Loading...

TITIK KRITIS BENIH

TITIK KRITIS BENIH
Benih bermutu merupakan salah satu komponen produksi yang dibutuhkan petani dalam sistim budidaya tanaman. Ketersedian benih bermutu memiliki peran strategis karena sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman. Potensi genetik tanaman juga bergantung pada penggunaan benih bermutu. Mengingat pentingnya fungsi benih dalam pengembangan agribisnis dan ketahanan pangan, maka penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan preferensi konsumen dan sistem produksi benih secara berkelanjutan menjadi semakin penting. Benih Sumber yang digunakan Benih sumber yang digunakan adalah varietasnya asli dengan potensi hasil tinggi; benih bernas dan seragam; bersih, tdk tercampur dengan biji-biji lain dan gulma; Daya berkecambah tinggi ; Sehat, tidak terinfeksi jamur/serangan hama; bersertifikat/belum mati label; dan Benih yang digunakan haruslah satu kelas lebih tinggi dari kelas benih yang akan diproduksi Untuk memproduksi benih kelas FS (Fondation Seed / Benih Dasar) benih sumbernya haruslah benih padi kelas BS (Breeder Seed / Benih Penjenis), sedangkan untuk memproduksi benih kelas SS/BP benih sumbernya boleh benih FS atau boleh juga BS. Roguing/Seleksi Tanaman Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik yang tinggi, oleh karena itu roguing perlu dilakukan dengan benar dan dimulai mulai fase vegetatif sampai akhir pertanaman. Roguing dilakukan untuk membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang diproduksi benihnya. Untuk tujuan tersebut, pertanaman petak pembanding (pertanaman check plot) dengan menggunakan benih autentik sangat disarankan. Pertanaman ini digunakan sebagai referensi/acuan di dalam melakukan rouging dengan cara memperhatikan karakteristik tanaman dalam berbagai fase pertumbuhan. Stadia Vegetatif Awal ( 35 – 45 HST) hal yang perlu diperhatikan: a). Tanaman yang tumbuh diluar jalur/barisan; b).Tanaman/rumpun yang tipe pertunasan awalnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain; c). Tanaman yang bentuk dan ukuran daunnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain; d). Tanaman yang warna kaki atau daun pelepahnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain dan e).Tanaman/rumpun yang tingginya sangat berbeda (mencolok) Stadia Vegetatif Akhir/Anakan Maksimum ( 50 – 60 HST), hal yang perlu diperhatikan: a). Tanaman yang tumbuh diluar jalur/barisan; b). Tanaman/rumpun yang tipe pertunasan menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain; c). Tanaman yang bentuk dan ukuran daunnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain; d). Tanaman yang warna kaki atau helai daun, dan pelepahnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain; e). Tanaman/rumpun yang tingginya sangat berbeda (mencolok) Stadia Generatif Awal /Berbunga ( 85 – 90 HST), hal yang perlu diperhatikan: a). Tanaman/rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain; b). Tanaman yang bentuk dan ukuran daun benderanya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain; c). Tanaman yang berbunga terlalu cepat atau terlalu lambat dari sebagian besar rumpun-rumpun lain; d). Tanaman/rumpun yang memiliki eksersi malai berbeda; e). Tanaman/rumpun yang memiliki bentuk dan ukuran gabah berbeda Stadia Generatif Akhir /Masak ( 100 – 115 HST), hal yang perlu diperhatikan: a). Tanaman/rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain; b). Tanaman yang bentuk dan ukuran daun benderanya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain; c). Tanaman yang berbunga terlalu cepat atau terlalu lambat dari sebagian besar rumpun-rumpun lain; d). Tanaman/rumpun yang terlalu cepat matang; e). Tanaman/rumpun yang memiliki eksersi malai berbeda; f). Tanaman/rumpun yang memiliki bentuk dan ukuran gabah warna gabah, dan ujung gabah (rambut /tidak