Pendahuluan Tanaman padi merupakan komoditas utama tanaman pangan yang diusahakan umumnya masyarakat Indonesia, tidak terkecuali di Kabupaten Sambas yang merupakan daerah sentra pengembangan padi di Kalimantan Barat. Padi di Kabupaten Sambas sebagian besar di usahakan pada lahan pasang surut yang merupakan lahan sub optimal, sehingga tidak mengherankan produktivitas padi di Kabupaten Sambas masih rendah 27,22 ku/ha. Namun demikian, Kabupaten Sambas sampai saat ini masih menjadi penyumbang padi terbesar di Kalimantan Barat. Disisi lain, Kabupaten Sambas saat ini dihadapkan dengan angka stunting yang masih tinggi sekitar 32,06 persen atau di atas angka Provinsi Kalbar sebesar 29,08 persen. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekeurangan gizi dalam waktu yang lama sehingga anak lebih pendek dari anak normal seusia dan memiliki keterlambatan berpikir. Salah satu zat yang penting untuk membantu pertumbuhan adalah seng (zinc) dan ironisnya defisiensi gizi Zn banyak terjadi dinegara-negara yang menjadikan padi sebagai sumber pangan. Kondisi ini menjadikan alasan untuk melakukan biofortifikasi padi yang dapat meningkatkan kadar Zn beras giling. Badan Litbang Pertanian tahun 2019 telah melepas varietas unggul Inpari Nutri Zinc yang kaya seng (zinc) sebagai alternative pencegah stunting. Inpari IR Nutri Zinc memiliki kandungan Zn tinggi 34,51 ppm lebih tinggi daripada varietas padi umumnya di Indonesia, khususnya Ciherang (24,01 ppm). Selain itu, Inpari Nutri Zinc memiliki potensi hasil tinggi ± 9,98 t/ha, tektur nasi pulen, relative tahan WBC biotie 1 dan 2 serta tahan blas ras 033, 073 dan 133. Dengan kandungan gizinya (zinc) serta potensi produksinya yang tinggi, diharapkan penerapan varietas Inpari IR Nutri Zinc, dapat membantu mengatasi kekurangan gizi zinc pada masyarakat, serta meningkatkan produktivitas padi di Kabupaten Sambas. Produktivitas Inpri Nutri Zinc akan optimal, jika teknologi budidayanya diterapkan secara tepat dan benar. Teknologi Budidaya Varietas Inpari IR Nutri Zinc Varietas Inpari IR Nutri Zinc pertama kali di ujicoba dalam bentuk demplot di Lahan pasang surut tipe luapan C desa Lonam Kecamatan Pemangkat Kabupaten Sambas pada musim tanam Gadu 2021 seluas ± 1 Ha dengan 5 orang petani kooperator. Lahan pasang surut tipe luapan C adalah lahan pasang surut yang tidak terluapi baik pasang besar maupun pasang kecil dengan kedalaman muka air tanah < 50 cm. Teknologi budidaya yang digunakan adalah teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dengan komponen teknologi sebagai berikut : Varietas Unggul Inpari Nutri Zinc dan benih bermutu (kelas benih SS/label ungu) Perlakuan benih dengan fungisida sistemik Perlakuan benih dengan fungsiisda sistemik dilakukan untuk mencegah penyakit blas. Caranya : rendam benih sebanyak 1 kg dengan 4 gr fungisida sistemik dalam 1,5 liter air selama 12 - 24 jam dan dibolak balik setiap 6 jam sekali. Kemudian ditiriskan selama 12 jam. Setelah itu disemai Penanaman Penanaman dilakukan pada umur < 21 hari setelah semai dengan sistem jajar legowo 4:1, 2-3 bibit/lubang tanam. Penggunaan bahan organic dengan mengembalikan jerami ke lahan. Pemupukan Pemupukan dilakukan dengan doisis 200 kg Urea/ha, 100 kg SP36/ha dan 75 kg KCl/ha. Pemupukan dilakukan pada 3 kali yaitu pada umur < 14 hari setelah tanam (HST) dengan 1/3 dosis urea, semua SP36 dan KCl, umur 25-28 HST dan 38-42 HST berdasarkan Bagan Warna Daun (BWD). Pemupukan dilakukan secara sebar merata. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Organisme pengganggu tanaman terdiri dari gulma dan hama penyakit tanaman. Pengendalian gulma dilakukan dengan menggunakan herbisida dan manual tergantung banyaknya gulma. Pengendalian hama penyakit dilakukan berdasarkan konsep pengendalian hama terpadu. Panen dan Pasca Panen Panen dilakukan dengan menggunakan combine harvester. Setelah panen dilakukan penjemuran padi sampai kadar air giling ± 14% jika untuk konsumsi dan 10-13% untuk benih. Kegiatan pasca panen dilanjutkan dengan pengemasan dan penyimpanan. Penerapan teknologi di atas memberikan hasil yang memuaskan dengan produksi riil mencapai 4,8 t/ha – 5,4 t/ha, sedangkan petani disekitar yang menggunakan varietas lain (Inpari 32) hanya berproduksi 3,0 t/ha – 3,6 ton/ha. Hasil kegiatan ini telah disertifikasi menjadi benih dan disebarluaskan di Kabupaten Sambas, dengan harapan varietas ini dapat diterima dan berkembang di masyarakart luas terutama pada daerah-daerah yang provitasnya rendah dan memiliki angka stunting yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan membantu mengatasi stunting. Sumber : Sastro et al., 2021. Deskripsi Varietas Unggul Baru Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Nurita, S., 2021. Laporan Akhir Demplot Pengembangan VUB Padi Khusus dan VUB Padi Spesifik Lokasi di kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. BPTP Kalimantan Barat. Penyusun : Ir. Sari Nurita_Penyuluh Pertanian BPTP Kalimantan Barat