PENDAHULUAN Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Komoditas ini juga merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi wilayah. Karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi, maka pengusahaan budidaya bawang merah telah menyebar di hampir seluruh Provinsi di Indonesia. Meskipun minat pengusahaan bawang merah oleh petani cukup kuat, namun dalam proses budidayanya masih banyak terkendala. Permasalahan budidaya yang belum baik di tingkat petani menjadi salah satu kendala dalam mencukupi kebutuhan bawang merah di Indonesia. Untuk itu diperlukan keterampilan, keahlian dan pengetahuan budidaya bawang merah yang benar terhadap petani maupun stake holder lainnya yang akan mengusahakan bawang merah. SYARAT TUMBUH Tanaman bawang merah dapat ditanam di dataran rendah maupun tinggi, yaitu pada ketinggian 1 – 1000 m dpl. Meskipun demikian ketinggian optimumnya adalah 0 – 400 m dpl. Tanah yang cocok adalah yang bertekstur remah, sedang sampai lit, berdrainase baik, memiliki bahan organik yang cukup dan pH nya berkisar 5,6 – 6,5. Dengan penyinaran matahari minimum 70 %, suhu udara harian 25 – 320C dan kelembaban nisbi sedang 50 – 70 %. Varietas yang Dianjurkan Varietas yang dianjurkan adalah varietas unggul dan spesifik lokasi sesuai daerahnya masing-masing. Untuk daerah dataran rendah bisa menggunakan varietas Bima brebes, Tiron, Crok Kuning, sumenep, dll sedangkan daerah menengah bisa menggunakan varietas medan, maja, bauji. BIBIT Bawang merah banyak dikembangkan dengan umbi. Umbi diambil dari tanaman yang sudah cukup tua, sekitar 70 hari setelah tanam. Pada umur tersebut pertumbuhan calon tunas dalam umbi sudah penuh. Ukuran umbi sebaiknya berukuran sedang dengan penampilan harus segar, sehat dan tidak kusut/cacat, berwarna mengkilap. Umbi yang akan ditanam sebaiknya sudah melewati penyimpanan sekitar 2,5 – 4 bulan. Kebutuhan bibit sekitar 600 – 800 kg/ha. PENGOLAHAN LAHAN DAN PENANAMAN Waktu penanam bawang merah sebaiknya pada musim kemarau dengan syarat sumber air ada. Jadual tanam bisa dilakukan pada awal bulan April/Mei atau Juli/Agustus. Sebelum melakukan penanaman lahan diolah dan dibuat bedengan selebar 1 -1,5 m dengan panjang menyesuaikan dan tinggi 50 cm. bedengan dicangkul sampai gembur tambahkan bahan organik 10-20 ton/ha dan kapur 1-1,5 ton/ha, pupuk SP-36 200 kg/ha yang diberikan seminggu sebelum tanam dan diaduk rata. Penanam dilakukan dengan pembuatan larikan jarak tanam 20x15 cm atau 15x15 cm. bibit yang akan ditanam sebelumnya dirompes ujungnya terlebih dahulu. Untuk mencegah penyakit ngoler (Fusarium) makan bibit yang sudah dirompes dilakukan perendaman dengan fungisida. PEMELIHARAAN Kegiatan pemeliharaan rutin adalah melakukan penyiraman pada awak tanam setiap pagi dan sore hari sampai seminggu, selanjutnya disiram sehari sekali. Perlu diperhatikan jika malam hari terjadi hujan, maka pagi hari sebelum matahari terbit harus dilakukan penyiraman untuk membuang percikan tanah akibat air hujan. Pemupukan berupa Nitrogen 150 – 200 kg/ha dan Kalium sebanyak 50 -100 kg/ha yang diberikan pad umur 14 hari dan 31 hari setelah tanam masing-masing ½ dosis dengan cara disebar pada larikan tanaman. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT Hama yang banyak menyerang tanaman bawang merah adalah ulat daun, penggorok daun dan trips. Hama ini menyebakan ujung daun terpotong dan daun menjadi terkulai. Pengendalian hama harus dilakukan sedini mungkin sebagai tindakan pencegahan, yaitu melaui monitoring dan pestisida kimia. Sedangkan penyakit yang menimbulkan kegagalan panen adalah layu fusarium/busuk umbi dan trotol/bercak ungu. Kedua penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium dan Alteria pori. Pengendalian penyakit ini dapat menggunakan agensia hayati berupa Trichoderma dan fungisida kimia yang disemprotkan secara berselang seling. PANEN Pemanenan dapat dilakukan apabila sudah berumur 60 – 65 hari, apabila akan dijadikan umbi konsumsi. Sedangkan apabila akan dijadikan umbi bibit umur panen harus lebih lama lagi, yaitu sekitar 70 – 85 hari. Tanda –tanda tanaman sudah siap panen yaitu apabila umbi sudah terlihat menyembul di permukaan tanah, daun mulai menguning dan layu. Cara panen dilakukan dengan mencabut tanaman, kemudian dibersihkan dari sisa tanah yang menempel dan dikumpulkan. Setelah benih terkumpul selanjutnya dilakukan pengikatan untuk memudahkan penjemuran. Penjemuran dilakuakn di bawah sinar matahari selama 2 – 5 hari. Umbi yang telah kering dilakukan penyimpan dengan cara digantung dalam para-para. Untuk mengurangi kerusakan akibat hama gudang bisa dilakukan pengasapan. Referensi : Dari kumpulan berbagai sumber Penulis: Sugito, SP