berambut) berbeda. Panen dan Pascapanen Saat panen yang tepat adalah pada waktu biji telah masak fisiologis, atau apabila sekitar 90-95% malai telah menguning. Benih padi ketika baru dipanen masih tercampur dengan kotoran fisik dan benih jelek. Oleh karena itu, bila pertanaman benih telah lulus dari pemeriksaan lapangan, masalah mutu benih padi setelah panen biasanya berasosiasi dengan mutu fisiologis, mutu fisik dan kesehatan benih. Lahan pertanaman untuk produksi benih dapat dipanen apabila sudah dinyatakan lulus sertifikasi lapangan oleh BPSBTPH. Sebelum panen dilakukan, semua malai dari kegiatan roguing harus dikeluarkan dari areal yang akan dipanen. Hal ini untuk menghindari tercampurnya calon benih dengan malai sisa roguing. Selain itu, perlu disiapkan peralatan yang akan digunakan panen (sabit, karung, terpal, alat perontok (threser), karung dan tempat/alat pengering) serta alat-alat yang akan digunakan untuk panen dibersihkan. Dua baris tanaman yang paling pinggir sebaiknya dipanen terpisah dan tidak digunakan sebagai calon benih. Calon benih kemudian dimasukan ke dalam karung dan diberi label yang berisi : nama varietas, tanggal panen, asal pertanaman dan berat calon benih.; lalu diangkut ke ruang pengolahan benih. Selanjutnya Pengeringan calon benih dapat dilakukan dengan cara penjemuran. Pastikan lantai jemur bersih dan beri jarak yang cukup antar benih dari varietas yang berbeda. Gunakan terpal/alas di bagian bawah untuk mencegah suhu penjemuran yang terlalu tinggi di bagian bawah hamparan. Lakukan pembalikan benih secara berkala dan hati-hati. Lakukan pengukuran suhu pada hamparan calon benih yang dijemur dan kadar air benih setiap 2-3 jam sekali serta catat data suhu hamparan dan kadar air benih tersebut. Bila pengeringan menggunakan sinar matahari, umumnya penjemuran dilakukan selama 4 – 5 jam. Penjemuran sebaiknya diberhentikan apabila suhu hamparan benih lebih dari 43oC. Pengeringan dilakukan hingga mencapai kadar air yang memenuhi standar mutu benih bersertifikat (13% atau lebih rendah) Pengolahan benih pada umumnya meliputi pembersihan benih, pemilahan (grading) dan perlakuan benih (jika diperlukan). Tujuan pembersihan ini selain memisahkan benih dari kotoran (tanah, jerami, maupun daun padi yang terikut) juga untuk membuang benih hampa. Pembersihan benih dalam skala kevil dapat dilakukan secadapat dilakukan secara manual dengan menggunakan nyiru (ditapi). Sedangkan pada skala produksi yang lebih besar, penggunaan mesin pembersih benih seperti air screen cleaner atau aspirator akan meningkatkan efisiensi pengolahan. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pengolahan benih mulai dari pengeringan sampai pemilahan ; terutama untuk menghindari benih tercampur dengan varietas lain; diantaranya adalah : a). Sebelum proses pengolahan dimulai, siapkan, cek peralatan dan bersihkan alat-alat pengolahan yang akan digunakan. Pastikan bahwa perlatan berfungsi dengan baik dan benar-benar bersih baik dari kotoran maupun sisa-sisa benih lain; b). Untuk menghindarkan terjadinya pencampuran antar varietas, benih dari satu varietas diolah sampai selesai, baru kemudian pengolahan untuk varietas lainnya; c). Tempatkan benih hasil pengolahan dalam karung baru serta diberi label yang jelas di dalam dan luar karung; d). Bila alat pengolahan akan digunakan untuk mengolah sejumlah benih varietas yang berbeda, mesin/ alat pengolahan dibersihkan ulang dari sisa-sisa benih sebelumnya, baru kemudian digunakan untuk pengolahan varietas lain. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya campuran dengan varietas lain; e). Buat laporan hasil pengolahan yang berisi tentang varietas, kelas benih, berat benih bersih dan susut selama pengolahan. Semoga Bermanfaat Penyusun Religius Heryanto (Penyuluh BPTP Sulbar) Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian