Loading...

TEKNOLOGI PRODUKSI KACANG TANAH (Arachis hipogeae L.)

TEKNOLOGI PRODUKSI KACANG TANAH (Arachis hipogeae L.)
Kacang tanah merupakan tanaman pangan berupa semak yang berasal dari benua Amerika Selatan. Kacang tanah dapat dibudidayakan di lahan kering (tegalan) maupun di lahan sawah setelah padi. Jenis tanah yang cocok untuk penanaman kacang tanah adalah yang bertekstur ringan, drainase baik, remah dan gembur. Di tanah berat (lempung), bila terlalu becek tanaman akan mati atau tidak berpolong. Dalam kondisi kering, tanah lempung juga terlalu keras, sehingga ginofor (calon polong) tidak dapat masuk ke dalam tanah, perkembangan polong terhambat dan pada saat panen banyak polong yang tertinggal di dalam tanah. Pada tanah yang kandungan bahan organiknya tingi (> 2 %) polong yang dihasilkan berwarna kehitaman sehingga menjadi kurang menarik. Kacang tanah masih dapat berproduksi dengan baik pada tanah dengan pH rendah atau tinggi, tetapi pada pH yang terlalu tinggi (7,5 – 8,5) kaccang tanah sering mengalami klorosis, yakni daun-daun menguning, yang menyebabkan polong menjadi hitam dan hasil menurun. Tahapan – tahapan dalam memproduksi kacang tanah meliputi inovasi teknologi sebagai berikut : Penggunaan Varietas Gunakan varietas unggul yang mempunyai potensi hasil tinggi, ukuran biji seragam, sehat dan jelas asal-usulnya. Biji kacang tanah yang baru dipanen sangat baik untuk dijadikan benih. Pemilhan varietas sebaiknya memperhatikan kesesuaian lingkungan, ketahanan terhadap hama/penyakit, dan kebutuhan pasar. Beberapa varietas unggul kacang tanah yang bisa ditanam sesaui kebutuhan : Varietas : jerapah (biji dua), potensi hasil : 4,0 ton/ha, Umur panen :90 -95 hari, bobot 100 biji: 45 – 50 gr, keunggulan : tahan layu, toleran masam. Varietas : Kancil (biji 2), potensi hasil : 3,5 ton/ha, umur panen : 90 – 95 hari, bobot 100 biji : 35 -40 gr, keunggulan : tahan layu bakteri, toleran klorosis Varietas : Domba (biji 3-4), potensi hasil : 4,2 ton/ha, umur panen: 90 – 95 hari, bobot 100 biji : 47 -51 gr, Keunggulan : Agak tahan jamur A. Flavus, toleran klorosis, adaptif lahan alfisol alkalis Varietas : Kelinci (biji 3 -4 ), Potensi hasil : 4,3 ton/ha, Umur panen : 95 hari, Bobot 100 biji : 45 gr, Keunggulan Agak tahan layu bakteri, tahan karat daun, toleran bercak daun. Penyiapan Lahan Tanah dibajak 2 kali sedalam 15 – 20 cm, lalu digaru, dan diratakan, dibersihkan dari sisa tanaman dan gulma dan dibuat bedengan selebar 3-4 meter. Antar bedengan dibuat salauran drainase ukuran dalam 30 cm dan lebar 20 cm yang berfungsi sebagai saluran drainase pada saat becek dan sebagai saluran irigasi saat kering. Jika tanah sudah gembur, tidak perlu diolah sempurna, cukup dilakukan penyemprotan herbisida untuk membersihkan gulma, kemudian dilakukan pengolahan tanah minimal. Cara Tanam Penanaman secara baris tunggal dengan tugal atau alur bajak dengan jarak tanam 35 – 40 cm x 10 – 15 cm, satu biji/lubang sehingga populasi sekitar 250.000 tanaman per hektar. Kebutuhan benih antar 90-100 kg/ha Penanaman juga dapat dilakukan secara garis ganda (50 cm x 30 cm) x 15 cm, satu biji/lubang. Pemupukan 50 kg Ure/ha atau 100 kg ZA/ha, diberikan bersamaan tanam atau saat tanaman umur 7-15 hari, pemberian pupuk yang efektif dalah dengan cara larika atau tugal. Bila kandungan P rendah, perlu diberikan 80-100 kg Sp36/ha pada saat tanam. Bila sudah tinggi tidak perlu dipupuk P Jika kandungan K dalam tanah kurang, maka perlu diberi pupuk KCl 33-50 kg/ha (45 % K2O) atau 25-38 KCl (60 % K2O). Pupuk deberikan bersamaan tanam dengan cara disebar. Pada tanah yang kandungan Ca rendah, maka perlu diberi dolomite sebanyak 300-500 kg/ha bersamaan tanam dengancara disebar atau larikan pada fase pembentukan polong. Pada tanah yang pH tinggi atau endemic klorosis, maka perlu ditambahkan bubuk belerang sebanyak 300-400 kg/ha dengan cara mencapur rata dengan tanah sebelum tanam atau saat pengolahan lahan. Pengendalian Hama dan Penyakit Hama utama kacang tanah antara lain wereng kacang tanah (Empoasca fasialin), penggerek daun (Stomopteryx subscevivella), ulat jengkal (Plusia chalcites) dan ulat grayak (Prodenia litura). Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif endosulfan, klorfirifos, monokrotofos, metamidofos, diazinon. Untuk pencagahan insektisida dapat diaplikasikan pada umur 25, 35, dan 45 hari. Penyakit utama kacang tanah antara lain, layu bakteri (Pseudomonas solanacearum), bercak daun (leafspot), penyakit karat (Puccina arachidis). Pengendalian dilakukan dengan penanaman varietas yang toleran atau fungisida dengan bahan aktif benomil, makozeb, bitertanol, karbendazim dan klorotalonil. Untuk pencegahan fungisida dapat diberikan pada umur 35, 45, 60 hari. Penyiangan dan Pembumbunan Penyiangan gulma dilakukan sebelum tanaman berbunga. Setelah ginofor masuk ke dalam tidak boleh disiang, karena menyebabkan kegagalan pembentukan polong Pembumbunan dapat dilakukan bersamaan penyiangan pertama. Pengairan Bila tersedia pengairan, dilakukan pengairan pada periode kritis tanaman yaitu : pertumbuhan awal (umur hingga 15 hari), awal berbunga (umur 25 hari, pembentukan dan pengisian polong (umur 50 hari) dan pemasakan (umur 75 hari). Panen dan Pasca Panen Umur panen tergantung varietas dan waktu tanam. Tanda-tanda tanaman siap panen adalh kulit polong mengeras, berserat, bagian dalam berwarna coklat, juka ditekan polong mudah pecah. Jika biji telah penuh, harus segera dipanen, karena kalau terlambat biji bisa tumbuh dilapang. Setelah panen polong segera dirontokan, dikeringan hingga kadar air 12 % yang ditandai oleh mudah terkelupasnya kulir ari. Membiarkan polong dalam kondisi basah lebih dari 24 jam menyebabkan polong berlendir, mudah terinfeksi jamur Aspergillus flavus dan terkontaminasi aflatoksin yang menyebabkan kacang menjadi pahit dan beraroma tengik.