Loading...

TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN LADA DENGAN BERBAGAI TANAMAN SELA

TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN LADA DENGAN BERBAGAI  TANAMAN SELA
Pendahuluan Tanaman lada memiliki peran penting dalam perekonomian nasional dan perekonomian di Bangka Belitung sebagai sumber devisa, penyedia lapangan kerja, bahan baku industri dan konsumsi langsung. Bertanam lada telah dilaksanakan secara turun menurun dan sudah merupakan budaya masyarakat di Bangka Belitung. Dalam bertani lada, petani masih secara subsisten dan tidak ramah lingkungan. Hal inilah yang menyebabkan produksi perkebunan lada rakyat relatif rendah dan jauh dari potensi optimalnya. Teknologi tanaman sela lada atau biasa dikenal dengan istilah multiple cropping adalah merupakan system tanam dalam satu areal lahan pertanian yang ditanami lebih dari satu jenis tanaman dalam satu periode yang sama dan diatur dalam barisan-barisan yang teratur dan rapi. Kegiatan budidaya tanaman lada tumpangsari dengan tanaman sela bertujuan untuk menerapkan teknologi budidaya lada secara tepat dengan menanam tanaman sela di bawah tanaman lada untuk optimalisasi lahan dan peningkatan pendapatan petani. Dalam pelaksanaan budidaya tanaman lada tumpangsari dengan tanaman sela agar dapat dimanfaatkan oleh petani dan pengguna lainnya di Bangka Belitung menggunakan metode antara lain : 1). Transfer teknologi dan pendampingan yang melibatkan penyuluh pertanian mengenai teknologi budidaya lada dengan tanaman sela, dan 2). Pembuatan demonstrasi plot (demplot) Hasil yang ini dilihat dalam pelaksanaan budidaya tanaman lada tumpangsari dengan tanaman adalah: 1). Meningkatnya wawasan petani terkait teknologi budidaya lada dan tanaman sela, 2). Petani mendapatkan pengalaman praktik langsung teknik budidaya daya lada yang tepat menggunakan bibit unggul, pupuk berimbang, sistem pemeliharaan yang baik seperti penyiangan gulma, penyulaman, dan pengairan, 3). Demplot sebagai percontohan untuk penerapan teknologi budidaya lada dengan tanaman sela seperti padi, kacang tanah, kacang kedelai dan sorgum. Untuk meningkatkan daya saing petani lada dapat ditempuh dengan meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan pemanfaatan lahan dan peningkatan produktivitas. Peningkatan pemanfaatan lahan dapat ditempuh dengan cara : 1) Meningkatkan populasi tanaman per satuan luas, (2) meningkatkan tanaman per satuan tiang panjat, 3). Meningkatkan tinggi tajar, 4). Menanam tanaman sela, dan 5). kombinasi dari ketiga cara tersebut di atas. Konsekuensi memperlebar jarak tanaman adalah tidak optimalnya pemanfaatan lahan karena populasi tanaman menjadi berkurang dan hal ini secara langsung akan berpengaruh terhadap hasil yang akan dicapai per satuan luas. Permasalahan seperti ini akan dapat dikompensasi melalui pemanfaatan lahan di antara tanaman lada dengan menanam berbagai macam tanaman sela yang kompatibel dan tidak menjadi pesaing bagi tanaman pokoknya, tidak menjadi inang bagi berkembangnya hama dan penyakit, dapat membantu memperbaiki kesuburan lahan, dan dapat meningkatkan pendapatan usahatani. Pendapat Para Ahli mengenai pola tanam lada dengan tanaman sela Wahid (1992) mengemukakan bahwa aspek penting yang harus dipertimbangkan dalam teknik budidaya pola tanam adalah kompatibilitas antara tanaman pokok dengan tanaman sela yang meliputi : 1). Tidak ada pengaruhyang saling merugikan di dalam pemanfaatan