PENDAHULUAN Tanaman kakao termasuk tanaman tahunan yang tidak tahan terhadap cekaman air, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang disebab kan beberapa hal: kurang naungan, jenis tanah yang tidak dapat menahan air dan musim kemarau yang panjang. Bila kakao ditanam pada lahan kering disertai perubahan iklim perlu upaya yang tepat agar tanaman tumbuh baik dan berproduksi maksimal. Salah satu perubahan iklim yang terjadi adalah kekeringan, yang menghambat proses fotosintesis dan metabolismetanaman, bunga gugur, tanaman layu bahkan mati sehingga produksi kakao menurun. Kekeringan yang sering terjadi, pada Juli sampai September dapat menurunkan hasilkakao 60–70% dari total produksi. Kondis ini berdampak pada perekonomian Nasional, karena kakao menjadi salah satu komoditas ekspor penghasil devisa dan penyedia bahan baku industri. Oleh karena itu untuk mempertahankan produksi maupun luas areal kakao yang ditanam di lahan kering dan efek negatif kemarau panjang diperlukan aplikasi teknologi yang tepat. LAHAN KERING BERIKLIM BASAH Dilihat dari kemiringan lereng, lahan kering yang potensial untuk pertanian adalah yang mempunyai kemiringan < 15%, luasnya diperkirakan 34,6 juta ha dan tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya dan sekitar 20,7 juta ha (60%) adalah tanah masampodsolik merah kuning yang umumnya tersebar pada daerah beriklim basah dengan bahan induk yang miskin unsur hara, produktivitas rendah. Berdasarkan curah hujan, lahan kering beriklim basah berada pada wilayah dengan tipe iklim A (9 bulan basah) dan B ( 7- 9 bulan basah). Kendala yang dihadapi pada lahan kering beriklim basah adalah pH yang masam. Kondisi ini menyebabkan hampir semua tanaman tidak dapat tumbuh secara normal. APLIKASI TEKNOLOGI Pemberian Mikoriza Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa mikoriza arbuskula mampu melindungi tanaman dari stress biotic dan abiotik, berperan memfasilitasi serapan hara tanaman melalui hifa eksternal khususnya P, Zn, dan Cu. Mikoriza berinteraksi dengan berbagai macam organism tanah pada akar tanaman yang memodifikasi proses-poses fisiologis tanaman inang. Hasil penelitian membuktikan pemberian inokulum cendawan mikoriza nyata meningkatkan efisiensi penyiraman dari satu hari sekali menjadi tiga hari, dan lima hari sekali sehingga efisiensi 200-400 % atau dapat menghemat penyiraman bibit kakao sebesar 2-4 kali dibanding kan penyiraman 1 hari sekali pada bibit kakao. Prinsip kerja Mikoriza adalah menginfeksi system perakaran tanaman inang, memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut mampu meningkatkan kapasitas penyerapan hara (Rungkat, 2009). Penggunaan Varietas Tahan Kekeringan Penggunaan varietas kakao tahan kekeringan seperti SCA 6, Amelando dan TSH 919. SCA 6 mempunyai kandungan prolin daun yang tinggi pada cekaman kekeringan . Berdasarkan hasil penelitian, SCA 6 dan Amelonado adalah klon yang paling tahan/toleran terhadap kadar lengas tanah rendah/cekaman kekeringan; klon yang toleransi sedang meliputi: SCA 12, GC 7 dan ICS 6; sedangkan yang toleransi rendah adalah ICS 60 dan UIT 1 dan klon PA 191 . Pembuatan Rorak Rorak menjadi alternatif untuk memanen air dan meningkatkan kelengasan tanah, serta mengendalikan erosi. Dari hasil penelitian rorak yang dikombinasikan dengan mulsa vertikal (slot mulch) mampu mengurangi erosi sampai 94%. Buat rorak dengan ukuran 0,4 m (panjang) x 0,4 m (lebar) x 0,8 m (kedalaman). Rorak diisi dengan material organik/mulsa untuk membuat lebih efektif dalam memperbaiki struktur dan poros kapiler tanah dan meningkatkan kapasitas kemampuan mengikat air. Daun hasil pangkasan tanaman dapat digunakan sebagai mulsa yang ditimbun dalam rorak. Pembuatan Penampungan Air Penampungan air berfungsi menyediakan air irigasi pada musim kemarau, juga dapat mengurangi resiko banjir saat musim hujan dan bermanfaat untuk lahan yang tidak mempunyai jaringan irigasi. Penampungan dilakukan dengan cara menampung air hujan atau