Loading...

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI GREEN SUPER RICE DI LAHAN TADAH HUJAN KALIMANTAN BARAT

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI GREEN SUPER RICE DI LAHAN TADAH HUJAN KALIMANTAN BARAT
Pendahuluan Lahan sawah tadah hujan merupakan penyangga produksi dan lumbung padi ke dua setelah lahan sawah irigasi, namun tingkat produktivitasnya secara umum rendah dikarenakan kondisi tanah yang umumnya tidak subur, kekeringan dan minimnya manajeman air. Lahan sawah di Kalimantan Barat sebagian besar di dominasi lahan sawah tadah hujan, sehingga produktivitas padi masih sangat rendah 31,38 ku/ha. Salah satu strategi untuk meningkatkan produksi di lahan tadah hujan melalui teknologi budidaya dengan penggunaan varietas unggul baru. Varietas unggul merupakan salah satu teknologi yang berperan penting dalam peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian. Green Super Rice (GSR) merupakan salah satu varietas unggul tanaman padi yang dirancang untuk memiliki daya hasil tinggi, toleran terhadap cekaman biotik dan abiotik, serta efisien pemupukan dan air. GSR diharapkan memiliki daya adaptasi dan hasil yang baik pada kondisi sawah tadah hujan. Badan Litbang telah melepas beberapa padi GSR antara lain Inpari 42 GSR dan Inpari 46 GSR Tadah hujan dengan potensi hasil > 9 t/ha GKG. Kedua varietas ini dianjurkan ditanam pada lahan sawah, hanya Inpari 46 khusus sawah tadah hujan karena mempunyai ketahanan terhadap cekaman kekeringan. Varietas unggul Inpari 42 GSR dan Inpari 46 GSR ini telah dicoba di lahan tadah hujan Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat dengan hasil yang sangat memuaskan masing-masing 8,0 t/ha dan 7,6 t/ha. Teknologi budidaya yang diterapkan sebagai berikut : Persiapan Lahan Persiapan lahan dilakukan dengan olah tanah sempurna menggunakan hand traktor. Sebelum diolah, dilakukan penyemprotan gulma dengan menggunakan herbisida pra tumbuh Penyemaian Penyemaian padi dilakukan secara semai basah, dimana lahan persemaian diolah dengan sempurna. Sebelum disemai, benih direndam terlebih dahulu untuk memisahkan benih yang bernas dan hampa. Benih yang bernas diambil dan yang hampa dibuang. Benih yang bernas kemudian direndam selama 24 jam, setelah itu ditiriskan selama 24 – 48 jam. Sebelum disemai, benih diberi perlakuan dengan menggunakan pupuk hayati agimeth dengan dosis 500 gr/25 kg benih. Setelah diberikan pupuk hayati Agrimeth jangan lebih dari 3 jam benih sudah harus disemai karena jika terlalu lama mikroba yang ada akan mati terkenan panas. Untuk itu pemberian agrimeth ke benih dilakukan sedikit sedikit dan setelah itu di semai. Penanaman Penanaman padi dilakukan pada saat umur tanaman 18 – 20 hari setelah semai (HSS) dengan sistem tanam jajar legowo 4:1, jarak tanam 25 x 15 x 40 cm dengan 2 - 3 batang/lubang. Pemupukan Pemupukan dilakukan berdasarkan hasil analisa tanah dengan PUTS yang telah dikonversikan ke Pupuk NPK. Berdasarkan hasil analisa tanah diperoleh kandungan N sangat tinggi (200 kg urea/ha), P rendah (100 kg SP36 /ha) dan K tinggi (50 kg KCl/ha). Hasil ini dikonversikan ke pupuk NPK 16:16:16 menjadi 188 kg NPK/ha, 135 kg urea/ha dan 17 kg SP36/ha. Pemupukan dilakukan sebanyak 3 kali yaitu 1) pada umur 7-10 hari setelah tanam (HST) menggunakan urea 1/3 dosis, NPK 2/3 dosis dan semua SP36, 2) umur 25 – 28 HST (urea dengan Bagan Warna Daun/BWD, 1/3 dosis NPK), 3) umur 38 – 42 HST ( Urea berdasarkan BWD). Pemupukan dilakukan secara tabur merata di pertanaman. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Organisme pengganggu tanaman meliputi gulma, hama dan penyakit. Pengendaliangulma dilakukan melalui penyiangan sebanyak 2 kali sebelum pemupukan 2 dan ke 3 menggunakan herbisida serta secara manual tergantung banyaknya gulma. Beberapa hama yang menyerang tanaman padi adalah hama keong mas, orong-orong, hama putih palsu dan tikus. Pengendalian telah dilakukan menggunakan insektisida dan rodentisida. Panen dan Pasca Panen Panen dilakukan pada saat gabah/biji telah masak fisiologis, atau apabila 90 – 95% malai telah menguning. Panen dilakukan dengan sabit/sabit bergerigi dengn cara memotong tengah batang padi dan kemudian dirontok dengan menggunakan thresher. Setelah dirontok, gabah segera dijemur DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Prov. Kalimantan Barat. 2022. Kalimantan Barat Dalam Angka Tahun 2022. Pontianak Nurita et al.,. 2021. Produksi Benih Sumber Padi. BPTP Kalimantan Barat Penyusun : Ir. Sari Nurita_Penyuluh Pertanian BPTP Kalimantan Barat