Pencetakan sawah baru di lahan kering masam menghadapi banyak kendala antara lain rendahnya pH, kandungan bahan organik dan unsure hara tanah yang rendah (Ca, Mg, K, P, N), serta adanya unsur besi yang dapat meracuni tanaman padi. Tanpa pengelolaan yang tepat, maka sawah bukaan baru akan berproduksi stabil setelah 10-15 tahun. Di Kabupaten Dharmasraya, hasil yang diperoleh petani pada sawah bukaan baru hanya berkisar 0,8 - 2,3 ton GKP/ha/MT dengan total penerimaan hanya berkisar Rp. 2 juta sampai Rp. 5,75 juta/ha/MT, sedangkan total biaya produksi mencapai Rp. 4,5 - Rp. 5 juta/ha/MT. Teknologi Lado-21 meliputi beberapa aspek budidaya, yaitu penggunaan varietas yang sesuai, penyiapan dan pengelolaan lahan yang tepat, pemupukan yang berimbang, dan pengelolaan sistem pengairan yang sesuai, serta pengendalian jasad pengganggu. Lingkungan Akar Di Oksidasi (LADO) minimal selama 21 hari. Pada perlakuan Lado-21 tanaman terhindar dari keracunan besi. Pengelolaan lahan dan air dengan sistem Lado-21 memberikan rata-rata hasil 31 gram/pot. Penerapan teknologi Lado-21 secara tepat dan benar dapat meningkatkan hasil 2-3 kali lipat dibanding cara konvensional yaitu dari 1,8 ton/ha GKP meningkat menjadi 4,689 ton/ha GKP dengan tingkat keuntungan yang diproleh mencapai Rp. 8.832.250,-/ha/MT. Aplikasi teknologi ini di tingkat pertani pada musim tanam pertama memberikan rata-rata hasil 3,487 ton/ha/MT GKP dengan tingkat keuntungan bersih mencapai Rp. 6.031.750,/ha/MT. Teknologi Lado-21 telah diadopsi secara baik oleh sebagian besar petani peserta cetak sawah baru yaitu sekitar 80% dari 4000 ha total luas cetak sawah baru irigasi Batang Hari. Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian,2011 Ismon Lenin ,Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat, 2011