TEKNOLOGI PRODUKSI KEDELE LAHAN KERING MASAM DI LAMPUNG PENDAHULAUN Latar Belakang Produksi kedelai di Indonesia dapat ditingkatkan melalui peningkatan luas panen di lahan kering masam yang potensial untuk pengembangan kedelai yang luasnya mencapai 18,5 juta ha. Kendala pengembangan kedelai pada lahan kering masam pada umumnya adalah pH rendah, keracunan Al dan Mn, kekurangan hara N, P, K, Ca, Mg; serta miskin mikro organisme menguntungkan seperti Rhizobium dan Mikoriza. Upaya peningkatan produksi kedelai di Provinsi Lampung saat ini melonjak produksinya hingga 797,05% dari 8.027 ton di 2017 menjadi 72.006 ton pada 2018.(Lampost.co Mart 2019) Produksi tersebut akan terus ditingkatkan untuk mendukung tercapainya swasebada kedelai nasional. Untuk program tersebut tersedia teknologi produksi kedele di lahan kering masam sebagai berikut: Varietas Unggul Saat ini tersedia banayak pilihan varietas yang memiliki beragam sifat dan keungulan: ukuran biji kecil hingga besar, kulit biji kuning atau hitam, tahanan terhadap hama/penyakit tertentu, dan toleran terhadap kondisi lahan. Varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat dan disukai oleh pasar adalah yang berbiji besar seperti Anjasmoro dan Grobogan, dan berbiji sedang seperti Wilis dan Tanggamus Benih Benih harus sehat, bernas, dan daya tumbuh minimal 80%, serta tidak banyak campuran. Bila mungkin, gunakan benih berlabel dari penangkar benih. Apabila menggunakan benih sendiri, sebaiknya benih diambil dari pertanaman yang seragam (tidak campuran), cukup umur, dan diproses dengan baik. Di daerah endemic serangan lalat bibit, benih perlu diberi perlakuan benih (seed strearment) sebelum ditanam, yakni diberi intesikda berbahan aktif karbosulfan (misalnya Marshal 25 ST) takaran 5g/kg benih. Kebutuhan benih bergantung pada ukuran benih dan jarak tanam yang digunakan. Untuk benih ukuran kecil sampai sedang (9 g/100 biji), diperlukan 40kg/ha. Untuk benih ukuran besar (14g/100biji) dibutuhkan 55kg/ha. Penyiapan Lahan Pengolahan tanah dilakukan sekali hingga dua kali (tergantung kondisi tanah), dan diratakan. Jika curah hujan masih cukup tinggi perlu dibuat saluran drainase setip 3-4 m, sedalam 20-25 cm, sepanjang petakan Penanaman Penanaman dilakukan dengan tugal, jarak tanam untuk tanah subur 40x20 cm, dan kurang subur 30x20 cm, 2biji/lubang. Pada lahan yang belum pernah ditanami kedelai, dianjurkan menggunakan pupuk hayati Rhizobium (40 gram/8 kg benih) atau tanah dari lahan pertanaman kedelai Pengapuran Kapur (Caco) atau dolomite diberikan untuk memperbaiki sifat kimia tanah, terutama untuk menurunkan tingkat kejenuhan Al sekaligus sebagai sumber hara ca dan Mg Batas tolerensi kedele terhadap kejenuhan al adalah 20% Dosis kapur untuk menurunkan kejenuhan al-dd hingga mencapai sekitar 20% dapat dihitung dengan rumus JK=(kejenuhaan AL-0,20) x KTK-E)x1,65 JK : Jumlah kapur (t/ha) Kejenuhan Al:ditulis dalam”decimal” misalnya 40 % ditulis 0,40. Angka 0,20 : batas toleransi kejenuhan Al kedle 20% KTK-E : Kapasitas Tukar Kation Efektif =(Al-dd+Ca-dd+MG-dd+K-dd+Na++H-dd) Dolomit dapat diberikan dengan disebar rata bersamaaan dengan pengolahan tanah kdua atau paling lambat 7 -14 hari sebelum tanam Jika dolomite diberikan dengan cara disebar sepanjang alur baris tanaman, takarn dolomite dapat dikurangi menjadi hanya 1/3 