Loading...

TEKNOLOGI BUDIDAYA BUAH NAGA (DRAGON FRUIT)

TEKNOLOGI BUDIDAYA BUAH NAGA (DRAGON FRUIT)
Tanaman buah naga masuk ke Indonesia sekitar tahun 2000, diimpor dari Thailand, kemudian dibudidayakan menjadi tanaman pertanian di beberapa daerah seperti Yogyakarta, Malang, Mojokerto, Bogor, dan Jember (Purba 2007). Buah naga memang belum banyak dikenal di Indonesia. Buah ini sulit diperoleh di pasar-pasar tradisional dan hanya dapat dijumpai di pasar swalayan tertentu saja. Selain karena masih sedikit yang menanamnya, hal ini juga disebabkan buah naga masih tergolong jenis tanaman budi daya baru (Winarsih 2007). Terdapat empat jenis buah naga yang dikembangkan, yaitu buah naga daging putih (Hylocereus undatus), buah naga daging merah (H. polyrhizus), buah naga daging super merah (H. costaricensis), dan buah naga kulit kuning daging putih (Selenicereus megalanthus). Masing-masing buah naga memiliki karakteristik tersendiri. Dari buah naga yang dikembangkan tersebut, buah naga daging merah lebih sering dibudidayakan karena memiliki kelebihan tersendiri, yaitu ukuran buah lebih besar dan warna daging lebih menarik. Adapun buah naga yang jarang dibudidayakan adalah buah naga kulit kuning daging putih (S. megalanthus) karena ukuran buahnya yang relatif kecil walaupun rasanya paling manis di antara jenis buah nagayang lain (Novita 2010). Menurut Kristanto (2005), bahwa buah naga memiliki kandungan gizi cukup lengkap. Setiap 100 g buah naga mengandung 83 g air, 0,61 g lemak, 0,22 g protein, 0,9 g serat, 11,5 g karbohidrat, 60,4 mg magnesium, vitamin B1, B2, C, mengandung asam fenolat yang lebih tinggi, dan bijinya mengandung asam lenoleat sebagai anti kanker. Selain dikonsumsi langsung, buah ini dapat digunakan sebagai jus, manisan, dan selai yang berkhasiat sebagai penyeimbang kadar gula darah, pelindung kesehatan mulut, penurun kolestrol, mencegah pendarahan, dan kanker usus. Saat ini, buah naga di pasaran masih dijumpai sebagai buah impor dengan harga relatif mahal, utamanya bagi daerah-daerah yang jauh dari sentra produksi. Ini menunjukkan, pengembangan buah naga memiliki prospek yang cukup menjanjikan, khususnya untuk wilayah Indonesia yang beriklim tropis, seperti Sulawesi Barat. Namun demikian, terdapat kendala dalam pengembangan buah naga, yakni mahalnya biaya pengadaan bibit dan transportasi. Berikut ini diuraikan tentang teknik perbanyakan dan budidayanya. Tanaman buah naga dapat diperbanyak melalui biji; Cara perbanyakan menggunakan biji buah naga dilakukan karena dapat diperoleh bibit dalam jumlah besar 1 buah berisi minimal 1000 biji yang melibatkan pengumpulan benih dari buah-buahan yang dipilih dari tanaman induk, dan berkecambah pada kertas blotting basah atau campuran tanah liat pasir. Benih mulai berkecambah dalam 3 hari - 4 hari dan bibit dapat dipindahkan ke dalam pot setelah berumur 4 minggu - 5 minggu setelah perkecambahan. Bibit yang telah dikecambahkan siap untuk dipindahkan ke bidang penanaman setelah berumur 9 bulan - 10 bulan. Metode ini sangat sederhana, namun kualitas keturunan baru tidak dapat dijamin karena penyerbukan silang (tergantung jenis tanaman). Selanjutnya, bibit juga tumbuh perlahan-lahan dan waktu yang dibutuhkan biasanya 3 tahun - 4 tahun lebih lama dibandingkan tanaman yang diperbanyak dengan menggunakan stek. Selain itu dapat diperbanyakan secara vegetatif; merupakan metode termudah dan termurah hanya dengan pemotongan tanaman buah naga (stek). Tanaman buah naga dari stek mulai berbunga setelah 1 tahun - 2 tahun penanaman. Stek dapat diperoleh sepanjang tahun, namun penyetekan lebih baik setelah musim berbuah dari tanaman induk. Stek yang menampilkan warna lain dari warna tanaman yang normal harus