Loading...

Teknologi Produksi Kedelai di Lahan Sawah pada Musim Kemarau

Teknologi Produksi Kedelai di Lahan Sawah pada Musim Kemarau
Teknologi Produksi Kedelai di Lahan Sawah pada Musim Kemarau 1. Penyiapan lahan dilakukan tanpa olah tanah (TOT). Setelah panen padi, jerami padi dipotong dekat dengan permukaan tanah. Sesuai dengan prioritas pemanfaatannya, jerami padi digunakan untuk pakan ternak atau ditinggal di lahan untuk mulsa kedelai atau dibakar. Jerami padi yang dibakar merupakan salah satu sumber hara K.2. Pembuatan saluran drainase dengan jarak antar saluran 1,5 – 5 m, bervariasi tergantung pada kemiringan lereng lahan dan tekstur tanah. Makin datar dan atau makin halus tekstur tanahnya, makin sempit jarak antar saluran drainase. Saluran drainase berukuran lebar sekitar 30 cm dan kedalaman sekitar 25 cm.3. Untuk kedelai yang ditanam di awal musim hujan, penanaman dilakukan setelah hujan cukup membasahi tanah untuk mendukung perkecambahan benih kedelai.4. Kedelai yang ditanam setelah panen padi (MK I dan MK II), benih kedelai hendaknya segera ditanam 2 – 4 hari setelah panen padi. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memanfaatkan air/lengas tanah dan mengurangi gangguan gulma, hama, dan penyakit.5. Varietas kedelai yang dianjurkan untuk ditanam di lahan sawah antara lain:6. Musim tanam di musim kemarau I (Februari-Juni), biasanya ketersediaan air (air hujan) lebih terjamin daripada musim kemarau II:• Varietas berbiji besar ( > 12 g/100 biji ): Anjasmoro, Argopuro, Gumitir, Detam-1, Detam-2, Detam-3, Detam-4.• Varietas berbiji sedang ( 10-12 g/100 biji ): Wilis, Kaba, Ijen, Sinabung, Arjasari, dan Malika.Musim tanam MK II (Juni – Agustus), umumnya ketersediaan air (air hujan) terbatas:• Varietas berbiji besar ( > 12 g/100 biji ): Argomulyo, Burangrang, Baluran.• Varietas berbiji sedang ( 10-12 g/100 biji ): Malabar, Ijen, Arjasari, Malika, Gema, Dering.6. Benih berkualitas yaitu bernas dengan daya tumbuh > 85%, murni, sehat, dan bersih, dengan total kebutuhan benih antara 40 – 60 kg/ha, tergantung pada ukuran biji; makin besar ukuran biji makin banyak benih yang digunakan.7. Perlakuan benih dengan insektisida berbahan aktif carbosulfan, contoh Marshal 25 ST dengan dosis 10 g setiap 1 kg benih kedelai, atau berbahan aktif fipronil, contoh Regent dengan dosis 10 ml setiap 1 kg benih kedelai; untuk mengendalikan hama lalat bibit dan hama lainnya.8. Perlakuan benih dengan pupuk hayati sumber rhizobium bagi lahan yang sebelumnya tidak pernah ditanami kedelai, dengan dosis 20 g sumber rhizobium setiap 1 kg benih kedelai.9. Populasi tanaman kedelai 350.00 – 500.000 per hektar, dengan pengaturan jarak tanam : 40 cm x 15 cm; dan 40 cm x 10 cm, ditanam dua tanaman per lubang.10. Pemupukan dapat berbeda jenis pupuk dan takarannya tergantung pada kondisi atau tingkat kesuburan tanah berdasarkan hasil analisis tanah. Jika tersedia pupuk organik atau pupuk kandang dianjurkan pemberian sekitar 2 t/ha. Waktu dan cara aplikasi seperti Lampiran 1.11. Pemberian air diperlukan jika kelembaban tanah tidak mencukupi terutama pada: (a) stadium awal pertumbuhan, (b) saat berbunga, dan (c) saat pengisian polong.12. Gulma dikendalikan berdasarkan pemantauan baik secara mekanis – konvensional atau manual (penyiangan menggunakan cangkul atau dicabut), secara mekanisasi, maupun secara kimia dengan menggunakan herbisida pra tumbuh atau pasca tumbuh. Pada tanah yang ringan dan di daerah langka tenaga kerja, cara mekanisasi dapat meringankan biaya pengendalian gulma. Penyemprotan herbisida pra tumbuh sebaiknya dilakukan satu minggu (7 hari) sebelum tanam, sedang penyemprotan herbisida pasca tumbuh perlu hati-hati dengan menggunakan tudung nozzle supaya tidak meracuni daun tanaman kedelai.13. Pengendalian hama dan penyakit berdasarkan petunjuk teknis Pengendalian Hama terpadu (PHT).14. Tanaman siap dipanen apabila daun sudah luruh dan 95% polong sudah berwarna kuning-kecoklatan atau coklat-kehitaman (tergantung varietas), panen dilakukan secara konvensional (dengan sabit atau dicabut). sumber :http://lampung.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/berita/4-info-aktual/738-teknik-budidaya-kedelai-spesifik-lokasi-lahan-sawah