PENDAHULUAN Dalam bidang ketahanan pangan nasional, beras merupakan komoditas strategis yang berdampak besar terhadap ketahanan sosial, ekonomi, politik bahkan negara. Sebagai bahan baku esensial pangan, beras memberikan kontribusi lebih dari 55% untuk kebutuhan konsumsi penduduk Indonesia. Apabila terdapat hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kurangnya stok bahan kebutuhan pokok lainnya, maka beras dapat dijadikan sebagai pengganti kebutuhan konsumsi masyarakat. Untuk menjamin tersedianya beras bagi masyarakat, pemerintah melakukan upaya swasembada pangan. Upaya pemenuhan kebutuhan pangan dan target swasembada berkelanjutan memerlukan upaya konkrit yaitu peningkatan produktivitas. Sedangkan peningkatan hasil dan kualitas tanaman sangat dipengaruhi oleh kualitas benih yang digunakan petani. Berdasarkan permasalahan tersebut, Lampung sebagai penghasil padi peringkat kelima mengembangkan penangkaran benih di beberapa lokasi, yang bertujuan untuk menyediakan benih sumber maupun benih sebar bermutu untuk memenuhi kebutuhan benih petani. Sejak tahun 2012, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung mencoba memperkenalkan beberapa varietas padi mulai dari Inpara 1-8, Inpago 1-5, Inpari 1-21, Inpari 31, i 32, Inpari 33, Inpari 34 Salin Agritan, Inpari 35 Salin Agritan dan Inpari 47, 48 serta Cakra Buana, dengan penerapan teknologi Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) mulai dari pemihan lokasi, pemilihan varietas, persemaian, penanaman, pemeliharaan sampai panen. Teknologi Produksi Benih Tahapan produksi benih meliputi : 1. Pemilihan lokasi yang harus dipertimbangkan antara lain: isolasi benih dengan mengatur jarak dengan pertanaman padi lain minimal 3 meter dan waktu tanam tidak bersamaan dengan padi konsumsi ( selisih waktu sekitar 30 hari). Adapun kriteria lokasi sbb: (a) Lahan hendaknya bekas jenis tanaman lain atau diberakan; (b) Pada lahan bekas tanaman padi, varietas yang ditanam adalah sama dengan varietas yang ditanam sebelumnya; (c) Ketinggian lahan disesuaikan dengan daya adaptasi varietas tanaman ; (d) Lahan relatif subur dengan pH 5,4 – 6, memiliki lapisan olah sedalam 30 cm agar sawah tidak lekas kering; (e) Hindari lahan persemaian dari cahaya lampu pada saat malam hari. 2. Pemilihan varietas Varietas yang diperbanyak disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, kesesuaian lahan, umur tanaman, dan ketahanan terhadap hama penyakit. Untuk menghasilkan benih dasar (FS) gunakan benih penjenis (BS), untuk menghasilkan benih pokok (SS) gunakan benih dasar, sedangkan untuk menghasilkan benih sebar (ES) gunakan benih pokok. Produksi benih dapat dilakukan pada musim hujan maupun pada musim kemarau asal kan air cukup tersedia. 3. Persemaian Yang harus diperhatikan pada persemaian adalah : (a) Buat tempat persemaian seluas 5% dari luas lahan produksi benih, sebelum diolah lahan persemaian diairi terlebih dahulu, lahan dicangkul dan buat bedengan dengan ketinggian 15-20 cm, jarak antar bedengan selebar 30 cm; (b) Sebelum disebar benih dengan kadar air 11-12 % dimasukan kedalam karung kemudian direndam dalam kolam atau air yang mengalir selama 24 jam untuk mematahkan dormansi; (c) Peram benih ditempat teduh selama 24 jam untuk memacu perkecambahan; (d) Sebar benih secara merata dilahan persemaian pada keadaan macak-macak (berlumpur); (e) Campurkan pupuk 200 gr urea, + 100 gr sp-36 + 60 gr KCL untuk setiap 10 x 2 m, berikan 5 hari setelah sebar; (f) Untuk 4. Penyiapan lahan Lakukan penanaman padi untuk produksi benih dilahan sawah. Agar tanaman padi dapat tumbuh optimal lahan diolah sebaik mungkin untuk mendapatkan struktur tanah dengan kedalaman lumpur 15 -30 cm, sebagai berikut: (a) pengenangan pertama selama 3-4 hari di ikuti pembajakan; (b) penggenangan kedua selama 2-3 hari di ikuti pembajakan kedua; (c) penggenangan ketiga selama 2-3 hari di ikuti penggaruan pertama; (d) penggenangan ke empat diikuti pengaruan kedua sambil meratakan permukaan tanah. 