Produksi kedelai di indonesia masih tergolong rendah khusus di Sulawesi Barat Berdasarakan data penen sulbar 2019 terdapat luas tanam kedelai mencapai 16.158 ha dengan produksi 28.800 ton biji kering dan produktivitas sekitar 1.7 ton. Upaya untuk meningkatkan hasil produksi dapat dilakukan melalui peningkatan luas tanam/panen yang dapat dilakukan pada berbagai agroekologi seperti lahan kering yang tersedia begitu luas. Namun kendala pengembangan kedelai dilahan kering pada umumnya memiliki pH rendah, kekurangan N, P,K, Ca, dan Mg serta miskin mikroorganisme. Guna mendukung upaya peningkatan produksi khusunya dilahan kering dapat dilakukan dengan mengadopsi teknologi budidaya yang dapat menghasilkan produktivitas 1,8-2,5 ton/ha bahkan lebih, tergantung tingkat kesuburan tanah dan kondisi iklimnya. Adapun teknologi budidaya yang dapat dilakukan sebagai berikut: Penggunaan Varietas Unggul Pilih varietas yang toleran terhadap kondisi lingkungan setempat. Saat ini tersedia banyak pilihan varietas yang memiliki beragam sifat dan keunggulan. Penggunaan teknik budidaya yang tepat/baik akan menghasilkan produskisi yang lebih baik. Benih Benih yang digunakan haruslah benih yang sehat, bernas dan memiliki daya tumbuh minimal 80%. Benih harus berlabel yang bersumber dari penangkar benih. Penggunaan benih bargantung pada ukuran benih dan jarak tanam yang digunakan, khusus benih yang berukuran kecil dibutuhkan (9-12 g/100 biji) atau 30-40 kg/ha, untuk benih berukuran sedang menggunakan 14-18 g/100 biji atau 40-50 kg/ha. Penyiapan Lahan Pengolahan tanah disarankan untuk dapat dilaksanakan, walaupun pertanaman dapat dilakukan tanpa olah tanah. Jika intensitas curah hujan tinggi dan berpotesni lahan tergenang, becek, maka perlu membuat saluran drainase setiap 3-4 meter, sedalam 20-30 meter sepanjang petakan Penanaman Mambuat Lubang tanam dengan cara tugal kedalam 2-3 cm, jarak tanam 40 cm x 15 cm Benih ditanam dua biji perlubang tanam dan ditutup dengan tanah Pemupukan Tujuan dari pemupukan adalah untuk memenuhi jumlah kebutuhan hara, mengembalikan unsur hara baik makro atau mikro untuk memperbaiki struktur tanah sehingga produksi meningkat. Pemupukan Tanaman kedelai dilakukan paling lambat tanaman berumur 14 hari adapun pupuk yang digunakan: Pupuk tunggal dosisi pemakaian: Urea 75-100 kg/ha , 100-150 kg/ha SP36, dan 50-100 kg KCL /ha, atau dapat juga menggunakan pupuk majemuk seperti NPK Phonska dosis 250 kg/ha. Pengendalian Gulma Melakukan penyiangan sebanyak dua kali pada umur 15 dan 30 hari setelah tanam (hst) Pengandalian gulma dapat dilakukan dengan cara kimia menggunakan herbisida yang dilakukan sebelum pengolahan tanah atau sesudah tanam dengan syarat benih yang ditanam ditutup denagn tanah, dan herbisida yang digunakan adalah herbisida jenis kontak. Pengairan Tanaman kedelai pada awal pertumbuhan umur 15-21 hari sangat peka terhadap kekurangan air begitupun pada umur 28-37 saat berbunga dan umur 55 -70 hari pada saat pengisian polong, Kecukupan air di lahan kering untuk tanaman sangat bergantung dari curah hujan sehingga sangat perlu menyeseuaikan jadwal penanaman dengan curah hujan agar ketersedian air dapat tercukupi. Pengendalian hama dan penyakit tanaman Potensi penyerangan hama utama pada tanaman kedelai berlangsung sejak umur 10 hari setelah tanam (hst), sampai dengan panen sebagian diantaranya sangat membahayakan tanaman, penggunaan pestisida tidak disarankan kecuali populasi serangan hama telah melebihi ambang kendali. Jenis pestisida yang digunakan harus sesuai dengan hama sasaran dan terdafttar perijinanya. Penyakit utama pada kedelai adalah phakosora, pachyrhizi, busuk batang dan akar Schlerotium rolfsii dan karat serta berbagai penyakit yang disebabkan virus. Penyakit karat dapat dikendalikan dengan menggunakan fungisida yang mengandung bahan aktif mancozeb, untuk penyakit yang disebabkan virus dlakukan dengan mengendalikan vektornya (kutu) dengan insektisida deltametrin seperti Decis 2.5 EC dosisi 1 ml/l air, dan nitroguanidin/imidakloprit seperti Confidor dosis 1 ml/l air. Waktu pengendalian umumnya pada umur 45-50 hst atau menyesuaikan kondisi tanaman. Panen dana Pasca Panen Ciri-ciri tanaman bisa dipanen: 95% polong telah berwarna kuning kecoklatan waktu panen dilaksanakan pada pukul 09:00 atau pada saat embun sudah hilang. Cara Penen: dimulai dengan memotong pangkal batang dengan menggunakan sabit, lalu segera dilakukan penjemuran, kemudian dibijikan dengan menggunakan thresher atau pemukul (digeblok), butur biji di dipisahkan dari kotoran /sisa kulit polong dan dijemur kembali hingga kadar biji mencapai 11-12 %, jika di peruntukan untuk benih perlu dikeringkan lagi hingga kadar airnya mencapai 9-10 % kemudian disimpan dalam kantong plastic tebal/dua lapis kantong plastic tipis, penyimpanan dapat juga menggunakan kaleng atau jerigen plastic. Sumber : Dari berbagai Sumber Oleh : Marwayanti Nas (Penyuluh Pertanian BPTP Sulbar)