dihindari. Sebaiknya, dalam perbanyakan dengan menggunakan stek, seluruh segmen batang atau 15 cm - 60 cm stek dapat digunakan (Zee et al., 2004). Semakin panjang pemotongan, maka tingkat regenerasi tunas baru semakin cepat terkait dengan jumlah makanan yang disimpan. Dalam melakukan stek, potongan miring arah miring dibuat di dasar batang. Stek pada tanaman dewasa lebih baik karena tahan terhadap kerusakan serangga dan siput. Untuk mencegah terjadinya penyakit, stek diperlakukan dengan fungisida. Stek harus dilakukan di tempat yang sejuk dan kering selama 5 hari - 7 hari sebelum tanam. Stek dapat langsung ditanam di lapangan, namun praktek yang paling umum adalah dengan media pot yang cocok untuk rooting. Penggunaan hormon rooting sebelum penanaman akan mendorong kecepatan pembentukan akar. Jumlah akar adventif meningkat ketika dicelupkan ke dalam IBA di 10.000 mg/L (Vargas-Santiago et al., 2003). Jika hormon rooting tersedia, maka harus digunakan pada stek karena dapat meningkatkan perakaran dan menginduksi waktu yang dibutuhkan untuk perkembangan akar (10 hari - 15 hari, bukan 40 hari - 50 hari). Ujung dari hasil pemotongan harus dibasahi dan direndam selama 10 detik dalam powder, sebelum ditanam ke dalam tanah untuk pembibitan normal. Stek ini tumbuh cepat, sekitar 3 cm per hari dan mengembangkan sistem akar yang kuat dalam 4 bulan - 6 bulan. Jika jarak penyetekan cukup jauh, maka hasil stek harus dibungkus dengan kain lembab atau kertas atau pelepah batang pisang untuk mencegah hilangnya kelembaban. Stek harus disiram secara teratur tetapi tidak berlebihan, hingga dapat dipindahkan ke lapangan. Buah naga biasanya menghasilkan sistem akar adventif yang dangkal, ketika polybag atau pot yang digunakan dapat menembus ke dalam tanah. Media tanam yang digunakan berupa campuran tanah atas, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2: 1:1, dapat pula ditambahkan pupuk NPK. Tanah dan pasir yang akan digunakan untuk campuran media sebaiknya dijemur kering selama beberapa hari untuk mematikan hama dan penyakit. Penanaman stek sebaiknya sekitar seperempat panjang stek atau sekitar 4 cm - 5 cm terbenam tanah. Setelah ditanam, polybag ditempatkan di tempat yang teduh untuk memudahkan adaptasi bibit. Pemeliharaan stek setelah ditanam harus dilakukan, antara lain: a). Melakukan penyiraman atau pemberian air secukupnya, terutama musim kemarau. Sangat butuh air untuk menumbuhkan tunas; b). Tunas tumbuh 1 cm - 2 cm, maka dilakukan pemupukan dengan NPK 15-15-15 sebanyak 5 gram - 10 gram; c). Menjaga bibit dari serangan hama dan penyakit, terutama dengan menjaga sanitasi dan drainase lahan karena bibit rentan terhadap penyakit layu atau penyakit busuk batang. Bibit stek dipelihara hingga tunas cukup panjang, yaitu sekitar 10 cm - 15 cm, setelah itu bibit mulai diaklimatisasi dengan menempatkannya di tempat terbuka agar bibit siap berkembang di lahan selama 1 minggu - 2 minggu maka bibit sudah siap tanam. Tanaman buah naga lebih menyukai sinar matahari penuh, maka daerah terbuka paling cocok untuk ditanam. Tanaman buah naga tidak boleh ditanam di tempat yang teduh atau tanah sempit yang berawa. Tanah harus memiliki drainase yang baik agar tidak terjadi penggenangan air (banjir). Jarak untuk ditanam di lapangan bervariasi tergantung pada ukuran dan kemiringan lahan. Dalam penanaman skala kecil tidak ada jarak tanam yang tepat untuk digunakan. Jarak yang lebih lebar akan memberikan sirkulasi udara yang memadai dan mengurangi penyakit yang menyerang. Umumnya sebulan sebelum tanam, terlebi dahulu dibuatkan lubang tanan dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm dengan jarak tanam 2 m x 2,5 m, sehingga dalam 1 hektar terdapat sekitar 2000 lubang tanam