5. Pengaturan jarak tanam dan tanam (a) Jarak tanam dibuat mengikuti jarak tanam jajar legowo 2: 1 ( 25 X 12,5 x 50 cm) atau 4:1 (20 x 10 x 40 cm), dengan tujuan untuk mempermudah seleksi tanam yang tumbuh menyimpang; (b) umur bibit < 21 hari dengan kondisi sehat, tanam 1-3 batang per rumpun; (c) Untuk perbanyakan benih dasar (FS) dari benih penjenis (BS) bibit ditanam satu batang perlubang tanam. Sedangkan untuk perbanyakan benih pokok (SS) dari benih dasar (FS) dan benih sebar (ES) dari benih pokopk (SS) di tanam 2-3 batang per lubang. 6. Pemeliharaan Kegiatan pemeliharaan meliputi pemupukan, penyulaman, penyiangan, pengairan, serta pengendalian hama dan penyakit. (a) Pemupukan Jenis, jumlah dan cara pemberian pupuk mengacu pada rekomendasi pemupukan padi sawah, kalender tanam terpadu atau menggunakan BWD (N), PUTS (P, K dan pH) (b) Penyulaman Tanaman yang mati atau tumbuh tidak normal diganti dengan tanaman yang sehat. Penyulaman dilakukan pada tanaman umur 4-10 hari setelah tanam (hst). (c) Penyiangan Pengendalian gulma secara manual dengan membuang gulma dan tanaman lainnya, pada umur 15 dan 35 hari setelah tanam atau dilakukan secara kimiawi dengan menggunakan herbisida. (d) Pengairan Pengairan dilakukan secara berselang (intermiten) dengan cara sebagai berikut: waktu tanam bibit, lahan dalam kondisi macak-macak; bertahap lahan diairi 2-5 cm hingga tanaman ber umur 10 hst; lahan tidak diairi selama 5-6 hari atau sampai permukaan tanah retak-retak selama dua hari, lalu diairi kembali setinggi 5-10 cm; Mulai fase keluar bunga sampai 10 hari sesudahnya, lahan terus digenangi sekitar 10 cm; Sejak 10 hari sebelum panen sampai saat panen, lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen. (e) Pengendalian hama dan penyakit Pengendalian hama penyakit dilakukan secara terpadu (PHT) yang meliputi pengelolaan varietas, pengelolaan budidaya dan pengelolaan biologis; penggunaan bahan kimia (pestisida) hanya diberikan pada kondisi yang tepat, yakni jika populasi hama mencapai batas ambang kendali. Hama dan penyakit utama yang biasa menyerang padi adalah hama tikus, penggerek batang, wereng coklat dan penyakit hawar daun (kresek). Rouging (seleksi) adalah membuang tipe simpang, campuran varietas lain, dan membuang tanaman lain. Tanaman yang terinfeksi oleh penggerek batang atau penyakit tanaman lainnya seperti tungro. Selama produksi dilapangan tanaman diseleksi minimal tiga kali yaitu : Fase vegetative (umur 30 hari) seleksi didasarkan pada warna, bentuk dan tinggi tanaman. Tanaman yang menunjukan warna dan bentuk batang, serta tinggi tanaman yang berbeda denngan tanaman aslinya dibuang. Fase berbunga (umur 50-60 hst) seleksi didasarkan pada tinggi tanaman, bentuk dan warna bunga serta keseragaman saat berbunga. Bila memiliki posisi dan warna bunga yang berbeda dengan tanaman aslinya, rumpun tanaman harus dibuang. Menjelang panen atau 80 % malai telah kuning (± 100 hst), berdasarkan pada umur tanaman, tinggi tanaman, bentuk dan letak daun bendera, bentuk gabah, serta warna gabah. Tanaman yang memiliki bentuk dan posisi daun bendera, bentuk dan warna gabah yang berbeda, tanaman dibuang. Panen Setelah pemeriksaan tanaman terakhir dan dinyatakan memenuhi syarat lulus oleh BPSB, tanaman siap untuk dipanen. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: Panen dilakukan bila sebagian besar (90%) malai telah kuning, gabah telah kuning (kadar air 17-23%) dan beras, buku-buku gabah sebelah atas berwarna kuning serta batang mulai kering. Dua baris tanaman yang paling pinggir dipanen terpisah dan tidak digunakan sebagai calon benih. Gunakan peralatan panen (thresher) dan pengeringan (lantai jemur, mesin pengering) yang bersih agar tidak menjadi sumber kontaminasi. Pastikan areal yang akan dipanen tidak ada sisa malai yang tertinggal saat rouging, terutama rouging terakhir (satu minggu sebelum panen). Lakukan panen per varietas. Calon benih kemudian dimasukkan ke karung dan diberi label (nama varietas, tanggal panen, dan lokasi produksi) . Penyusun : Nasriati Sumber : Badan Litbang Pertanian