Desa Sanggalangit sering mengalami paceklik pangan dan pakan, terutama pada bulan agustus-desember, serta keadaan sosial ekonomi masyarakat yang tergolong miskin. Mengingat permaslahan tersebut, maka BPTP Bali mengembangkan percontohan Embung yang dipadukan dengan perbaikan budidaya tanaman dan ternak serta pengembangan kelembagaan. Embung yang semula hanya 6 unit pada tahun 2005, telah berkembang menjadi 52 unit pada tahun 2007 dengan kapasitas tampung air 512.298 liter. Tersedianya air telah mampu meningkatkan luas tanam dan meningkatkan indeks pertanaman menjadi IP300 untuk beberapa komoditas seperti jagung dan pisang. Bahkan kini muncul beberapa komoditas yang bernilai ekonomi tinggi yang ditanam pada musim kemarau seperti bawang merah, terong, cabai, kacang panjang, hijauan makanan ternak (HMT) dan tanaman konservasi. Pemanfaatan air per 100 m² mampu menghasilkan 100-110 kg umbi bawang merah, dan tanaman semusim lainnya. Teknologi embung ternyata mampu mengubah perekonomian desa sanggalangit, dengan peningkatan pendapatan petani dari kegiatan berusaha taninya yang meningkat sebesar 72%. Disamping itu, pemeliharaan ternka sapi juga meningkat dari 2-3 ekor menjadi 4-5 ekor/kk, serta meningkatnya jumlah petani yang memiliki sapi dari 35% menjadi 57%. Namun yang utama yaitu tidak ada lagi paceklik di wilayah ini selama musim kemarau. Inovasi teknologi embung dengan memanfaatkan gravitasi mulai berkembang dan mendapat dukungan pengembangnnya oleh Pemda Buleleng. Sumber: BPTP Bali/ Badan Litbang Pertanian