Loading...

TEKNOLOGI BUDIDAYA UNTUK PRODUKSI BENIH CABAI

TEKNOLOGI BUDIDAYA UNTUK PRODUKSI BENIH CABAI
Mutu benih merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produksi tanamancabai, oleh karena itu jaminan mutu benih sangat diperlukan oleh petani pengguna. Mutu benih meliputi kebenaran varietas, mutu fisik, mutu fisiologis maupun status kesehatan tanaman. Sertifikasi benih wajib dilakukan untuk memproduksi benih bermutu tinggi. Dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura dinyatakan bahwa benih yang diedarkan wajib didaftar dan memenuhi standar mutu atau persyaratan teknis minimal. Teknis budidaya untuk produksi benih cabai disajikan berikut ini. Pengolahan tanah Tanah diolah dengan bajak kemudian dibuat bedengan dengan ukuran lebar 100 cm untuk cabai merah 50 cm untuk cabai rawit, tinggi bedengan 30 cm, lebar antar bedengan 80 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan. Pemberian pupuk dasar berupa pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha, kapur 5 ton/ha, dan TSP 150 kg, ZA 300 kg, dan KCL 150 kg diberikan seminggu sebelum tanam dan ditutup mulsa. Kemudian mulsa dibuat lubang tanam dengan jarak tanam untuk cabai merah 50 x 60 cm ditanam dua baris, sedangkan untuk cabai rawit dengan jarak tanam 50 cm ditanam satu baris. Penanaman tanaman barier Barier yang akan digunakan yaitu tanaman jagung yang berfungsi untuk mengisolasi tanaman cabai agar terhindar dari datangnya penyerbukan dari jenis tanaman cabai lainnya dari luar. Penanaman jagung sebanyak empat baris dengan jarak tanam 30 x 30 cm ditanam secara zig-zag, yang mengelilingi lahan penagkaran dan ditanam 2 minggu sebelum tanam cabai. Penyemaian dan penanaman benih Benih cabai disemai di dalam polibag semai dengan perbandingan komposisi media tanah dengan kompos 1 : 1. Sebelum disemai benih biji cabai diberi perlakuan benih dengan fungisida selama 1 jam, kemudian benih disemai satu biji per polibag. Selama masa pemeliharaan semaian ditaruh di dalam rumah benih yang terbuat dari sceen net (ukuran 50 mest). Pada umur 2 minggu dilakukan penyemprotan inducer ektrak bunga pagoda untuk meningkatkan ketahannya tanaman dari serangan penyakit virus di lapangan. Penanaman dilakukan setelah semaian berumur 1 bulan pada waktu pagi dan sore hari, kemudian diberi ajir pada setiap lubang tanam. Pemeliharaan Penyiraman tanaman dilakukan apabila tidak turun hujan. Penyiangan gulma dilakukan pada parit-parit antar bedengan untuk menghindari berkembangnya hama dan penyakit. Pemupukan susulan dilakukan dengan cara pengecoran yang dilakukan setiap 1 minggu sekali dengan dosis NPK 10 gr/liter air ditambah Trichoderma 1 gr/liter yang diberikan 200 ml setiap tanaman. Pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan berbagai teknik pengendalian serta penyemprotan pestisida setiap 1 minggu sekali sesuai dengan OPT sasaran. Pemeriksaan lapang oleh Pengawas Benih Tanaman (PBT) Pemeriksaan lapang dilakukan dua kali oleh petugas PBT yaitu pada saat masa vegetatif pada umur 20 hst sampai menjelang berbunga dan yang kedua pada fase generatif pada saat tanaman sudah berbunga dan telah terjadi pembuahan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui persentase campuran varietas lain, tipe simpang, dan kesehatan tanaman. Apabila ditemukan hal tersebut maka harus dilakukan roguing. Pascapanen dan Prosesing benih Pada saat pemanenan identitas kelompok benih harus jelas meliputi asal-usul, nomor kelompok, jenis, varietas, volume dan tanggal panen. Cabai dipanen pada saat masak fisiologis dengan ciri buah sudah merah merata. Kemudian prosesing benih dilakukan dengan metode ekstraksi basah. Buah cabai dipotong dibelah membujur, lalu direndam di dalam air selama 1 jam kemudian dicuci dan diremas-remas sampai biji keluar dari daging buah. Selanjutnya benih biji disaring, dicuci dengan air bersih selanjutnya direndam dengan larutan pemutih pakaian selama 10 menit dengan dosis 10 ml/liter air, kemudian dicuci kembali dengan air bersih. Biji yang sudah bersih dikering anginkan selama 3 hari, setelah itu dilakukan sortasi dengan mengeliminasi kotoran benih, benih tidak normal, dan benih hampa (tidak bernas). Kemudian dilakukan pengeringan kembali dengan oven pada suhu 30-35oC hingga mencapai kadar air dibawah 7%. Penerapan teknologi tersebut mampu menghasilkan benih biji cabai merah Kencana sebanyak 33,47 gr dan cabai rawit Prima Agrihorti sebanyak 56,96 gr per satu kilogram berat buah basah. Pemeriksaan Mutu Benih Pemeriksaan mutu benih dilakukan di laboratorium lembaga pengawas dan sertifikasi benih. Pengambilan contoh benih dilakukan oleh Petugas PBT. Uji labotarium meliputi kadar air, kemurnian fisik, daya kecambah, dan kesehatan benih. Tabel 1 Persyaratan teknis minimal mutu benih biji cabai No Variabel Persentase (%) 1 Kadar air maksimal 7 2 Benih murni minimal 99 3 Kotoran benih maksimal 1 4 Daya kecambah minimal 75 Sumber : Kepmentan No 42/kpts/SR.130/D/10/2019 Pelabelan dan pengemasan Pelabelan bisa dilakukan apabila sudah lulus uji laboratorium berdasarkan persyaratan teknis minimal yang telah di tetapkan. Untuk kelas benih sebar diberi label biru. Pada label kemasan harus mencantumkan keterangan berupa benih murni, kadar air, daya kecambah, nomor kelompok benih, tanggal kadaluarsa. Benih dikemas dalam wadah kantong terbuat dari bahan alumunium foil sebanyak 10 gr per kemasan. Sri Suryani M. Rambe dan Kusmea Dinata Sumber: Balitsa dan BPTP Balitbangtan Bengkulu