Perkembangan sektor pertanian yang menuntut peningkatan produksi pada saat ini, memiliki konsekuensi dalam penyediaan semua sarana yang berkaitan dengan pertanian semakin meningkat kebutuhannya termasuk pupuk. Kebutuhan yang terus meningkat tidak diimbangi dengan ketersediaan yang cukup, hal ini akan berpengaruh terhadap meningkatnya harga pasaran. Kondisi yang sering terjadi di tingkat lapangan yaitu pada saat musim tanam dan fase pemupukan yang terjadi adalah pupuk menghilang dipasaran dan kalaupun ada harganya melambung tinggi. Kondisi yang kurang menguntungkan ini dapat ditanggulangi dengan meningkatkan penggunaan pupuk organik. Dimasa mendatang bersamaan dengan dicabutnya subsidi pupuk kimia akan semakin meningkatkan kebutuhan pupuk organik. Perlu diperhatikan juga dalam proses pembuatan perlu diperhatikan pula mutu pupuk organik cair yang akan dihasilkan harus sesuai dengan Kepmentan 261/KPTS/SR.310/M/4/2019. Persyaratan teknis minimal pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah. Banyaknya limbah pertanian yang dihasilkan oleh usaha pertanian yang dilakukan dalam semusim dan bisa dimanfaatkan. Kebanyakan limbah tersebut masih belum optimal dimanfaatkan. Kebiasaan petani sehabis panen yaitu membakar limbah agar saat melakukan penanaman pada musim selanjutnya tidak mengganggu. Bila disimpan dilahan akan membutuhkan proses lama untuk mengalami pelapukan, sehingga jalan yang cepat dengan melakukan pembakaran. Pemanfaatan limbah pertanian dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Limbah pertanian yang selama ini tidak termanfaatkan dan mencemari lingkungan bila dilakukan pembakaran akan menjadi bernilai dan dapat menambah nutrisi bagi tanaman. Pupuk organik cair adalah larutan yang berasal dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan limbah rumah tangga. Kualitas pupuk organik bervariasi tergantung bahan baku yang digunakan. Pupuk organik cair dipasaran sangat banyak dan bervariasi kandungan haranya. Menurut permentan No 1/2019 menjelaskan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan, dan atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair dapat diperkaya dengan bahan mineral dan atau mikroba yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah, serta memperbaiki sifat fisik, kimia, dan /atau biologis tanah. Kelebihan dari pupuk cair dibandingkan dengan pupuk padat yaitu 1. mempunyai jumlah kandungan nitrogen, posfor, kalium dan air lebih banyak jika dibandingkan dengan kotoran sapi padat, 2. mengandung zat perangsang tumbuh yang dapat digunakan sebagai pengatur tumbuh, 3. mempunyai bau yang khas yang dapat mencegah datangnya berbagai hama tanaman. Berikut cara pembuatan pupuk organic cair yang mudah. Bahan-bahan yang dibutuhkan : Limbah pertanian atau sampah rumah tangga (kedebok pisang dan abu sekam) Urine sapi Sludge biogas (limbah dari biodegester) Air sumur Bakteri dekomposer (bisa menggunakan larutan EM4) Cara Pembuatan : Abu sekam diayak, lalu siapkan hasil ayakan sebanyak 1 ember Sludge biogas dikeringkan, setelah kering ditumbuk, lalu diayak. Kemudian siapkan hasil ayakan sebanyak 1 ember Siapkan urin sapi yang sudah disaring sebanyak 3 ember Gedebog/pelepah pisang dicacah, hasil cacahan siapkan sebanyak 1 ember Siapkan air sebanyak 6 ember. Siapkan 1 ember besar dengan kapasitas 150 lt Masukkan abu sekam kedalam ember besar lalu ditambah dengan air 2 ember sambil diaduk-aduk. Tambahkan sludge biogas 1 ember dan tambahkan dengan air 2 ember, lalu diaduk-aduk. Tambahkan gedebok pisang yang sudah dicacah sebanyak 1 ember dan tambahkan air 2 ember. Tambahkan urin sapi sebanyak 3 ember sambil diaduk-aduk biar merata. Setelah semua bahan tercampur jadi satu dan diaduk aduk, tambahkan EM4 sebanyak 1,5 l untuk kapasitas 150 lt bahan campuran. Inkubasi selama 21-30 hari. Kontrol bahan yang sudah diinkubasi kalau sudah 21 hari dan sudah tidak berbau, lalu saring dan packing. Pupuk organic cair dapat merangsang pertumbuhan daun, tunas, dan meningkatkan hasil tanaman pangan, palawija, sayuran, dan tanaman lainnya. Penggunaan di lahan dengan dosis: 4-5 cc/liter air setiap 7-14 hari sekali. Cara penggunaan dengan disemprotkan pada bagian permukaan tanaman (daun dan batang). (DH BPTP Gorontalo).