PENDAHULUAN Sahabat Petani Indonesia, tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) adalah tumbuhan perdu yang berkayu, dan buahnya berasa pedas yang disebabkan oleh kandungan kapsaisin. Di Indonesia tanaman tersebut dibudidayakan sebagai tanaman semusim pada lahan bekas sawah dan lahan kering atau tegalan. Namun demikian, syarat-syarat tumbuh tanaman cabai merah harus dipenuhi agar diperoleh pertumbuhan tanaman yang baik dan hasil buah yang tinggi. Potensi hasil cabai merah sekitar 12-20 t/ ha. Bagi petani cabai cara mengukur keberhasilan mereka di dalam usahataninya sangat sederhana yaitu seberapa banyak hasil yang di dapat dari usahatani yang digelutinya. Hasil yang dimaksud petani tersebut adalah hasil fisik yang berupa produk pertanian dan uang yang didapatkan dari penjualan produk pertanian yang dihasilkan. Keberhasilan petani sangat erat kaitannya dengan hasil tadi dan berkolerasi dengan kesejahteraan yang didapatkannya. Salah satu factor penentu petani cabai di Indonesia adalah penyiapan bibit cabai yang baik dan sehat. PENYIAPAN BIBIT CABAI SEHAT Cabai merah merupakan salah satu jenis sayuran yang cukup penting di Indonesia, baik sebagai komoditas yang dikonsumsi di dalam negeri maupun sebagai komoditas ekspor. Sebagai sayuran, cabai merah selain memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, juga mempunyai nilai ekonomi tinggi. Pemanfaatannya sebagai bumbu masak atau sebagai bahan baku berbagai industri makanan, minuman dan obat-obatan membuat cabai merah semakin menarik untuk diusahakan. PENYIAPAN BENIH Penggunaan benih bermutu merupakan kunci utama untuk memperoleh hasil cabai merah yang tinggi. Agar diperoleh tanaman yang seragam dengan pertumbuhan dan hasil yang tinggi, diperlukan benih bermutu tinggi. Benih bermutu tinggi untuk cabai merah harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : - berdaya kecambah tinggi (di atas 80%); - mempunyai vigor yang baik (benih tumbuh serentak, cepat dan sehat); - murni (tidak tercampur oleh varietas lain); - bersih (tidak tercampur kotoran, biji-biji rumput/tanaman lain); dan - sehat (bebas Organisme Pengganggu Tumbuhan). PENYEMAIAN Sebelum disemai, benih cabai merah direndam dalam air hangat (50 °C) atau larutan Previcur N (1 ml/l) selama 1 jam. Perendaman benih tersebut bertujuan untuk menghilangkan hama atau penyakit yang menempel pada biji dan untuk mempercepat perkecambahan. Kalau ada biji yang mengambang, berarti benih kurang baik, jadi harus disingkirkan. Benih-benih yang tenggelam bisa langsung disemai. Benih disemai di tempat persemaian yang telah disiapkan berupa bedengan berukuran lebar 1 cm dan panjangnya tergantung pada kebutuhan. Media persemaian terdiri atas campuran tanah halus dan pupuk kandang (1:1) yang telah disterilkan dengan uap air panas selama 6 jam. Bedengan persemaian diberi naungan atau atap plastik transparan untuk melindungi bibit yang masih muda dari terpaan air hujan dan terik matahari. Atap harus menghadap ke arah Timur agar bibit mendapat sinar matahari yang cukup di pagi hari. Akan lebih baik lagi bila persemaian ditutupi dengan kasa nyamuk, agar dapat terhindar dari serangan kutu daun atau penyebaran virus, sehingga akan dihasilkan bibit yang sehat dan seragam (Vos 1995). Benih cabai merah disebar merata pada bedengan dan ditutup tipis dengan tanah halus, kemudian ditutupi lagi dengan daun pisang atau tripleks. Temperatur yang baik untuk perkecambahan benih cabai merah adalah 24-28 °C Setelah benih berkecambah ± 7-8 hari sejak semai, tutup daun pisang atau tripleks dibuka. Selanjutnya setelah membentuk 2 helai daun ± 12-14 hari sejak semai, bibit dipindahkan ke dalam bumbungan daun pisang yang berisi media yang sama, yaitu campuran tanah halus dan pupuk kandang steril (1:1), yang telah diberi inokulasi mikoriza (Glomus sp.) sebanyak 10 g per bibit. Penyiraman dilakukan secukupnya setiap pagi hari. Bila terlalu banyak air, bibit menjadi lemah dan peka terhadap jamur “damping off”. Setelah bibit tumbuh baik, tanah harus tetap lembab. Oleh karena itu penyiraman harus terus dilakukan tetapi tidak terlalu sering. Penyiraman sebaiknya dilakukan pada pagi hari, supaya daun tanaman dan permukaan tanah menjadi kering sebelum malam hari untuk mencegahterjadinya “damping-off”. Temperatur optimum untuk pertumbuhan bibit sampai dipindahkan ke lapangan adalah 22-25 0 C. Penyiangan gulma dilakukan dengan tangan secara hati-hati tanpa mengganggu perakaran. Bila terlihat adanya serangan hama atau penyakit dilakukan eradikasi selektif, yaitu memusnahkan bibit yang terserang. Sebelum bibit dipindahkan ke lapangan, sebaiknya dilakukan penguatan bibit (“hardening”) dengan jalan membuka atap persemaian supaya bibit menerima langsung sinar matahari dan mengurangi penyiraman secara bertahap. Selama penguatan, proses pertumbuhan bibit menjadi lebih lambat tetapi jaringan menjadi lebih kuat. Penguatan bibit berlangsung ± 7 hari (Knott dan Deanon 1970). Bibit yang sehat dan siap dipindahkan ke lapangan adalah bibit yang telah berumur 3-4 minggu sejak dibumbung. Pada umur tersebut bibit sudah membentuk 4-5 helai daun dengan tinggi bibit antara 5-10 cm (Kusumainderawati 1979; Sunu 1998). Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung) Sumber Bacaan : Sumarni dan A. Muharam. 2005. Panduan Teknis PTT Cabai Merah. Balitsa. Lembang-Bandung. 2013. Laporan Tengah Tahun Kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari Kabupaten Belitung Timur. Sumber Foto : Koleksi Feriadi 2020