TEKNOLOGI PESEMAIAN PADI HYBRIDA MAPAN P-05 DENGAN MENGGUNAKAN TERPAL BEKAS Oleh :Irwan Haryadi, SP UPT HPT dan Keswan Kecamatan Praya TimurJl. Raya Keruak – Mujur Desa Mujur Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah – NTB PENDAHULUAN Ketahanan pangan identik dengan tersedianya padi dan beras dalam jumlah yang mencukupi. Ketahanan pangan menjadi hal yang sangat penting karena adanya kekhawatiran pada satu waktu akan terjadi kerawanan dan kekurangan pangan. Kekhawatiran ini dipicu oleh keadaan yang terjadi saat ini dimana lahan-lahan produkstif semakin berkurang luasnya, peningkatan jumlah penduduk yang semakin tinggi, gejala alam yang tidak menentu serta regulasi pasar global yang semakin tak terkendali.Menyikapi hal tersebut wajarlah pemerintah merasa berkewajiban untuk menjaga stok pangan nasional, baik dengan cara menginmpor beras atau dengan perbaikan teknologi budidaya usahatani tanaman padi. Perbaikan teknologi ini dirasa adalah tindakan yang sangat logis jika dibandingkan dengan mengimpor beras yang membutuhkan birokrasi dan prosedur yang cukup rumit.Dalam kaitannya dengan peningkatan peningkatan produksi pertanian secara signifikan, diperlukan terobosan pendekatan dan teknologi spesifik lokasi berdasarkan kondisi biofisik, sumberdaya tersedia, tingkat kemampuan dan permasalahn yang dihadapi petani. Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi, berukuran penuh dan seragam, daya kecambah diatas 80 % (vigor tinggi), bebas dari biji gulma, penyakit dan hama atau bahan lain. Gunakan selalu benih yang telah memiliki sertifikasi atau label untuk mendapatkan benih dengan tingkat kemurnian tinggi dan berkualitas atau benih bermutu yang diproduksi oleh petani.PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawahnon hybrida menganjurkan untuk menyeleksi atau memilih benih bermutu agar didapatkan benih yang benar-benar berkualitas (bernas) dan vigor tinggi dengan cara membuat larutan garam dapur (30 gram garam dapur dalam 1 liter air) atau larutan pupuk ZA (1kg pupuk ZA dalam 2,7 liter air). Benih dimasukkan ke dalam larutan garam atau pupuk ZA (volume larutan 2 kali volume benih) kemudian diaduk dan benih yang mengambang atau terapung di permukaan larutan dibuang.Cara sederhana dapat dilakukan dengan merendam benih dalam larutan garam dapur menggunakan indikator telur. Telur mentah (bisa telur ayam atau bebek) dimasukkan ke dalam air, kemudian masukkan garam sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai telur terapung ke permukaan. Kemudian telur diambil dan benih dimasukkan ke dalam larutan garam. Benih yang mengapung dibuang dan benih yang tenggelam selanjutnya dicuci sampai bersih dari garam untuk disemai.Kebutuhan benih padi non hybrida untuk keperluan penanaman seluas 1 hektar benih yang dibutuhkan kurang lebih sebanyak 20 kg. Benih bernas (yang tenggelam) dibilas dengan air sampai bersih dari garam kemudian direndam dengan air bersih selama 24 jam. Selanjutnya diperam dalam karung atau wadah lainnya selama 48 jam dan dijaga kelembabannya dengan membasahi wadah dengan air.Untuk benih padi hibrida tidak diberi perlakuan perendaman dalam larutan garam tetapi langsung direndam dalam air dan selanjutnya diperam.PROSEDUR PELAKSANAANKebutuhan benih untuk padi hybrida Mapan P-05 sekitar 7 kg per hektar. Lahan persemaian untuk 1 hektar luasan lahan pertanaman sebaiknya 200 meter persegi (2% dari luas tanam) dengan ketentuan