Loading...

Teknologi Proliga, Solusi Ketersediaan Benih Bawang Merah

Teknologi Proliga, Solusi Ketersediaan Benih Bawang Merah
Komoditas hortikultura memegang peranan penting dalam perekonomian nasional. Bawang merah memiliki nilai ekonomi yang strategis. Budidaya tanaman bawang merah umumnya menggunakan umbi sebagai benih, tetapi memiliki beberapa kelemahan yaitu kebutuhan umbi yang tinggi ( 1-1,2 ton/ha), masa simpan umbi yang singkat dan memerlukan gudang penyimpanan yang besar sehingga menyebabkan biaya penyangkutan yang tinggi. Penggunaan benih asal biji TSS (True Seed of Shallot) merupakan inovasi untuk mengatasi ketersediaan benih sehingga diharapkan berdampak dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Keunggulan TSS (True Seed of Shallot), antara lain, yaitu (a) kebutuhan jumlah benih lebih rendah (5-7 kg/ha), (b) penyimpanan benih lebih mudah dengan masa simpan yang lebih panjang yaitu 1-2 tahun, serta (c) bebas virus dan penyakit tular benih. Bima Brebes, Katumi, Sembrani dan Trisula merupakan varietas bawang merah yang berpotensi sebagai sumber induk TSS. Benih asal TSS dapat digunakan sebagai benih sumber untuk bahan perbanyakan benih sebar yang bermutu. Syarat Lokasi dalam budidaya di luar musim (off season) bawang merah asal TSS yaitu a) Lahan yang subur untuk tanaman bawang merah, iklim kering dengan bulan kering 4-5 bulan, curah hujan 1000-1500 mm/th, dan suhu sekitar 25-32ËšC, pH tanah 5,5-6,5, lahan tidak ternaungi, dan berdrainase baik. b) Lahan yang baik adalah lahan bekas sawah di dataran rendah sampai medium/tinggi. Untuk off season (musim hujan) pilih lahan sawah atau tegalan dalam kawasan atau hamparan bawang merah dengan tekstur tanah sedang (lempung berpasir) dan strukturnya gembur atau remah. c) Sebaiknya menggunakan Lahannya bukan bekas pertanaman bawang merah sebelumnya, serta bebas dari penyakit tular tanah seperti nematode, fusarium dan/atau penyakit busuk umbi. Penyusun : Ely Novrianty Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian