumpun per ikat dan dijemur selama 15 hari sampai batangnya kering. Pengeringan umbi dapat dilakukan dengan cara : Dijemur di bawah sinar matahari. Umbi ditutup dengan daunnya untuk menghindari umbi bawang putih terkena sinar matahari langsung. Dikeringkan dalam rak berlapis dengan cara digantung, di kebun atau di rumah. Pengasapan, yaitu dengan cara menempatkan bawang putih di atas para-para yang berada di dapur. Panas dan asap berasal dari air yang sengaja di masak. Para-para juga dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan. Penyimpanan di gudang yang difumigasi dengan tablet 55% Phostoxin dapat memperpanjang umur umbi bawang putih sampai 8 bulan. Penulis : Heru, SP (ASN pada Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Merangin) Sumber : http://hortikultura.litbang.pertanian.go.id/teknologi-hal-2.html https://www.infoagribisnis.com/2017/05/menanam-bawang-putih https://www.sedulurtani.com/cara-budidaya-bawang-putih-dengan-benar-supaya-hasilnya-maksimal https://sentrabudidaya.com/cara-menanam-bawang-putih