TEKNOLOGI BUDIDAYA BENIH PADI Kegiatan penangkaran/produksi benih dimulai dengan budidaya yang meliputi kegiatan persemaian, penyiapan lahan, penanaman, pemupukan, pengairan, penyiangan dan pengendendalian OPT, roguing, panen, pengeringan. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pengolahan benih, sertifikasi, dan penyimpanan serta pengemasan. UPTD PPSB-TPHP sebagai unit yang berwenang melakukan pengawasan dan sertifikasi benih sudah dilibatkan sejak awal kegiatan mulai dari pendaftaran, penanaman, pengamatan, rouging hingga proses sertifikasi dan pelabelan benih. Sumber benih padi harus yang terdaftar/terpercaya. Kelas benih terdiri dari: 1) Benih Penjenis (Breeder Seed/BS)/Warna Label Kuning; 2) Benih Dasar (Foundation seed/FS/BD)/Warna Label Putih; 3) Benih Pokok (Stock Seed/SS/BP)/Warna Label Ungu dan 4) Benih Sebar (Extension Seed/ES/BR)/Warna Label Biru. Kelas benih yang ditanam minimal 1 tingkat diatas kelas benih yang akan dihasilkan. Sebagai contoh: Penanaman kelas benih pokok/warna label ungu akan menghasilkan kelas benih sebar/warna label biru. Persemaian dilakukan dengan cara tanah diolah, dicangkul atau dibajak dan dibiarkan dalam kondisi macak-macak selama minimal 2 hari, kemudian dibiarkan mengering sampai 7 hari. Setelah itu, tanah diolah kembali. Bedengan dibuat dengan tinggi 5-10 cm, lebar 110 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Luas lahan untuk persemaian 2-4% dari luas areal pertanaman (200-400 m2/ha. Tabur benih secara merata pada persemaian. Pupuk persemaian dengan urea, TSP dan KCl masing-masing sebanyak 15 g/m2. Benih direndam selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam, lalu disebarkan di persemaian. Kebutuhan benih untuk 1 ha areal pertanaman adalah 20-25 kg. Tabur benih yang telah mulai berkecambah dengan kerapatan 25-50 g/m2 atau 0,5-1 kg benih per 20 m2 lahan. Penyiapan lahan dilakukan dengan mengolah tanah secara sempurna yaitu dibajak yang pertama, lalu digenangi selama 2 hari, dan kemudian dikeringkan selama 7 hari. Setelah itu dibajak yang ke kedua, lalu digenangi selama 2 hari dan kemudian dikeringkan lagi selama 7 hari. Terakhir tanah digaru untuk melumpurkan dan meratakan tanah. Untuk menekan pertumbuhan gulma, lahan yang telah diratakan disemprot dengan herbisida pratumbuh dan dibiarkan selama 7-10 hari atau sesuai dengan anjuran. Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 15-21 hari dengan 1-3 bibit per lubang. Tanam tegel (20 x 20 cm atau 25 x 25 cm) atau jajar legowo 2:1 / 4:1 (tergantung kondisi lahan dan varietas yang ditanam). Bibit ditanam pada kedalaman 1-2 cm. Penyulaman dilakukan pada 7 hari setelah tanam dengan bibit dari varietas dan umur yang sama. Setelah ditanam, air irigasi dibiarkan macak-macak (1-3 cm) selama 7-10 hari. Pemupukan dilakukan dengan dosis disesuaikan dengan rekomendasi berdasarkan kondisi lahan setempat. Pengairan dilakukan setelah selesai tanam, dengan ketinggian air sekitar 3 cm selama tiga hari. Setelah periode tersebut, air pada petak pertanaman dibiarkan pada kondisi macak-macak dan dipertahankan selama 10 hari. Pengairan selanjutnya dilakukan secara intermitan (selang-seling). Penyiangan dilakukan secara intensif agar tanaman tidak terganggu oleh gulma. Penyiangan dilakukan dua atau tiga kali tergantung pada keadaan gulma secara khemis, landak atau gasrok. Penyiangan dilakukan menjelang pemupukan susulan pertama dan kedua. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara terpadu berdasar pada prinsip-prinsip PHT yaitu 1) budidaya tanaman sehat, 2) pelestarian dan pembudidayaan musuh alami, dan 3) pengamatan lahan/monitoring secara teratur. Penggunaan pestisida harus dilakukan secara bijaksana. Rouging adalah membuang tanaman tipe simpang (off type), campuran varietas lain (CVL) yang memiliki ciri-ciri menyimpang dari varietas yang diperbanak. Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik yang tinggi. oleh karena itu roguing perlu dilakukan dengan benar dan dimulai mulai fase vegetatif sampai akhir pertanaman. Rouging dilakukan untuk membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang diproduksi benihnya. Tujuan dari pelaksanaan rouging adalah agar produksi benih memiliki kemurnian genetik yang tinggi sesuai dengan deskripsinya. Rouging pada fase vegetatif awal (35 – 45 HST) dilakukan pada tanaman yang tumbuh diluar jalur/barisan, tanaman/rumpun yang tipe pertunasan awalnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman yang bentuk dan ukuran daunnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman yang warna kaki atau daun pelepahnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain dan tanaman/rumpun yang tingginya sangat berbeda (mencolok). Rouging pada fase vegetatif akhir/anakan maksimum (50 – 60 HST) dilakukan pada tanaman yang tumbuh diluar jalur/barisan, tanaman/rumpun yang tipe pertunasan menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman yang bentuk dan ukuran daunnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman yang warna kaki atau helai daun dan pelepahnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman/rumpun yang tingginya sangat berbeda (mencolok). Rouging pada Fase Generatif Awal /Berbunga (85 – 90 HST) dilakukan pada tanaman/rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman yang bentuk dan ukuran daun benderanya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman yang berbunga terlalu cepat atau terlalu lambat dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman/rumpun yang memiliki eksersi malai berbeda, tanaman/rumpun yang memiliki bentuk dan ukuran gabah berbeda. Rouging pada generatif akhir /masak (100 – 115 HST), tanaman/rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman yang bentuk dan ukuran daun benderanya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman yang berbunga terlalu cepat atau terlalu lambat dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman/rumpun yang terlalu cepat matang, tanaman/rumpun yang memiliki eksersi malai berbeda, dan tanaman/rumpun yang memiliki bentuk dan ukuran gabah warna gabah dan ujung gabah (rambut /tidak berambut) berbeda. Seminggu menjelang panen, lahan mulai dikeringkan agar proses pematangan biji relatif lebih cepat dan lahan produksi benih tidak becek sehingga memudahkan saat panen. Panen calon benih padi dilakukan pada saat panen yang tepat yaitu pada waktu biji telah masak fisiologis, atau apabila sekitar 90-95% malai telah menguning. Mutu benih padi setelah panen biasanya berasosiasi dengan mutu fisiologis, mutu fisik dan kesehatan benih. Lahan pertanaman untuk produksi benih dapat dipanen apabila sudah dinyatakan lulus sertifikasi lapangan oleh PPSB-TPHP. Semua malai dari kegiatan roguing harus dikeluarkan dari areal yang akan dipanen. Hal ini untuk menghindari tercampurnya calon benih dengan malai sisa rougin. Persiapkan peralatan yang akan digunakan panen (sabit, karung, terpal, alat perontok (threser), karung dan tempat/alat pengering) serta alat-alat yang akan digunakan untuk panen dibersihkan. Dua baris tanaman yang paling pinggir sebaiknya dipanen terpisah dan tidak digunakan sebagai calon benih. Panen dapat dilakukan dengan potong tengah jerami padi kemudian dirontok dengan threser atau potong bawah lalu digebot. Ukur kadar air panen dengan menggunakan moisture tester. Calon benih kemudian dimasukan ke dalam karung dan diberi label (yang berisi: nama varietas, tanggal panen, asal pertanaman dan berat calon benih) lalu diangkut ke ruang pengolahan benih. Laporan hasil panen dibuat secara rinci yang berisi tentang tanggal panen, nama varietas, kelas benih, bobot calon benih dan kadar air benih saat panen. Penulis: Ir. Sri Suryani M.Rambe M. Agr BPTP Bengkulu