penyangga. Setiap tiang/pohon penyangga itu dibuat 3 – 4 Lubang tanam dengan jarak sekitar 30 cm dari tian penyangga. Lubang tanam tersebut kemudian diberi pupuk kandang yang masak sebanyak 5 – 10 kg dicampur dengan tanah. Penyiangan diperlukan pada semua lokasi penanaman buah naga hingga 1 m dengan diameter sekitar lubang tanam. Jika ditanam di padang rumput, rumput harus dibersihkan sekitar 1 m dengan diameter sekitar lokasi penanaman. Pembuatan Tiang Panjatan Buah naga merupakan jenis tanaman kaktus yang memanjat, tanaman memanjat memerlukan beton atau penyangga kayu, pagar, dinding, dan pohon- pohon untuk dukungan. Harus ada tonggak untuk setiap tanaman yang merambat ke atas. Tanaman buah naga hidup selama 20 tahun, oleh karena itu daya tahan tiang-tonggak sangat penting. Tiang harus kuat menyangga tanaman hingga 3 tahun - 4 tahun dan mampu menahan berat sekitar 100 kg, sehingga hanya tiang beton yang keras akan mampu menyangga tanaman buah naga. Tiang-tiang kayu yang murah memiliki daya tahan rendah dibandingkan dengan tiang beton. Hal ini juga tidak memungkinkan untuk mengubah setengah tiang melalui pertumbuhan tanaman sebagai tanaman memanjat. Oleh karena itu, penyangga yang terbaik adalah dengan menggunakan tiang beton meskipun biaya awalnya tinggi. Ukuran diameter tiang yang disarankan adalah 100 mm - 150 mm dengan ketinggian 2 m dan dibenamkan kedalam tanah sepanjang 40 cm. Pemeliharaan meliputi a). Pengairan Pada tahap awal perturnbuhan pengairan dilakukan 1 – 2 hari sekali. pemberian air berlebihan akan menyebabkan terjadinya pembusukan; b). Pemupukan: Pernupukan tanaman diberikan pupuk kandang, dengan interval pemberian 3 bulan sekali, sebanyak 5 – 10 Kg. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Sementara belum ditemukan adanya serangan hama clan penyakit yang potensial. Pembersilhan lahan atau pengendalian gulma dilakukan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman; c). Pemangkasan: Cabang utama ( primer ) dipangkas, setelah tinggi mencapai tiang penyangga ( sekitar 2 m ), clan ditumbuhkan 2 cabang sekunder, kemudian dari masing-masing cabang sekunder dipangkas lagi clan ditumbuhkan 2 cabang tersier yang berfungsi sebagai cabang produksi. Jumlah cabang Buah Naga yang terlalu banyak juga menyebabkan hasil produksi buah naga tidak maksimal. Unsur hara yang diserap pohon naga akan habis untuk memenuhi kebutuhan batangnya saja. Jumlah normal cabang sekitar 4-6 cabang/pohon. Ketika pada masa berbuah, pemotongan ujung cabang diperlukan agar cabang tidak berkonsentrasi untuk pengembangan batang. Sehingga unsur hara bisa dialihkan untuk pemenuhan pembesaran buah naga. Unsur Kalium sangat penting dalam proses pembentukan dan pembesaran buah naga. Unsur Kalium alami/organik banyak didapatkan dari Pangkal pohon pisang, serabut kelapa, organik laut, tulang ikan/hewani, daun teh dll. Bahan bahan alami tersebut diproses dengan cara fermentasi. Kalium anorganik didapat dari ZK, MKP, KNO3. Bahan Kalium bisa disemprotkan dan juga bisa ditaburkan disekitar tanaman. Setelah tanaman umur 1,5 – 2 tahun, mulai berbunga dan berbuah. Pemanenan pada tanaman buah naga dilakukan pada buah yang memiliki ciri – ciri warna kulit merahm engkilap, jumbai / sisik berubah warna dari hijau menjadi kernerahan. Pemanenan dilakulkan dengan menggunakan gunting, buah dapat dipanen saat buah mencapai umur 50 hari terhitung sejak bunga mekar. Dalam 2 tahun pertama. setiap tiang penyangga mampu menghasilkan buah 8 s / d 10 buah naga dengan bobot sekitar antara 400 – 650 gram. Musim panen terbesar buah naga terjadi pada bulan September hingga Maret. Umur produktif tanaman buah naga ini berkisar antara 15–20 tahun. Sumber: Dari berbagai sumber oleh: Religius Heryanto