1. LATAR BELAKANG Sejalan dengan program pemerintah lewat Departemen Pertanian dalam rangka peningkatan produksi beras dalam rangka pencapaian swasembada beras berkelanjutan.Salah satu kebijakan operasional untuk mewujudkan hal tersebut,ditetapkan target peningkatan produksi beras 2 juta ton atau setara 6,4 % pada tahun 2007 dan 5 % untuk tahun-tahun berikutnya sampai tahun 2009,yang telah menjadi komitmen bersama dan harus segera diimplementasikan. Propinsi Jawa Timur menanggung separuh dari peningkatan produksi tersebut Kabupaten Lamongan khususnya Kecamatan Karanggeneng yang terdiri dari 18 Desa yang meliputi 44 Kelompok Tani dan 2 Gabungan Krlompok Tani ( Gapoktan ),komonditas utama yang ditanam adalah padi.Upaya peningkatan produksi padi melalui inovasi teknologi varietas unggul baru menjadi sangat penting,karena peningkatan produksi padi selalu diikuti pertambahan penduduk. Peningkatan produksi padi sampai saat ini secara teknis selalu dihadapkan pada masalah-masalah,antara lain : 1.Alih fungsi lahan pertania. 2.Kesuburan lahan yang cenderung menurun. 3.Serangan hama dan penyakit. 4.Staknasi produksi. Terobosan untuk pencapaian peningkatan produksi salah satunya harus beralih pada varietas padi hibrida. TUJUAN. Peningkatan produksi beras baik kwantitas maupun kwalitas. Pencapaian persediaan stok pangan. Peningkatan pendapatan petani. TINJAUAN PUSTAKA Pemerintah mulai merilis padi hibrida tahun 2007 sebanyak 21 varietas baik dengan pengadaan impor ataupun produksi Balai Pembenihan Padi Nasional.Pada musim tanam tahun 2007 telah dilaksanakan pada lahan sawah,antara lain :SL-8,Hibrindo R1,Intani 2,PP 1,Bernas Super/Prima dan lain-lain .Secara umum padi hibrida mempunyai kelebihan dan kekurangan : Kelebihan : 1. Rata-rata produksi padi hibrida lebih tinggi dibanding dengan padi non Hibrida. Rasa nasi lebih enak dibanding non hibrida. Secara fisiologia aktifitas perakaran lebih luas dan area fotosintesis luas. Secara marfologi: perakaran lebih kuat ,anakan banyak,jumlah gabah per malai lebih banyak dan bobot 1.000. butir gabah isi lebih tinggi. Kekurangan:1. Harga benih yang mahal. Bisa ditanam hanya satu kali. Produksi benih rumit. Memerlukan areal penanaman dengan syarat tumbuh tertentu. Pada varieats Intani 2 dan Hibrindo R1 butir hampa pada gabah lebih tinggi dibanding varietas lain. Aspek Teknis Berdasarkan sifat kelebihan dan kekurangan padi hibrida secara teknis budidaya harus terjadi penekanan pada sumber benih,umur pesemaian,pemupukan,pengamatan dan pengendalian hama/penyakit dan penanganan saat panen. Aspek Ekonomis Secara ekonomi nilai keuntungan lebih besar dibanding dengan penanaman padi non hibrida. Aspek Sosial Merubah kebiasaan petani dari menanam padi non hibrida ke padi varietas baru ( hibrida ) tidak mudah. III. PELAKSANAAN Teknik Budidaya Padi hibrida merupakan keturunan pertama ( F 1 )hasil persilangan tanaman padi yang mempunyai potensi hasil 9 ton GKG per hektar atau 30 % lebih tinggi dibanding padi non hibrida,umur panen 115-120 hari setelah sebar,bentuk gabah ramping dan rasa nasi rata-rata pulen. Anjuran ditanam pada musim kemarau,pada lahan subur,pengairan terjamin.Bukan daerah endemis wereng coklat,tungro dan hawar daun bakteri.Benih padi hibrida hanya untuk sekali tanam,jika di tanam ulang produksinya sangat rendah. Persiapan pesemaian -Kebutuhan benih 20 Kg/ha. -Luas pesemaian 20 m2 / Kg benih atau luas pesemaian 400 m2. -Lahan pesemaian diolah hingga membentuk struktur