cahaya, hara, air, dan CO2, 2). Tidak memiliki hama dan penyakit yang sama, dan 3). Sedapat mungkin memiliki pengaruh yang saling menguntungkan dalam memenuhi kebutuhan haradanmenekan serangan hama dan penyakit. Dalam bidang pengelolaan hama, Risch (2005) mengemukakan bahwa pola tanam tanaman sela merupakan praktek budidaya yang penting dalam pengelolaan hama tanaman didasarkan pada prinsip peningkatan diversitas ekosistem. Beets (1982) menyatakan bahwa dibutuhkan teknik budidaya yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Efisiensi penggunaan lahan tersebut dapat ditingkatkan dengan menanam beberapa jenis tanaman dalam satu bidang yang sama dan waktu yang bersamaan. Teknik budidaya yang dapat dilakukan antara lain tumpang sari (inter croping) tanaman sela (alley croping), dan tumpang gilir (relay croping). Tanaman sela (alley croping) akan meningkatkan iklim mikro kondisi lahan pertanian dan juga hasil panen, lebih efisien dalam penggunaan sumber daya air dan hara, serta tenaga kerja. Tanaman sela selain meningktatkan kesuburan tanah dapat juga meningkatkan ekonomi dari lahan subur (Quikenstein et al. 2009). Sesuai dengan penelitian Setiawati dan Asandhi (2003) bahwa teknik tumpang sari dapat meningkatkan produktivitas total lebih tinggi (91-94%) daripada ditanam secara tunggal. Kesesuain tanaman sela dengan tanaman pokok menentukan keberhasilan penerapan pola pemanfaatan lahan. Menurut Nelliat (1974) kriteria yang harus dipenuhi dalam pemilihan tanaman sela adalah: Mencapai sasaran agronomi (agronomi possibility), yaitu pola yang diterapkan harus dapat menjamin penigkatan dan keberlangsungan produksi tanaman pokok dan tanaman sela. Memenuhi kelayakan sosial ekonomi (social desirablity and economic feseability), yaitu pola yang diterapkan sesuai dengan keadaan sosial petani dan menghasilkan nilai tambah yang dapat meningkatkan pendapatan petani. Praktis untuk diterapkan (applicable), yaitu sesuai dengan keterampilan dan budaya masyarakat petani. Di dukung oleh tersedianya institusi-institusi yang membantu petani dalam penyediaan sarana produksi, teknologi, unit pengolahan, dan penciptaan pasar dari produk-produk yang dihasilkan. Tumpangsari Tanaman Lada dengan tanaman Sela Beberapa kajian pola tanam tanaman lada dengan tanaman sela yang telah dilakukan antara lain: Pola tanam lada dengan tanaman obat (jahe, kunyit, temu lawak, kencur) + tanaman palawija (padi, jagung, kacang tanah, kedelai) Pola tanam tanaman lada dengan tanaman pangan (kacang-kacangan) dan hortikultura (pepaya, pisang dan cabe) Pola tanam tanaman lada dengan Colocasia taro menekan gulama dan serangan phythopthora. Beberapa tanaman sela yang diduga cukup kompatibel ditanam di antara tanaman lada perdu adalah tanaman sela kacang tanah dan kacang hijau. Kedua jenis tanaman ini merupakan tanaman darijenis leguminosa yang dapat juga memberikantambahan unsur hara, terutama unsur nitrogen hasil fiksasi dari udara. Di samping itu, kedua jenis tanaman sela ini tidak akan menjadi pesaing bagi tanaman lada perdu sebagai tanaman pokoknya dalam memanfaatkan sinar matahari karena habitus dan tajuk kedua jenis tanaman ini relatif lebih kecil dibandingkan tanaman pokoknya. Menyusun Materi Penyuluhan Pertanian melalui media elektronik Judul : Teknologi Budidaya Tanaman Lada dengan Berbagai Tanaman Sela Ditulis oleh : Minas Tiurlina Panggabean, SP, M.Si (BPTP Kepulauan Bangka Belitung) Sumber Bacaan : Berbagai sumber