Salah faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas dan mutu hasil kakao adalah kurangnya pemeliharaan tanaman oleh petani seperti pemupukan. Penggunaan pupuk organik diharapkan mampu memperbaiki kondisi pertumbuhan kakao serta produktivitas dan mutu hasil tanaman. Pupuk organik dapat dibuat dari limbah bahan organik yang banyak tersedia di sekitar wilayah pengembangan kakao. Kulit buah kakao, daun-daun hasil pangkasan tanaman dan daun gugur, rumput-rumputan dikumpulkan kemudian dilapukkan menggunakan Promi. Proses dekomposisi bahan organik dilakukan selama 21 hari. Pupuk organik yang sudah jadi dapat langsung digunakan ke pertanaman kakao atau tanaman lainnya. Penambahan pupuk organik pada tanaman kakao berpengaruh signifikan terhadap perbaikan komponen pertumbuhan dan komponen hasil tanaman kakao (jumlah buah, diameter buah, berat buah, jumlah biji per buah, berat basah 100 biji, dan berat kering 100 biji, serta produktivitas tanaman). Namun demikian, penggunaan pupuk organik hanya akan efektif untuk mendukung capaian pertumbuhan dan produksi optimal, apabila anjuran teknologi budidaya kakao lainnya juga diterapkan seperti pemangkasan dan pengendalian hama. Keunggulan dari penggunaan pupuk organik belum terlihat jelas pada tahun pertama setelah aplikasi, namun akan tampak nyata pada tahun kedua. Penggunaan pupuk organik secara ekonomi dapat menghasilkan keuntungan sekitar Rp.10.028.720,- pada tahun pertama dan sekitar Rp.12.317.656,- pada tahun kedua atau lebih tinggi dibandingkan tanpa menggunakan pupuk organik yang hanya mencapai Rp.9.870.840,- (tahun pertama) dan Rp.7.292.340,- (tahun kedua). sumber: Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian,2011 Syafruddin Kadir, Peter Tandisau, dan Sahardi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan