I. PENDAHULUAN Upaya pemerintah mewujudkan swasembada berkelanjutan untuk komoditas padi terus dilakukan. Saat ini salah satu teknologi budidaya padi salibu mulai berkembang. Teknologi Salibu adalah teknologi budidaya padi dengan memanfaatkan batang bawah setelah panen sebagai penghasil tunas/anakan yang akan dipelihara. Tunas ini berfungsi sebagai penganti bibit pada sistim tanam pindah (ta-pin).Penerapan budidaya padi salibu dengan memanfaatkan varietas berdaya hasil tinggi, tentu akan menggairahkan aktivitas usaha tani karena dapat diperoleh tambahan hasil yang sangat nyata (Erdiman, 2015). II. AGROEKOSISTEM LAHAN PASANG SURUT UNTUK BUDIDAYA PADI SALIBU ? Teknologi budidaya padi salibu lahan pasang surut sebaiknya dipilih lokasi yang tidak tergenang ketika air pasang.? Budidaya padi sistem ratun dilahan pasang surut banyak dilakukan pada musim tanam periode April “ September (tergantung keadaan curah hujan), dan diasumsikan bahwa sistem budidaya salibu juga dapat dilakukan.? Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7-10 hari setelah panen atau hingga keluar anakan baru. Apabila tunas yang keluar kurang 70 % dari populasi maka tidak disarankan untuk budidaya salibu. Jika tunas yang tumbuh > 70 % dari populasi dilakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. III. TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SALIBU Adapun tahapan utama dalam budidaya padi salibu sebagai berikut : a) Persiapan Lahan Untuk Budidaya Padi SalibuLahan dibersihkan dari jerami sisa panen dan gulma, khusus gulma dibersihkan secara mekanis dengan cangkul, sabit, atau herbisida. b) Pemotongan Ulang Sisa PanenPanen tanaman utama mengikuti cara petani dengan meninggalkan sisa batang / tunggul sekitar 25 cm dari permukaan tanah, selanjutnya dibiarkan selama 7-10 hari setelah panen atau hingga keluar anakan baru. Apabila tunas yang keluar kurang 70 % dari populasi maka tidak disarankan untuk budidaya salibu. Jika tunas yang tumbuh > 70 % dilakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm. Budidaya padi salibu melanjutkan pemeliharaan dari pemotongan sisa batang tanaman utama sejak awal Hari Setelah Pemotongan (HSP). c) Penjarangan / PenyulamanPenyulaman dilakukan dengan cara memecah (membagi dua) tunas yang tumbuh hingga perakarannya, kemudian dipecah antara 2-3 anakan, lalu disulamkan ke lokasi tanaman yang tidak tumbuh dengan baik. d) Pengendalian Hama dan Penyakit TerpaduPada budidaya padi salibu , ketika tanaman telah berumur 30 HSP, pengelolaan OPT dilakukan sama dengan tanaman padi pada umumnya yang didasarkan pada ekologi, efisiensi, ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan berkelanjutan. e) PemupukanPemupukan salibu dilakukan sama dengan tanaman utama atau sesuai dengan rekomendasi spesifik lokasi. Pemupukan pertama diberikan sebanyak 40% dari dosis saat tanaman berumur antara 15 “ 20 HSP.Pemupukan kedua diberikan sebanyak 60% dari dosis pada saat tanaman berumur 30 “ 35 HSP. f) Panen dan ProduktivitasPanen padi salibu dilakukan saat warna gabah menguning (95%) dan batang masih hijau lebih kurang padi salibu berumur 80-95 HSP. Panen menggunakan thresher atau sabit (dengan sisa tanaman maksimal 25 cm dari permukaan tanah). Tingkat produksi tanaman salibu sesuai input yang diberikan, diharapkan mampu berproduksi minimal sama dengan tanaman induknya. IV. ANALISA USAHA TANI Perbandingan Analisa Usaha Tani Padi Salibu dan Tanam Pindah NO URAIAN JUMLAH (Rp) SALIBU TANAM PINDAH I PENGELUARAN A Biaya Upah 7.240.000 9.570.000B Biaya Saprodi 840.000 1.100.000 Total Pengeluaran (C) 8,080,000 10,670,000 II Penerimaan (R) 27,200,000 25,600,000 III Keuntungan(R-C) 19,120,000 14,930,000 R/C 3.37 2.4 V. KEUNTUNGAN TEKNOLOGI PADI SALIBU a) Meningkatkan produktivitas lahan (4-6 ton/ha) melalui peningkatan IP (0,5 -1 x panen / tahun).b) Penghematan biaya produksi pada pengolahan tanah, tanam dan benih.c) Menanggulangi ketersediaan benih dan dapat mempertahankan kemurnian benih.d) Peluang pengembalian jerami lebih besar, terutama dari potongan batang sisa panen *Menuju pertanian organik yang ramah lingkungan*