PENDAHULUAN Produksi tanaman pangan secara nasional kini mengalami fluktuasi. Saat ini, Indonesia masih sering menghadapi masalah pangan seperti adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan pemukiman yang menyebabkan penurunan produktivitas padi. Selain itu, perubahan musim yang tidak menentu juga dapat menyebabkan produksi padi menurun sehingga pemerintah harus mengimpor beras untuk memenuhi keperluan nasional. Produktivitas padi setiap beberapa wilayah terjadi penurunan dan sisanya mengalami stagnan. Fenomena ini menjadi masalah utama di kalangan petani, namun petani belum dapat menentukan penyebab utama munculnya permasalahan tersebut. Jika melihat dari sisi potensi yang bisa dihasilkan oleh produk varietas padi tertentu, maka masalah ini menjadi penting karena hasilnya tidak sesuai harapan. Artinya produsen padi atau petani belum mampu mencapai hasil optimal dalam memproduksi padi serta belum mampu mencapai potensi yang sebenarnya. Salah satu penyebab fluktuasi dan rendahnya produksi tanaman yaitu adanya perubahan sifat fisika, kimia dan biologi dalam tanah. Namun faktor-faktor tersebut cenderung diabaikan oleh petani. Sebagian petani beranggapan produksi menurun disebabkan oleh kualitas benih yang tidak baik dan adanya serangan hama & penyakit. Padahal masih ada faktor pembatas lain seperti kualitas tanah yang berkaitan dengan kesuburan tanah. Kesuburan tanah adalah kondisi tanah yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata namun perlu juga di analisis lebih lanjut menggunakan alat dan bahan tertentu. Oleh karena kesuburan tanah penting untuk diketahui, maka petani perlu mengetahui teknologi sederhana tertentu yang dapat dibuat dan digunakan untuk mendeteksi kesuburan tanahnya. Tujuan dibuatnya artikel ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani terhadap teknologi pertanian yang tepat guna sehingga dapat bermanfaat bagi petani untuk kepentingan kegiatan usaha taninya. CARA PEMBUATAN ALAT 1. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah gergaji, gunting, lakban, lem alteco, obeng, dan spidol. Bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain pipa paralon, “T” paralon, kabel, lampu 100 W, colokan (2 buah), fitting lampu, air sumur, pupuk kandang, pupuk kimia, dan tanah sampel. 2. Tahapan Pembuatan Alat Tahapan – tahapan pembuatan alat ini yaitu : Potong pipa paralon menjadi tiga bagian lalu dibentuk menjadi huruf “T” menggunakan “T” paralon; Salah satu ujung fitting lampu POSITIF disambung dengan kabel ke colokan sumber listrik; Fitting lampu NEGATIF disambungkan dengan kabel ke colokan yang diuji ke tanah; Sedangkan salah satu kabel lainnya yang tersambung dengan colokan yang diuji ke tanah tersebut disambungkan ke colokan sumber listrik; Jika rangkaian sudah benar dan aman silahkan pasang lampu bohlam 100 watt pada fitting lampu. 3. Cara Pengujian Alat Tahapan – tahapan pengujian alat ini yaitu : Persiapkan bahan-bahan yang akan diuji yaitu air sumur, pupuk kandang, pupuk kimia, sampel tanah sawah; Air sumur diuji terlebih dahulu untuk memastikan bahwa tidak ada kandungan kationnya atau netral; Pengujian dilakukan dengan melarutkan terlebih dahulu sampel dengan air secukupnya; Pastikan alat telah tersambung dengan sumber listrik, lalu masukkan bagian bawah alat (colokan) ke dalam larutan sampel. PENGAMATAN HASIL PENGUJIAN 1. Tanah Sampel Hasil pengujian akan didapatkan dengan cara melihat respon lampu indikator pada alat tersebut ketika diujicoba pada sampel. Jika pengujian pada tanah sampel menunjukkan lampu indikator hidup, maka tanah subur, sedangkan jika tidak hidup, maka sebaliknya. Tanah yang kurang subur disebabkan kapasitas tukar kation (KTK) dalam tanah tersebut rendah. Kapasitas tukar kation berbanding lurus dengan ketersediaan unsur hara dalam tanah. Semakin baik kapasitas tukar kationnya, maka semakin tinggi pula kandungan hara dalam tanah. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Mukhlis (2007), bahwa makin tinggi KTK, makin banyak kation yang dapat ditariknya (kation dalam hal ini adalah unsur hara bermuatan positif). Jika lampu indikator tidak menyala maka menunjukkan tanah yang tidak subur. Untuk menanggulanginya, maka kesuburan tanah sawah perlu ditingkatkan yaitu dengan pemberian bahan organik berupa kompos, pupuk kandang dan jerami padi, di samping itu bahan organik berfungsi sebagai ameliorant yang dapat memperbaiki jumlah dan aktivitas mikroba dan sumber hara dalam tanah sehingga dapat meningkatkan kualitas tanah (Firdaus, dkk., 2018). 2. Pupuk Organik (Pupuk Kandang) Jika lampu indikator menyala terang pada pupuk kandang maka diidentifikasikan mengandung unsur hara yang tinggi berupa kation-kation yang membantu dalam menghantarkan listrik alat tersebut. Pupuk kandang yang merupakan salah satu bahan organik jika ditambahkan ke dalam tanah mampu menjerap kation dengan cara meningkatkan kapasitas tukar kationnya. Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Rosmarkam dan Yuono (2002), bahwa bahan organik mempunyai daya jerap kation yang lebih besar daripada koloid liat. Berarti semakin tinggi kandungan bahan organik suatu tanah makin tinggi pulalah KTK-nya. Bahan organik disamping berpengaruh terhadap pasokan hara tanah juga tidak kalah pentingnya terhadap sifat fisik, biologi dan kimia. Syarat tanah sebagai media tumbuh dibutuhkan kondisi fisik kimia yang baik. Secara fisik bahan organik dapat membentuk agregat tanah. Pengaruh bahan organik terhadap sifat kimia yaitu dapat meningkatkan muatan negatif sehingga akan meningkatkan kapasitas tukar kation. Bahan organik memberikan kontribusi yang nyata terhadap KTK tanah. Sebanyak 20-70% kapasitas pertukaran tanah pada umumnya bersumber pada koloid humus sehingga dapat berkolerasi antara bahan organik dengan KTK tanah. Pengaruh bahan organik terhadap sifat biologi yaitu penambahan bahan organik dapat meningkatkan aktivitas dan populasi mikroboiologi dalam tanah terutama yang berkaitan dengan aktivitas dekomposisi bahan organik (Suntoro, 2003). 3. Pupuk Kimia Pada umumnya respon pupuk kandang dan pupuk kimia akan sama yaitu lampu indikatornya menyala terang. Pada dasarnya pupuk kimia memiliki kandungan unsur hara yang tinggi dengan tingkat konsentrasi yang berbeda-beda sehingga diasumsikan jika diujicoba dengan alat tersebut maka lampu indikator akan nyala terang. Pengujian ini dilakukan pada pupuk kimia ini dilatarbelakangi oleh adanya beberapa isu mengenai pupuk palsu yang beredar. Jika pupuk kimia yang diujicoba lampu indikator nyala terang, maka pupuk tersebut asli, namun jika lampu redup atau tidak nyala, maka pupuk tersebut dapat disimpulkan tidak asli. Berdasarkan hal tersebut, alat ini tidak hanya mampu mengidentifikasi kesuburan tanah, tapi juga mampu mengidentifikasi keaslian suatu pupuk kimia komersil atau yang beredar di pasaran. 4. Air Sumur Pengujian dilakukan pada air sumur diharapkan lampu tidak menyala yang akan menunjukkan air tidak mengandung kation-kation. Hal ini penting dikarenakan air sumur tersebut akan digunakan untuk campuran tanah yang akan diujicoba sebagai pelarut. Jika air sumur tersebut tidak diujicoba, dikhawatirkan lampu indikator menyala bukan karena kandungan dari tanah yang diuji, melainkan dari campuran air sumur tersebut. Oleh karena itu, air sumur sebagai pelarut harus dalam kondisi netral. Selain itu, pengujian ini juga bermanfaat untuk mengujicoba air sumur dalam hal air minum untuk konsumsi. Pengujian ini dapat bermanfaat karena alat mampu mengindentifikasi kation dalam air sumur karena dikhawatirkan mengandung logam berat seperti timbal atau bahkan terpapar pupuk kimia. Jika alat yang dujicoba pada air sumur lampu indikator nyala, maka diasumsikan air sumur mengandung logam berat atau unsur lainnya, namun jika tidak nyala maka netral. Oleh karena itu jika mengandung logam berat, maka air sumur tidak layak untuk konsumsi. Oleh : Ivan Bangkit Priambodo, S.P.