TEKNOLOGI IRIGASI HEMAT AIR DENGAN PENGELOLAAN BASAH KERING (PBK) /ALTERNATE WETTING AND DRYING (AWD)
PENDAHULUAN Salah satu permasalahan sumberdaya air adalah kebutuhan air yang terus meningkat berbanding lurus dengan bertambahnya jumlah penduduk, sehingga kebutuhan akan pangan juga semakin meningkat. Saat ini kebutuhan air didominasi oleh kebutuhan air pada sektor pertanian. Hal ini dikarenakan sistem irigasi sebagian besar petani masih menggunakan sistem penggenangan secara terus menerus (metode konvensional) ketika menanam padi. Sistem irigasi konvensional adalah sistem irigasi yang boros air. Kondisi tersebut diperparah dengan perilaku sebagian petani yang masih memberikan air pada lahan mereka secara berlebihan. Kondisi ini menyebabkan sawah yang berada di hilir mengalami kekurangan air. Salah satu usaha untuk memperluas areal irigasi yang terairi adalah dengan menerapkan sistem irigasi hemat air di lahan padi sawah. Sistem irigasi hemat air adalah sistem irigasi yang pemberian airnya dilakukan secara terputus-putus (intermitten). Pada prinsipnya teknologi irigasi hemat air adalah mengurangi kebutuhan air yang tidak produktif seperti rembesan, evaporasi dan perkolasi. Disamping itu dalam irigasi hemat air dipertahankan aliran transpirasi (Hilman 2011). Teknologi irigasi hemat air dengan pengelolaan alternate wetting and drying (AWD) atau dikenal dengan istilah pengairan basah kering (PBK) menambah efisiensi penggunaan air dan tidak menyebabkan punurunan hasil. Menurut (Sujono 2012) berdasarkan pada nilai koefisien tanam (kc) pemberian air sistem AWD dapat menghemat air lebih dari 30% dibandingkan dengan sistem tradisional. Langkah pembuatan pipa AWD adalah dengan menyiapkan pipa sepanjang 35 cm dengan diameter 2-5 cm, membuat lubang kecil-kecil setinggi 20 cm pada pipa, pipa yang sudah diberi lubang ditanam pada petakan sawah dan diatas permukaan tanah setinggi 15 cm. Sedangkan aplikasinya adalah AWD dipasang sebelum/sesaat setelah tanam dan baru dibenamkan sedalam 20 cm dengan ketinggian AWD 15 cm diatas permukaan tanah, setelah AWD dipasang maka tanah didalam pipa dikeluarkan, pengukuran dimulai pada 7-10 hst pada setiap tapin dan 21 hst pada sistem tabela, tingkat level air dimonitor setiap dua hari sekali dan dicatat, padi tidak perlu digenangi setiap hari, pada saat pembungaan pertahankan ketinggian air sekitar 3-5 cm dari permukaan tanah, pada saat pengisian bulir tanaman padi digenangi air serta pada saat 7-10 hari sebelum panen sawah dikeringkan. Pipa harus ditempatkan di bagian yang mudah diakses dari lapangan dekat dengan pematang sehingga memudahkan untuk memantau kedalaman airnya. Kedalaman air hendaknya mewakili kedalaman air rata-rata dari lahan sawah. Penerapan AWD dapat dimulai pada 1-2 minggu setelah penanaman bibit padi. Apabila terdapat banyak gulma, AWD dapat ditunda selama 2-3 minggu untuk membantu menekan pertumbuhan gulma. Pada saat masa berbunga AWD perlu dihentikan sementara selama seminggu sebelum berbunga sampai dengan seminggu setelah berbunga selanjutnya AWD diterapkan kembali hingga menjelang panen, Kuntungan Alternate wetting and Drying Dapat menghemar air 17% s/d 20 Bertambahnya angka produktivitas air 3. Dapat mencegah beberapa hama nematode di zona perakaran dan hama wereng coklat Emisi gas metan dapat diturunkan Kualitas gabah dapat ditingkatkan Dengan kondisi tanah yang berubah-ubah dari basah ke kering dapat menyebabkan meningkatkan terserapnya unsur hara Terakumulasinya besi (Fe) dalam tanah yang menyebabkan tanaman menjadi beracun dapat dikurangi Penggunaan gasrok/landak dalam penyiangan sekaligus dapat mencampur pupuk dan tanah, sehingga efisien Sistem perakaran lebih dalam sehingga batang padi lebih kuat dan tidak mudah rubuh. Metode Kerja Alternate Wetting and Drying (AWD) Lahan digenangi air setinggi 2 - 5 cm, Kemudian pemberian air dihentikan dan dibiarkan elevasi muka air turun secara alami. Pemberian air irigasi diberikan kembali hingga ketinggian awal ketika elevasi muka air di lahan turun hingga batas kedalaman -10 cm sampai dengan -15 cm dari muka tanah. Untuk memonitor elevasi muka air di lahan menggunakan bantuan paralon dengan panjang 35 cmyang di tanam dilahan dengan dinding paralon yang masuk ke tanah sekitar 20 cm dan dinding paralonnya diberi lubang. Sesaat setelah paralon ditanam di lahan, tanah yang berada di dalam paralon dikeluarkan, sehingga akan nampak elevasi muka air di dalam paralon yang mencerminkan elevasi muka air di lahan. Elevasi muka air dalam paralon diukur kedalamannya dengan menggunakan alat ukur penggaris atau meteran. Pengairan sistem ini dilaksanakan dari tanaman berumur 7 - 10 hari sampai dengan 7 hari sebelum dipanen, Umur 7 hari sebelum dan setelah fase pembungaan lahan selalu digenangi agar tidak mengurangi hasil produksi (Munarso 2011). Penyusun : Dede Rohayana Referensi : Berbagai Sumber