TEKNIS PEMBUATAN KOMPOS KOHE KAMBING OLEH BUMDES DESA BONCAH MAHANG KECAMATAN BATHIN SOLAPAN
Bathin Solapan - April 2025 Tanah yang subur, gembur, kaya akan mikroorganisme baik dalam tanah dan memiliki unsur hara yang melimpah sangat dibutuhkan tanaman merupakan keniscayaan agar suatu pembidayaan tanaman budidaya dapat berhasil sesuai harapan para petani untuk mendapatkan hasil yang maksimal. tanah yang apabila ditanami tumbuhan/tanaman bisa memberikan hasil yang banyak berupa produksi daun, batang, buah atau umbi. Untuk itu, agar tercapainya tujuan produksi maka tanah yang dijadikan lahan usaha tani perlu ada upaya agar tanah tersebut tetap subur dalam jangka waktu yang tak terbatas atau berkelanjutan. Ekploitasi tanah pertanian yang terus menerus (berlebihan) dengan menggunakan pestisida dan pupuk an-organik dapat menyebabkan degradasi pada tanah pertanian. Dilkarenakan oleh penyebab tersebut maka Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Desa Boncang Mahang Kecamatan Bathin Solapan berinisiatif mendirikan konsep pertanian yang terintegerasi yaitu dengan mengkombinasikan pertanian, peternakan kambing dan pembuatan kompos dalam rumah kompos dalam satu areal yang terintegrasi. Dibawah kepemimpinan Bapak Arif dan kawan-kawan satu alumni bidang peternakan dari Universitas Andalas Sumatera Barat, mereka bertekat untuk membangun pertanian yang teringrasi antara pertanian, peternakan kambing dan usaha pembuatan kompos dengan bahan baku utama kohe Kambing. Disamping itu Bapak Arif dan kawan-kawan juga ingin memajukan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang mereka pimpim dengan basis utama pertanian terpadu untuk mengatasi permasalah-permaslahan yang dihadapi petani didesanya. Pembuatan kompos dari Kohe Kambing sebenarnya amatlah sederhana, akan tetapi dibutuhkan konsistensi agar usaha tersebut dapat berhasil dari hulu kehilirnya yaitu dari pembuatanya yang dimulai dari pengumpulan kohe kambing ke bak-bak penampungan rumah kompos, proses permentasi dan pencampuran bahan organik lainnya, pemberian mikroorganisme perombak bahan organik lalu ditutup dengan terpal dan dilakukan pengadukkan dan pemindahan dari bak penampungan yang satu kebak penampungan yang lain dengan interval waktu seminggu sekali selama lebih kurang satu bulan, setelah jadi dengan tanda-tanda kompos tidak berbau lalu dimasukkan kedalam mesim penghalusan agar didapatkan kompos kohe kambing yang lebih halus lalu dikemas kedalam karung-karung goni dengan ukuran karung 20 kg perkemasan lalu disimpan kedalam gudang untuk dapat dipasarkan dan disalurkan kepada petani/pembeli. Dengan adanya tekat yang kuat dari Bapak Arif dan kawan-kawan untuk membangun pertanian terpadu untuk membangung usaha Bumdes yang mereka pimpin bisa kita jadikan contoh. Dengan konsistensi usaha sekecil apapun dapat mecapai hasil yang maksimal untuk menggapai kesuksesan dimasa yang akan datang. Penulis : Tengku Amirsyah, S.P (Penyuluh Pertanian Kec. Bathin Solapan Kab. Bengkalis Prov. Riau) April 2025