bahwa untuk 1 kg benih hybrida Mapan P-05 disemaikan pada lahan 5 m x 5 m, lebar bedengan disesuaikan dengan lebar dan panjang terpal dan antar bedengan dibuat parit sedalam 25 – 30 cm. Terpal bekas di lepas di atas permukaan tanah sembari ditutup dengan lumpur dan kompos dengan komposisi untuk 100 meter persegi lahan pesemaian ditambahkan dengan 100 kg kompos. Tujuan pemberian bahan organik ini untuk memudahkan pencabutan bibit padi sehingga kerusakan akar bisa dikurangi. Benih yang sudah diperam selama 36 – 48 jam biasanya akan tumbuh akar dan plumula biji. Khusus untuk padi hybrida Mapan ini disebar pada sore hari dan biji sudah berakar sekitar 1-2 mm. Tabur benih secara jarang dan merata sehingga luasan lahan pesemaian cukup untuk benih yang disiapkan.setelah 5 hari setelah sebar, dilakukan pemberian air setinggi bedengan (sejajar dengan terpal), selanjutnya pada umur 7 hari setelah sebar pesemaian diberikan air setinggi 0,5 – 1 cm dari atas permukaan tanah bedengan. Ketinggian permukaan air harus seimbang dengan perkembangan bibit etapi tidak lebih dari 2 cm.Selama berlangsung proses pesemaian ini tidak dilakukan pemupukan dengan pupuk kimia, cukup dengan hara yang tersedia dalam tanah dan hara bawaan kompos.PERKEMBANGAN BIBITPenerapan metode ini sangat sesuai dengan laju pertumbuhan bibit padi Hybrida Mapan P-05, dimana pada saat pesemaian 15 hari setelah sebar, satu butir benih telah berkembang menjadi 3 batang tanaman baru, sehingga memperbesar peluang terjadinya penambahan anakan dalam waktu relatif cepat pada saat budidaya di lapangan.Hal yang menarik dari hasil penelitian ini adalah, di saat lahan pesemaian terjadi kekurangan air, lahan pesemaian tidak terlihat pecah karena masih terikat oleh butiran kompos dan adanya lapisan kedap air karena pengaruh terpal. Berbeda halnya dengan pesemaian di lahan sawah secara langsung, maka tanah akan pecah-pecah yang menyebabkan terputusnya perakaran tanaman padi.PERKEMBANGAN TANAMAN DI LAPANGANPengamatan di lapangan menunjukkan perkembangan perakaran bibit menyebar dan memanjang sehingga gampang dicabut, sementara jika tanpa terpal maka perakaran akan masuk cukup dalam menyebabkan bibit sulit dicabut dan putus.Hal ini menyebabkan tidak terjadi stres pada tanaman padi saat tanam, sedangkan tanpa terpal menunjukkan tanda-tanda stres yang ditunjukkan dengan warna kekuningan pada daun tanaman padi.Respon terhadap perkembangan perakaran ini ditunjukkan oleh tanaman pada saat tanaman padi berumur 10 hari setelah tanam, dimana saat itu terjadi kekurangan air yang menyebabkan tanah sawah menjadi retak dan berwarna putih, tetapi tanaman padi hybrida Mapan P-05 ini tetap hijau tumbuh dengan sempurna.HASILDalam kajian ini tidak dilakukan pengamatan jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah anakan produkstif dan hasil ubinan, tetapi langsung mengarah kepada capaian hasil riil, dimana dari 2 kg benih padi hybrida Mapan P-05 diperoleh hasi; panen sebanyak 2.800 kg atau setiap 1 kg benih menghasilkan 1.400 kg gabah kering panen.REKOMENDASIBerdasarkan hasil pengamatan/visualisasi di lapangan bahwa metode pesemaian dengan menggunakan terpal bekas sebagai alas pesemaian menunjukkan perkembangan bibit yang sangat baik, lebih tahan terhadap stres sewaktu pindah tanam dan yang terpenting hasil yang diperoleh cukup tinggi, sehingga pola pembibitan ini layak untuk diterapkan pada kegiatan yang akan datang.