Loading...

Teknologi Pembuatan Pestisida Nabati Dan Cara Penggunaanya

Teknologi Pembuatan Pestisida Nabati Dan Cara Penggunaanya
Hama dan Penyakit merupakan permasalahan utama dalam agribisnis. Petani selama ini tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tumbuhan. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah : Hama menjadi kebal (resisten) Peledakan hama baru (resurjensi) Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen Terbunuhnya musuh alami Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia Kecelakan bagi pengguna Pestisida Nabati merupakan pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Upaya pengembangan pestisida nabati, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah : Mudah didapat, bahan baku cukup tersedia, berkualitas, kuantitas dan kontinyuitasnya terjamin. Mudah dibuat ekstrak, sederhana dan dalam waktu yang tidak lama. Selektif Bahan yang digunakan bisa dalam bentuk segar/kering Sedapat mungkin pelarutnya air (bukan seyawa sintetis) Budidayanya mudah, tahan terhadap kondisi suhu optimal Tidak menjadi gulma atau inang hama penyakit Bersifat multiguna Kelebihan Pestisida Nabati, adalah : Mudah dibuat dengan kemampuan yang terbatas Mudah terurai Tidak meninggalkan residu Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida kimia Tidak meracuni dan merusak tanaman Ramah Lingkungan Kelemahannya : Daya kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga) Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan baku Tidak tahan disimpan BEBERAPA RAMUAN PESTISIDA NABATI a). Untuk Mengendalikan Hama dan Penyakit Secara Umum Bahan : Daun Mimba 8 kg, Lengkuas 6 kg, Serai 6 kg, Deterjen/sabun colek 20 gr, Air 80 liter. Cara Membuat : Daun Mimba, Lengkuas dan serai ditumbuk halus dicampur dengan deterjen / sabun colek, lalu tambahkan 20 liter air diaduk sampai merata. Direndam selama 24 jam kemudian saring dengan kain halus. Larutan akhir encerkan dengan 60 liter air. Larutan tersebut disemprotkan pada tanaman untuk luas 1 hektar. b). Untuk Mengendalikan Hama Belalang dan Ulat Bahan : 50 lembar Daun Sirsak, satu genggam Daun Tembakau, 20 gr Deterjen/sabun colek, 20 literAir. Cara Membuat : Daun sirsak dan tembakau ditumbuk halus. Tambahkan deterjen/sabun colek aduk dengan 20 liter air, endapkan selama 24 jam kemudian disaring dengan kain halus dan diencerkaqn dengan 50-60 liter air, aplikasi dengan cara disemprotkan. c). Untuk Mengendalikan Hama Trips Pada Cabai Bahan : 50 – 100 lembar daun Sirsak , 15 gr Deterjen / sabun colek, 5 liter Air. Cara Membuat : Daun sirsak ditumbuk halus lalu dicampur dengan 5 liter air. Direndam selama 24 jam, saring dengan kain halus. Setiap liter larutan dapat diencerkan dengan 10-15 liter air. Aplikasi dengan menyemprotkan larutan tersebut pada seluruh bagian tanaman yang ada hamanya. d). Untuk Mengendalikan Apids, lundi penggerek batang dan Wereng Batang Coklat Bahan : 0,5 kg Daun tembakau, 30 gr Deterjen/sabun colek, 5 liter Air. Cara Membuat : 0,5 kg daun tembakau direbus dengan 5 liter air selama 0,5 jam, tambahkan 30 gram sabun, lalu disaring.selanjutnya disemprotkan kepada tanaman. 1 bagian larutan ditambah 4 bagian air. e) Mengendalikan Kutu Putih Pada Daun dan Batang Bahan : 50 gram Bawang putih, 1 liter Air. Cara Membuat : Bawang putih ditumbuk dan peras airnya serta dicampurkan dengan air. Jika kutu melekat erat pada tanaman, dapat digunakan campuran sedikit minyak kelapa. Semprotkan cairan tersebut pada tanaman yang terserang hama. f). Mengendalikan Hama lalat Buah (Sebagai Antraktan) *Bahan : 1 genggam Daun dan Bunga Selasih, 5 ml Air. Cara Membuat : Daun dan bunga selasih ditumbuk halus dan diberi 5 ml air, kemudin disaring. Air saringan tersebut diteteskan pada kapas, lalu dimasukkan ke dalam perangkap plastik. g). Ramuan Untuk Mengendalikan Ham Molusca Bahan : 5-10 gram Akar tuba, 1 liter Air, 1 gr Deterjen. Cara Membuat : Akar tuba dihaluskan, aduk merata dalam 1 liter air tambahkan 1 cc deterjen. Dengan perbandingan 1 : 10. Ditulis oleh : Novita Sari, SP