Guna meminimalisasi dampak negatif terjadinya perubahan iklim serta menurunkan emisi Gas Rumah Kaca/GRK (yaitu gas-gas di atmosfer yang memiliki kemampuan untuk menyerap radiasi matahari yang dipantulkan oleh bumi sehingga menyebabkan suhu diperrmukaan bumi menjadi hangat/ CH4, N20 dan CO2), dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: Pengelolaan Tanpa Olah Tanah (TOT) di lahan sawah Sistem tanpa olah tanah merupakan bagian dari konsep olah tanah konservasi yang mengacu kepada suatu sistem olah tanah yang melibatkan pengolahan mulsa tanaman ataupun gulma. Persiapan lahan cukup dilakukan dengan penyemprotan, gulma mulai mati dan mengering, lalu direbahkan selanjutnya dibenamkan dalam lumpur. Teknologi tanpa olah tanah mampu mereduksi laju emisi gas metan 31,5-63,4% dibanding teknologi olah tanah sempurna. Cara melakukan teknik TOT (pada lahan sawah): Lahan sawah yang akan dimanfaatkan untuk usaha tani padi tanpa olah tanah dikeringkan dengan membuka saluran air keluar dan menutup saluran air kedalam lahan sawah. Buatlah persemaian dengan ukuran 4 x 4 m dan selanjutnya benih disemaikan. Seminggu setelah penyemaian benih, lahan sawah disemprotkan herbisida. Lima hari setelah penyemprotan, masukkan air ke sawah dan jaga ketinggian air sekitar 2 - 5 cm dan biarkan air itu selama 5 - 10 hari. Lakukan persiapan tanah dengan membabat atau merebahkan selanjutnya membenamkan sisa singgang dan gulma ke dalam lumpur. Umur 21 hari bibit padi ditanam dengan jarak tanam 15 x 20 cm diikuti dengan pemupukan Urea 250 kg/Ha, TSP 100 kg/Ha dan KCL 100 kg/HA. Pada umur 80 - 110 hari dapat dipanen dengan menganjurkan agar memotong padi ketinggian 20 cm. Hal ini dimaksudkan agar penanaman berikutnya setelah penyemprotan dapat memudahkan singgang dibenam dalam lumpur. Untuk penanaman berikut biarkan singgang dan gulma tumbuh selama 1-2 minggu selanjutnya semprotkan Herbisida dan lakukan pekerjaan seperti urutan diatas. Pengelolaan perkebunan yang ramah lingkungan Untuk mengurangi emisi GRK, pengelolaan perkebunan harus ramah lingkungan dengan melakukan hal-hal sebagai berikut : Pengembangan tanaman perkebunan, terutama kelapa sawit dan karet pada lahan semak belukar dan alang-alang; Pemanfaatan lahan alang-alang (cadangan karbon rendah) menjadi lahan perkebunan yang mempunyai cadangan karbon tinggi. Penggunaan limbah tanaman perkebunan sebagai sumber bahan organik dan sumber bioenergi; Melakukan peremajaan tanaman perkebunan yang sudah menurun produksinya; Pengolahan limbah kelapa sawit Pengelolaan pertanian di lahan gambut Untuk mengurangi emisi GRK, pengelolaan lahan gambut dilakukan dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku yaitu : Menerapkan Permentan No. 14/2009 tentang pemanfaatan dan pengelolaan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit; Dalam pengembangan perkebunan di lahan gambut, menerapkan teknologi pengolahan lahan tanpa bakar (PLTB); Pemilihan jenis tanaman yang tidak memerlukan sistem draenasi yang dalam; Pengembangan teknologi ameliorasi untuk mengurangi emisi CO2 dari lahan gambut. Pengurangan emisi GRK di lahan gambut dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu : Cara 1 : Pemberlakukan Permentan No. 14/2009 secara utuh/efektif (pemanfaatan dan pengelolaan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit), yang diperkirakan dapat menurunkan emisi CO2 sekitar 7-10%; Cara 2 : Melaksanakan skenario 1, diikuti PLTB serta perbaikan pengelolaan air, yang diperkirakan dapat mengurangi emisi CO2 menjadi sekitar 19-25% ; Cara 3 : Melaksanakan Skenario 2, diikuti dengan penambahan amelioran, yang diperkirakan dapat mengurangi emisi CO2 sebesar 25-31%. Selain itu teknologi diatas dapat juga dilakukan dengan teknologi sebagai barikut: Penggunaan pupuk organik dan teknologi zero waste Adalah kegiatan pengolahan limbah pertanian dengan teknik fermentasi untuk menghindari pembakaran limbah pertanian. Tujuannya yaitu memanfaatkan sisa limbah pertanian untuk digunakan kembali dalam aktiviats usaha tani. Seperti pembuatan pupuk organic dan pengolahan sebagai pakan ternak. Dengan adanya pengolahan limbah pertanian dan menghindari pembakaran, maka akan mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan hara tanaman. Penggunaan pupuk organic disamping penggunaan pupuk anorganik akan meningkatkan hasil pertanian. Pada tanaman padi, penggunaan pupuk organic dapat berasal dari jerami yang dikomposkan terlebih dahulu, Pupuk organic dari jerami ini kaya akan unsur K, namun mengandung sedikit N. Teknik zero waste dari penggunaan limbah dapat menghasilkan pupuk organic dan juga dapat menghasilkan pakan ternak. teknologi “Zero waste” yaitu pemanfaatan limbah (organik) pertanian melalui pembuatan biogas, pengolahan limbah perkebunan. Pembuatan kompos yang berasal dari sisa limbah pertanian dengan menggunakan decomposer, menggunakan bahan baku yang berasal dari jerami. Pembuatannya dapat dilakukan di lahan sawah yang sedang diberakan, dapat juga dilakukan di lahan kering terbuka. Disamping itu, pembuatan kompos juga dapat dilakukan di dalam lubang. Pengomposan jenis ini sangat cocok diterapkan di daerah sulit air atau daerah bercurah hujan rendah. Pengembangan teknologi biogas Pemanfaatan energi biogas pertanian dapat mengurangi efek gas rumah kaca, karena dapat mengurangi emisi gas metana yang dihasilkan pada dekomposi bahan organic yang diproduksi dari sector pertanian dan peternakan. Bahan baku biogas dapat berupa kotoran ternak segar dan limbah organic atau limbah pertanian. Limbah tersebut dimasukkan ke dalam instalasi biogas untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber energi rumah tangga, atau digunakan untuk menggerakkan mesin pertanian. Selain dimanfaatkan untuk pembuatan biogas, lumpur keluaran dari instalasi biogas dapat langung dimanfaatkan menjadi pupuk organic dalam bentuk padat dan cair. Pemanfaatan kotoran ternak untuk biogas juga dapat menekan penebangan kayu di hutan untuk bahan bakar karena produk biogas dapat digunakan sebagai sumber energi untuk industri rumah tangga. Proses pembuatan biogas selengkapnya dapat dilihat pada suplemen BIOGAS. (Sri Puji Rahayu/yayuk_edi@yahoo.com)