Sistem Tanam Jajar Legowo Padi adalah pola bertanam padi yang berselang-seling antara dua atau lebih (biasanya dua atau empat) baris tanaman dan satu baris kosong. Istilah legowo diambil dari bahasa jawa yaitu "lego" yang berarti luas dan "dowo" yang berarti panjang. Legowo juga diartikan sebagai cara tanam padi yang memiliki beberapa barisan dan diselingi satu barisan kosong. Dalam hal ini populasi rumpun padi pada baris yang kosong diletakkan/ disisipkan pada baris disebelahnya, sehingga cara Jajar Legowo ini tidak mengurangi jumlah populasi tanaman, namun cara tanam dengan menciptakan semua baris tanaman berada pada "Barisan Tepi". Teknologi Jajar Legowo Super merupakan teknologi budidaya terpadu padi sawah irigasi berbasis sistem tanam jajar legowo 2:1. Bagian penting dari teknologi jajar legowo super adalah : 1) Varietas unggul baru (VUB) potensi hasil tinggi, 2) Biodekomposer yang diberikan bersamaan saat pengolahan tanah, 3) Pupuk Hayati yang diaplikasikan melalui seed treatment dan pemupukan berimbang berdasarkan PUTS, 4) Pengendalian OPT menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang batas, dan 5) Alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam (jarwo transplanter) dan panen (combine harvester). Dalam upaya mendukung pencapaian sasaran produksi padi tahun 2017, ada dana APBN yang telah dialokasikan di daerah (Kabupaten/Kota/Provinsi) untuk Program Peningkatan Produksi dan Mutu Hasil Tanaman Pangan melalui kegiatan Pengembangan Jarwo Super seluas : 10.000 hektar. Kriteria spesifik untuk Pengembangan Jarwo Super.Program Peningkatan Produksi dan Mutu Hasil Tanaman Pangan melalui kegiatan Pengembangan Jarwo Super seluas : 10.000 hektar harus memenuhi kriteria spesifik yang dipersyaratkan yaitu : 1) Lokasi kegiatan diprioritaskan pada lahan sawah irigasi yang belum menerapkan jajar legowo; 2) Lokasi kegiatan diutamakan pada lahan yang belum menerapkan 5 komponen wajib (VUB potensi hasil tinggi, dekomposer, pupuk hayati, pestisida nabati dan alsintan) yang direkomendasikan oleh Badan Litbang. Budidaya Teknologi Jajar Legowo SuperTeknologi Jajar Legowo Super, merupakan implementasi terpadu teknologi budidaya padi dengan lima komponen teknologi pelengkap, hasil inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan).Jarwo atau jajar legowo sudah lama dikenal di kalangan petani, yang merupakan cara bertanam padi dengan jarak 2:1 atau 4:1. Pada jarwo super dilengkapi dengan pemanfaatan varietas unggul baru (VUB) padi dengan potensi hasil tinggi. VUB seperti Inpari 30, Inpari 32, serta Inpari 33. Komponen lainnya yakni penggunaan biodekomposer, yang merupakan bahan yang mengandung beberapa jenis mikroba perombak bahan organik seperti lignoselulosa. Biodekomposer mampu mempercepat pengomposan jerami secara insitu dari dua bulan menjadi 1-2 minggu. Hasil aplikasi Biodekomposer mempercepat perombakan jerami dan mengubah residu organik menjadi bahan organik tanah, meningkatkan ketersediaan NPK, sehingga menekan biaya pemupukan, dan menekan penyakit tular tanah. Penggunaan pupuk hayati dan pemupukan berimbang berdasarkan PUTS (perangkat uji tanah sawah) juga menjadi komponen pada jarwo super. Pupuk hayati adalah pupuk berbasis gabungan mikroba mikroba non patogenik yang dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), penambat Nitrogen dan pelarut Fosfat yang berfungsi meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah. Selanjutnya, terdapat komponen pengendalian organisme pengganggu tanaman dengan pestisida nabati dan anorganik, serta pemanfaatan alat mesin pertanian khususnya transplanter dan combine harvester. Teknologi Jarwo Super mendongkrak produksiDengan teknologi jarwo super bisa mendongkrak hasil panen padi hingga 14,4 ton per hektar. Berdasarkan hasil panen ubinan yang dilakukan oleh Tim terpadu BPS Indramayu, Peneliti Balitbangtan, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Indramayu, UPTD Kecamatan Bangodua, TNI dari Koramil Bangodua, dan beberapa Gapoktan di Indramayu, diperoleh produktivitas Gabah Kering Panen (GKP) di lokasi Demonstrasi Area (demarea) seluas 50 ha, diperoleh hasil bahwa Varietas Inpari 30 Ciherang Sub-1 sebesar 13,9 ton per hektar; Varietas Inpari 32 HDB sebesar 14,4 ton per hektar; dan Varietas Inpari 33 sebesar 12,4 ton per hektar, sedangkan rata-rata produktivitas pertanaman petani di luar dem-area dengan varietas Ciherang adalah 7,0 ton per hektar. Petani yang menerapkan paket teknologi ini secara penuh bisa mendapatkan produksi sekitar 10 ton Gabah Kering Giling (GKG)/ha per musim tanam dengan kata lain ada delta penambahan produksi sebesar 4 ton GKG/ha per musim tanam dibandingkan dengan rata-rata produksi Jajar Legowo biasa yang diterapkan di sawah irigasi sebesar 6 ton/ha/musim. Pengembangan Inovasi Teknologi ini dimaksudkan untuk mengantisipasi menyusutnya lahan pertanian, sementara permintaan terus meningkat. Bila inovasi teknologi Jajar Legowo Super ini dikembangkan di 20% dari total lahan pertanian irigasi saja, maka dapat menyumbang kenaikan produksi 3,84 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pertahun. Demikian informasi Teknologi Jarwo Super yang dapat disampaikan, semoga dengan program 10.000 hektar pengembangan jarwo super yang difasilitasi pemerintah dapat memberikan konstribusi untuk mencapai sasaran produksi padi tahun 2017. Selamat berkarya. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Padi Tahun 2017, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian.2) https://gapoktansekarsari.wordpress.com3) Sumber gambar : https://www.google.com