Terkendala Modal Petani Belum Terapkan Pupuk Berimbang
Belum maksimalnya peningkatan produktivitas hasil pertanian khususnya komoditi padi disebabkan penggunaan pupuk oleh petani belum berimbang. Demikian juga dalam memberantas hama dan penyakit tanaman padi sering dijumpai petani salah menggunakan jenis pestisida. Lalu siapa yang disalahkan apakah petani atau petugas lapangan. Hal ini terungkap dalam rapat evaluasi bidang perekonomian yang berlangsung di ruang pertemuan Dinas Pertanian, Rabu kemarin. Rapat yang dipandu oleh Kabag ekonomi Moh. Zaenal Hafid dihadiri oleh wakil Bupati Pinrang, H.Andi Kaharuddin Mahmud, kepala BP4K Ir.H.Andi Amir Riu, MP, kadis pertanian, kepala laboratorium tiroang Ruslan Patihong diikuti oleh sekitar 70 orang dari unsur distributor dan pengecer pupuk, anggota formulator obat-obata pertanian, PPK dan Penyuluh pertanian. Persoalan belum berimbangnya penggunaan pupuk oleh petani justeru dipertanyakan oleh kepala dinas pertanian Yohanis Sampebua kepada peserta rapat. Menurut salah seorang peserta sebagai kepala dinas tidak pantas melontarkan pertanyaan itu kepada peserta rapat sebaiknya ditanyakan langsung kepada petani mengapa sampai saat ini masih minim petani menggunakan pupuk secara berimbang. "Yang perlu dibahas dalam rapat ini kenapa petani tidak pakai pemupukan berimbang sedangkan RDKK dibuat sesuai dengan kebutuhan pemupukan berimbang," ungkap Jhon ketika memimpin rapat evaluasi tersebut. Wakil bupati Pinrang Andi Kaharuddin Mahmud mengatakan jangan ada yang disalahkan soal petani tidak melakukan pemupukan berimbang. Menurut Andi Kaharuddin yang perlu ditanamkan adalah niat baik untuk mensejahterahkan petani. "Jangan ada yang saling disalahkan, mari kita sama-sama berpikir dan berniat untuk membangun sektor pertaian yang sebagian besar rakyat Pinrang berprofesi sebagai petani," ungkap Andi Kaharuddin. Kepala BP4K Pinrang Ir. H. Andi Amir Riu, MP mengharapkan keterlibatan pengusaha sarana produksi pertanian seperti formulator dan distributor pupuk untuk kerjasama dengan penyuluh pertanian yang ada di Balai penyuluhan kecamatan. Andi Amir Riu meminta kepada formulator untuk menyimpan sampel di BPK setiap produk pestisida yang beredar di pasaran sebagai contoh di klinik pertanian. "Jika ada petani datang di BPK kami bisa menunjukkan jenis pestisida yang cocok dengan hama yang menyerang tanaman padi sehingga tidak terjadi lagi salah penggunaan racun," jelas Andi Amir Riu. Pimpinan pertanian kecamatan Lanrisang Andi Mappangerang, SP mengatakan setiap ada pertemuan SLPTT di wilayah kerjanya selalu ada materi tentang pentingnya penggunaan pupuk berimbang. Namun petani belum bisa seratus persen menerapkan karena keterbatasan biaya untuk menebus berbagai jenis pupuk yang ada di kios pertanian. Dijelaskan kepala dinas pertanian selama ini petani lebih cenderung menggunakan pupuk urea dibanding dengan pupuk lain sehingga ada issu kalau di Pinrang penggunaan pupuk urea berlebihan. Menurut salah seorang pemerhati masalah pertanian yang hadir dalam acara tersebut menilai petani menggunakan pupuk tidak mengetahui apa sebetulnya manfaat dari berbagai jenis dan kandungan pupuk itu bagi tanaman padinya. Karena selama ini petani memupuk berdasarkan kebiasaan tanpa mengetahui unsur apa yang kurang di dalam tanah yang dibutuhkan oleh tanaman padi. Kepala BP4K Andi Amir Riu menambahkan di setiap BPK sebagai klinik pertanian di kecamatan sudah ada alat untuk mengetahui unsur kimia yang ada di petakan sawah. Namun alat tersebut jumlahnya terbatas sehingga belum mampu menjangkau sebagian besar lahan sawah milik petani. "Setelah lahan sawah diuji dengan alat pengujian status hara tanah maka kita bisa rekomendasikan ke petani jenis pupuk apa yang perlu dipakai sehingga kebutuhan hara tanaman padi jadi berimbang," jelas Andi Amir Riu.