dari takarn semula. Dolomite juga dapat diberikan pada saat tanam di campur pupuk kandang dan pupuk SP36 sebagai penutup lubang tanam Pemupukan Pupuk diberikan dengan takaran 75 kg Urea, 100 kg SP36 dan 100 kg KCL per hektar. Semua pupuk tersebut paling lambat diberikan pada saat tanaman berumur 14 hari. Pengendalian Gulma Penyiangan perlu dilakukan dua kali pada umur 15 dan 45 hari Pengendalian gulma secara kimia dengan herbisida dapat dilakukan sebelum pengolahan tanah atau setelah tanam dengan syarat benih ditutup dengan tanah pada saat tanam dan herbisida yang digunakan adalah jenis kontak. Bersamaan penyiangan pertama sebaiknya dilakukan pembumbunan tanaman Pengairan Dilahan kering umumnya tidak tersedia air irigasi apabila dipandang perlu pengairan dan tersedia air yang dapat dipompa, pengairan sebaiknya diberikan pada fase kritis saja, yaitu sekitar umur 15 hari, saat berbunga(umur 28 hari) dan saat pengisian polong 9umur 55 hari). Pada fase-fase tersebut tanaman harus di jaga agar tidak kekurangan air Pengendalian Hama Hama utama tanaman kedele adalah lalat bibit(pada awal pertumbuhan) ulat pemakan daun danpenggulung daun, penggerek polong, pengisap polong dan pemakanpolong. Pengendalian hama menggunakan primsip PHT dan aplikasi pestisida menggunakan system pemantauan menggunakan dengan jenis jenis pestisida sesuai rekomdasi, jika telah melampau ambang kendali. Ambang kendali lalat bibit 1 imago/5m baris tanaman. Amabng kedele ulat pemakan daun jika intesitas kerusakan baru sebesar 12,5% pada umur 20 HST dan lebih dari 20 % pada umur lebi 20 HST. Ambang kendali perusak polong jika intesitas kerusakan baru mencapai lebih dari 2 % atau 2 ekor ulat/rumpun pada umur lebih dari 45 HST atau 1 pasang imago/2o rumpun tanaman. Insektisida yang digunakan racun kontak dan ;ambung seperti insektisida yang berbahan aktif sipermtrin +klorfirifos. Pengendalian Penyakit Penyakit uatama pada kedele adalah karat daun phakopsora pachyrhiji, busuk batang, dan akar schlertorium rolfsii dan berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus Penayakit karat daun dikendalikan dengan fungisida yang mengandung bahan aktif mancozeb. Penyakit busuk batang dan akr dikendalikan menggunakan jamur anatgonis Thrichoderma harzianum Untuk penyakit virus, dilakuan dengan mengendalikan vektornya ( yaitu kutu) dengan insektisida deltametrin (seperti Decis 2.5 EC) dosis 1 ml/l air, dan nitroguanidin/imidakloprit (seperti Confidor) dosis 1 ml/l air Panen Dan Pasca Panen Panen dilakukan aabila 95 polong pada batang utama telah berwarna kunig kecoklatan. Panen dapat dilakukan pada pukul 09.00 pagi, pada saat air embun sudah hilang Panen dilakukan dengan memotong pangkal batang dengan sabit. Hasil panenan ini segara di jemur beberpa kemudian di bijikan dengan thereser atau pemukul/digblok. Butir biji dipisahkan dari kotoran atau sisa kulit polong dan jemur kembali hingga kadar air menjadi 12 % saaat disimpan. Untuk keperluan benih, biji kedele perlu di keringkan lagi hingga mencapai 9 %, penjemuran tidak boleh lewat dari 12 jam siang. Benih kemudian disimpan dalam kantong plastic tebal atau 2 lapis kantong plastic tipis. Penyimpanan dapat juga menggunakan blek atau jerigen plastic. Penyusun : Dede Rohayana, Dewi Rumbaina Mustikawati Referensi : BPTP Lampung Sumber Gambar : Keg. BPTP Lampung