aliran air pada tempat penampungan berupa kolam sementara atau permanen. Untuk kolam permanen, bahan bangunan bisa dari beton atau bahan kedap air lainnya, yang mampu menyerap dan menahan air sekitar 65 % persen dari volume hujan, model permanen cocok untuk daerah dengan tipe tanah memiliki permeabilitas tinggi. Bila bangunan kolam semi permanen, bangunan dibuat dari timbunan tanah yang mampu menyerap dan menahan air sekitar 30 – 50 % dari volume hujan. Model ini cocok untuk tipe tanah yang mempunyai permeabilitas rendah. Pupuk Organik Pupuk hijau berfungsi untuk memperbaiki kondisi tanah, berperan penting untuk tipe tanah kurang subur. Limbah yang digunakan berasal dari: limbah kakao atau limbah seresah lainnya, efektif dengan dosis 20-30 ton /ha/tahun. Hasil penelitian menunjukan penambahan 10-20 kg/pohon/tahun kompos disertai setengah dosis anjuran pupuk anorganik dapat meningkatkan produksi kakao sekitar 75 kg/ha/tahun dan hasil buah meningkat sekitar 30 % bila yang digunakan pupuk kandang. Dari satu ha buah kakao yang dipanen akan diperoleh 6200 kg kulit buah dan 2178 kg biji basah, yang dapat diolah menjadi kompos untuk menambah bahan organik tanah. Hasil penelitian menyebutkan kandungan hara kompos dari kulit kakao sbb : 1,81 % N, 26,61 % C-Organik, 0,31 % P2O5, 6,08 % K20, 1,22%Ca0, 1,37 % Mg0 dan 44,85 cmol/kg KTK, yang dapat meningkatkan produksi 19,48 %. Pembenah Tanah Bahan pembenah terbagi 2 yaitu pembenah tanah organik dan anorganik.Pembenah tanah organik alami antara lain: blotong, lateks, dan bahan pembenah tanah anorganik seperti emulsi aspal, zeolit, kapur pertanian dan posfat alam. Hasil penelitian di KP Taman Bogo, diperoleh bahwa pemberian formula biochar sekam padi dan tempurung kelapa sawit yang diproduksi melalui pembakaran selama 3,5 jam yang diformulasikan dengan pupuk kandang dengan dosis 5-7,5 ton/ha mampu memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Pemupukan yang tepat Pemupukan bertujuan memperbaiki kondisi tanaman agar tumbuh dengan baik. Bila dipupuk dengan baik tanaman mempunyai struktur akar lebih lebar, sehingga mampu menggunakan air tanah lebih efektif . Pupuk campuran yang dapat diberikan ,: Urea 0,5 %, MgSO4 10,5 %, dan 0,2 % MnSO4. Hasil penelitian pemberian kascing sebagai pupuk organik pada dosis 10 g yang dikombinasikan dengan 50 % pupuk anorganik mampu menaikkan pH tanah. Tanaman Penutup Tanah Tanaman penutup tanah bermanfaat untuk menjaga agregat tanah dari tetesan air hujan, menekat erosi, mempercepat tingkat infiltrasi serta dan meningkatkan aktivitas biologisdi serta tingkat kesuburan tanah. Integrasi tanaman penutup tanah di perkebunan kakao dapat menyumbangkan bahan organik sekitar 4 ton/ha (Arachis pintoi) dan 5 ton/ha (Calopogonium caruleum) Naungan Rusaknya pertanaman kakao akibat kemarau panjang disebabkan kurangnya naungan. Pohon penaung yang efektif adalah lamtoro dengan kepadatan 200-300 pohon/ha untuk daerah basah dan sedang. Kemudian dengan kepadatan 600 pohon/ha untuk daerah kering. Hasil penelitian menyebutkan kebutuhan matahari untuk tanaman berumur 3-4 bulan sekitar 35-40 %, makin tua umur tanaman makin tinggi kebutuhan cahaya matahari. Naungan diperlukan untuk menghindari matahari langsung terutama saat pembibitan, pada pembibitan diperlukan penyinaran 25-35 % matahari, sedangkan tanaman dewasa 65-75 %. Adanya naungan dan seresah tanaman kakao berpengaruh pada kadar air tanah. Disarankan untuk daerah dengan musim kering tegas sebaiknya tidak menggunakan pisang Giant cavendish sebagai penaung sementara karena banyak menyerap air. Pemangkasan Lakukan pemangkasan secara selektif dengan cara membuang bagian tanaman yang tidak produktif guna mengurangi tingkat transpirasi yang secara tidak langsung mengawetkan kandungan air tanah. Pemangkasan berat dilakukan pada awal musim hujan dan pemangkasan ringan dilakukan pada saat kekeringan panjang. Sumber : Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Penyusun : Nasriati