Salah satu teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas padi sawah adalah teknologi padi jarwo super. Komponen teknologi Jajar Legowo Super meliputi: 1) Varietas unggul baru (VUB) potensi hasil tinggi; 2) Biodekomposer yang diberikan bersamaan pada saat pengolahan tanah; 3) Pupuk hayati yang diaplikasikan melalui seed treatment dan pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS); 4) Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali; serta 5) Alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam (jarwo transplenter) dan panen (combine harvester). Demplot teknologi padi jarwo super dilaksanakan di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu pada tahun 2016. Benih yang ditanam adalah benih padi varietas : Inpari 6 dan Inpari 30. Persiapan lahan diawali dengan penyemprotan biodekomposer sebelum dilakukan olah lahan dan olah tanah sempurna dengan mesin hand tractor. Kebutuhan benih untuk penyemaian sebanyak 25 kg/ha. Aplikasi seed treatment dilakukan dengan merendam benih menggunakan agrimet (pupuk hayati) selama semalam sebelum disemai. Luas petak persamaian 20 % luas lahan yang akan ditanami, dengan ukuran petak semai 2 x 8 m. Benih sebelum diserak dicampur insektisida dengan bahan aktif Karbofuran sebanyak 3 kg/ha. Penanaman dilakukan dengan sistim tanam jajar legowo 2 :1 dengan jarak tanam {(25 x 50) x 12,5)} . Bibit muda 18 hari setelah semai (HSS) dengan jumlah tanam perlubang 1-3 batang. Pemupukan dilakukan sesuai rekomendasi kalender tanam terpadu (Katam) yaitu NPK Phonska 350 Kg dan Urea 200 Kg per hektar yang diberikan 3 tahap. Pengendalian serangan OPT menggunakan bio Protector sebagai insektisida hayati dengan cara disemprotkan pada tanaman padi. Pestisida kimia hanya digunakan ketika serangan sudah diatas batas ambang. Pengendalian gulma dengan cara manual dan, herbisida. Panen dengan cara manual / sabit. Perontokan padi dengan power thresher. Produktivitas padi mencapai 9,2 ton/ha GKP. Penerapan teknologi jarwo super mengurangi pemanfaatan bahan kimia dalam proses produksi usahatani sehingga budidaya tanaman lebih ramah lingkungan namun hasil produksi yang didapat tetap optimal dengan residu bahan kimia yang rendah. Penerapan teknologi jarwo super menguntungkan bagi petani dapat dilihat dari nilai B/C ratio 1,5 dengan pendapatan petani sebesar Rp.22.734.600,- (Sri Suryani M. Rambe)