lumpur, kemudian dibuat petakan dengan lebar 1 – 2 m, panjang disesuaikan, jarak antar petakan 30 cm,genangi air selama 2 hari. -Kering anginkan benih 1 – 2 jam,kemudian rendam selama 8 – 12 jam. -Peram benih selama 36 – 48 jam atau sampai keluar calon akar + 1 mm. -Sebar benih secara merata dengan kepadatan 50 gram/m2. -Untuk memudahkan pencabutan bibit,sebelum lahan pesemaian ditebari benih perlu diberi arang sekam. -Pada saat sebar benih, kondisi air macak-macak kemudian sehari setelah sebar sampai hari ke tujuh masukan air pada pagi hari dan keluarkan sore hari,setelah hari ke tujuh sampai siap tanam ketinggian air dijaga 2 – 5 cm. -Kendalikan hama dan penyakit dengan menganut falsafah Pengendalian Hama Terpadu ( PHT ). -Pada umur 15 – 18 hari ( jumlah daun 3 – 5 helai ) bibit siap dipindah kelahan pertanaman. Penanaman -Lahan diolah atau dibajak dan digaru agar tanah menjadi gembur. -Jarak tanam dengan larikan biasa 20 x 20 cm atau jajar legowo. -Jumlah bibit 1 – 2 batang per lubang tanam,dengan kedalaman 2 – 3 cm. Pemeliharaan a.Pengairan - Saat tanam sampai hari ke 4 macak-macak kemudian diairi setinggi 5 cm. - Pengairan sangat dibutuhkan pada saat pembentukan anakan, primordia. pembungaan dan pengisian bulir. - Keringkan lahan 10 – 15 hari menjelang panen. b.Pemupukan - Pemupukan Dasar, umur 0 – 14 HST, dengan Urea 50 Kg/ha dan Ponska 150 Kg/ha. - Pemupukan susula I, umur 18 – 21 HST, dengan Urea 50 Kg/ha dan Ponska 150 Kg/ha. - Pemupukan susulan II,berdasarkan Bagan Warna Daun ( BWD ). c.Penyiangan Lakukan penyiangan 2 kali pada waktu tanaman berumur 15 – 18 HST dan umur tanaman 25 – 30 HST. d.Pengendalian Hama dan Penyakit. Pengamatan hama dan penyakit dilakukan sedini mungkin sejak dipesemaian sampai menjelang panen.Lakukan pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan Agens hayati secara berkala,apabila serangan hama melebihi ambang batas ekonomi dilakukan pengendalian sesuai rekomendasi dari pihak terkait. Panen dan Pasca Panen Tanaman padi hibrida bisa dipanen pada umur 98 – 105 hari atau 95 % gabah mulai menguning.Panen sebaiknya menggunakan sabit bergerigi,dan perontokan dengan menggunakan power threser untuk mendapatkan mutu gabah yang lebih baik,karena bulir hampa dan kotoran tidak ikut.Lakukan penjemuran secepatnya sampai diperoleh kadar air 14 – 16 % agar mutu gabah/beras terjaga dan mempunyai daya simpan yang cukup lama. B.PERMASALAHAN - Benih mahal dan varietas yang sesuai dengan kondisi dilapangan sulit didapat. - Perlu perlakuan khusus. - Ketinggian air dilahan tidak bisa dikurangi sehingga petani masih menggunakan bibit yang umurnya tua. - Rentan hama dan penyakit,disenangi burung. - Memerlukan air yang cukup. - Pertumbuhan anakan yang tidak sama dan jumlahnya kurang. - Rasa nasi kurang enak. - Harga gabah lebih rendah dibanding non hibrida. C.PEMECAHAN MASALAH - Untuk menghindari mahalnya benih pemerintah perlu memberikan subsidi dan memperbanyak pemulia serta distribusi perlu dibenahi. - Diperlukan petunjuk khusus oleh produksen dan peneliti dalam hal perlakuan terhadap budidaya padi hibrida. - Pengamatan dan pengendalian hama dan penyakit mulai dari pesemaian sampai panen. - Penanaman sebaiknya pada lahan yang mempunyai air yang cukup dan drainase yang baik. - Pemberdayaan petani dan kelompok tani oleh pihak terkait. - Disarankan pada petani untuk menunda penjualan. Oleh : Immatur Roqi’in, S.TP (PPL KECAMATAN BABAT Sumber : Buku Panduan Budidaya Padi Hibrida