Kacang hijau merupakan komoditas tanaman kacang-kacangan yang penting setelah kacang kedelai dan kacang tanah. Walaupun bentuknya kecil, namun kacang hijau memiliki kandungan gizi yang baik untuk kesehatan. Selain kaya protein, kacang hijau juga mengandung antioksidan, rendah lemak, serat serta vitamin A, B, C, E, K serta folat, zinc, fosfor, kalium, dan zat besi, juga karbohidrat, mangan, magnesium dan selenium. Sehingga tidak mengherankan jika kacang hijau memiliki berbagai manfaat di dalam kehidupan manusia, antara lain sebagai bahan makanan , untuk pengobatan (terapi), dan untuk pakan ternak. Kacang hijau biasa ditanam di lahan kering atau di lahan sawah (sawah irigasi, tadah hujan, pasang surut) pada musim kemarau. Begitu juga di Kalimantan Barat, penanaman kacang hijau sebagain besar di lakukan di lahan sawah pasang surut pada tipe luapan C yang ditanam setelah padi pada bulan Februari/Maret. Di Kalimantan barat, di beberapa lokasi penanaman kedelai sudah mulai beralih ke kacang hijau karena harga kacang hijau yang tinggi dan tidak sulit menjualnya. Walaupun permintaan kacang hijau cukup stabil dan harganya yang cukup tinggi, namun produktivitas kacang hijau di Kalimantan Barat masih rendah hanya 7,62 ku/ha, sedangkan secara Nasional sebesar 11,88 ku/ha, yang jauh lebih rendah dari potensi hasilnya yang bisa mencapai 1,7 t/ha, bahkan bisa mencapai 2 t/ha. Rendahnya produktivitas kacang hijau disebabkan karena sebagian besar petani masih menggunakan varietas lokal serta penerapan teknologi budidaya yang belum optimal. Penggunaan varietas unggul baru dengan potensi hasil yang tinggi dan penerapan teknologi budidaya yang tepat dan optimal, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kacang hijau. TEKNOLOGI BUDIDAYA KACANG HIJAU Varietas Unggul Baru Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi dalam usaha meningkatkan produksi dan produktivitas per satuan luas. Sampai saat ini varietas unggul kacang hijau sudah banyak dihasilkan dan memiliki sifat yang beragam baik dari segi potensi produksi, daya adaptasinya terhadap lingkungan, umur tanaman, warna biji, ketahanan terhadap hama dan penyakit utama dan lain-lain. Menurut Balitkabi (2005), semua varietas kacang hijau yang telah dilepas cocok ditanam di lahan sawah maupun tegalan. Namun demikian pemilihan varietas disesuaikan dengan kondisi lahan, organisme pengganggu tanaman yang ada serta preperensi konsumen, suka kacang hijau yang kusam atau yang mengkilap. Varietas unggul yang memiliki potensi hasil tinggi serta umur genjah antara lain Vima 1 (1,76 t/ha), Vima 2( 2,4 t/ha), Vima 3 (2,11 t/ha), Vima 4 (2,32 t/ha) dan Vima 5 (2,34 t/ha) dengan umur 56 – 60 hari. Bagi daerah-daerah yang endemik penyakit embun Tepung dan bercak daun, maka disarankan menggunakan varietas unggul yang tahan penyakit tersebut seperti Sriti, Kutilang, Perkutut, dan Murai. Penyiapan Lahan Penyiapan lahan untuk penanaman kacang hijau di lahan sawah setelah padi tidak perlu dilakukan olah tanah tapi cukup dengan tanpa olah tanah (TOT). Jerami padi dipotong pendek atau rata sama dengan tanah. Untuk menghindari genangan air pada musim penghujan, perlu dibuat saluran drainase dengan jarak 3 – 5 m antar saluran serta lebar dan kedalaman saluran 20 – 30 cm. Inokulasi Rhizobium Inokulasi Rhizobium dilakukan bila lahan yang akan ditanami kacang hijau belum pernah ditanami jenis tanaman kacang-kacangan. Inokulasi Rhizobium dapat berupa produk buatan komersial seperti Legin atau Rhizplus dan dapat juga dengan Rhizobium alami berupa bubukan tanah yang berasal dari lahan yang ditanami kacang-kacangan, khususnya kacang hijau. Dosis inokulasi Legin atay Rhizoplus dengan takaran 5 – 10 g/ kg benih, sedangkan dosis bubukan tanah (alami) ± 100 g/kg benih. Penanaman Penanaman kacang hijau dilakukan dengan cara tugal 2 – 3 biji/lubang dengan kedalaman 3 – 5 cm. Setelah itu, lubang tanam ditutupi dengan abu, tanah halus atau pupuk kandang agar tanah terjaga kelembabannya. Kebutuhan benih 15 – 20 kg/ha. Pada musim hujan, digunakan jarak tanam 40 cm x 15 cm sehingga mencapai populasi 300–400 ribu tanaman/ha. Di musim kemarau digunakan jarak tanam 40 cm x 10 cm sehingga populasinya sekitar 400–500 ribu tanaman/ha. Jika tanaman mati, dapat dilakukan penyulaman pada umur tanaman tidak lebih dari 7 hari. Pada daerah endemik dengan hama lalat bibit dapat dilakukan perlakuan benih dengan insektisida berbahan aktif Carbosulfan (10 g/kg benih) atau Fipronil (5 cc/kg benih). Pemupukan Pada lahan-lahan subur bekas pertanaman padi, pemupukan disarankan tidak diberikan demikian juga dengan pupuk organik. Bagi lahan yang kurang subur, tanaman perlu dilakukan pemupukan sebanyak 45 kg Urea + 45–90 kg SP36 + 50 kg KCl/ha yang diberikan seluruhnya pada saat tanam secara larikan di sisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman. Selain itu, perlu ditambahkan bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 15–20 ton/ha dan abu dapur sangat baik untuk pupuk dan diberikan sebagai penutup lubang tanam. Dengan cara ini, diharapkan dapat meningkatkan hasil kacang hijau mencapai 1,5 t/ha. Penggunaan Mulsa Jerami Mulsa jerami yang dihamparkan di lahan pertanaman kacang hijau setelah tanam padi secara merata, dilakukan untuk mencegah serangan hama lalat bibit, memperlambat penguapan air tanah dan menekan pertumbuhan gulma . Dosis jerami yang dianjurkan diberikan 5 ton/ha atau sebanyak jerami yang dihasilkan dari pertanaman padi sebelumnya. Penyiangan Adanya gulma di pertanaman kacang hijau dapat menurunkan hasil hingga 60%, jika tidak dikendalikan secara optimal. Pengendalian gulma dilakukan tergantung pada banyaknya gulma. Biasanya penyiangan gulma dilakukan 2 kali, pada umur 15 HST dan 30 HST. Jika lokasi pertanaman sulit memperoleh tenaga kerja dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida yang berbahan aktif paraquat, oksifluorfen, oksadiazon dan lain-lain Pengairan Kacang hijau termasuk tanaman yang toleran dengan kekurangan air, yang penting tanah cukup kelembabannya. Namun bila tanah dalam keadaan kekeringan, sebaiknya segera lakukan pengairan terutama pada periode kritis yaitu saat menjelang berbunga (umur 25 hari) dan pengisian polong (45–50 hari). Pada daerah panas dan kering pertanaman perlu diairi dua kali pada umur 21 hari dan 38 hari. Sedangkan untuk daerah yang tidak terlalu panas dan kering, pengairan cukup diberikan satu kali pada umur 21 hari atau 38 hari. Pengendalian Hama dan Penyakit Hama utama kacang hijau adalah lalat kacang Agromyza phaseoli, ulat jengkal Plusia chalcites, kepik hijau Nezara viridula, kepik coklat Riptortus linearis, penggerek polong Maruca testutalis dan Etiella zinckenella, dan kutu Thrips. Pengendalian hama dapat dilakukan dengan insektisida, seperti: Confidor, Regent, Curacron, Atabron, Furadan, atau Pegassus dengan dosis 2–3 ml/liter air dan volume semprot 500–600 liter/ha. Penyakit utama adalah bercak daun Cercospora canescens, busuk batang, embun tepung Erysiphe polygoni, dan penyakit puru Elsinoe glycines. Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida seperti: Benlate, Dithane M-45, Baycor, Delsene MX 200 atau Daconil pada awal serangan dengan dosis 2 g/l air. Penyakit embun tepung Erysiphe polygoni sangat efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol yang diberikan pada umur 4 dan 6 minggu. Penyakit Embun tepung juga dapat dikendalikan dengan menggunakan varietas tahan seperti varietas unggul Sriti, Kutilang, Vima 1, Vima 4 dan Vima 5 Panen dan Pascapanen Panen dilakukan apabila polong berwarna hitam atau coklat. Pemanenan umumnya dilakukan dengan cara dipetik. Namun, varietas-varietas unggul kacang hijau yang ditanam dengan teknik budi daya dan pengairan yang tepat, akan masak serempak (³ 80%) sehingga dapat juga dipanen dengan sabit. Gunakan juga varietas kacang hijau Vima 2, VIma 3, Vima 4 dan Vima 5 memiliki keunggulan masak serempak,. Kacang hijau yang telah di panen, polongnya segera dijemur selama 2–3 hari hingga kulit mudah terbuka. Pembijian dilakukan dengan cara dipukul, sebaiknya di dalam kantong plastik atau kain untuk menghindari kehilangan hasil. Biji dijemur lagi sampai kering simpan yaitu kadar air mencapai 8–10%. Penulis : Ir. Sari Nurita (BPTP Kalimantan Barat) Sumber : Anonim, 2010. Teknologi Produksi Kacang Hijau. http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id /infotek/teknologiproduksikacanghijau/ Atman, 2007. Teknologi Budidaya Kacang Hijau (Vigna Radiata L.) Di Lahan Sawah. Jurnal Ilmiah Tambua, Vol. VI, No.1, Januari-April 2007: 89-95 hlm. ISSN 1412-5838 Cahyono, B., 2010. Kacang Hijau (Teknik Budidaya dan Analisa Usahatani). Aneka Ilmu. Rukmana, R., 1997. Kacang Hijau, Budidaya dan Pasca Panen. Kanisus. Yogyakarta Sriwulan, P.R Dan T. Retno S, 2017. Perbaikan Teknologi Budi Daya Kacang Hijau Dan Analisis Usaha Tani Di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon. ISSN: 2407-8050. Volume 3, Nomor 2, Mei 2017 ISSN: 2407-8050 Halaman: 183-188