Loading...

TRADISI BUDAYA DALAM PENGENDALIAN HAMA TIKUS SAWAH Di BERBAGAI DAERAH di INDONESIA

TRADISI BUDAYA DALAM PENGENDALIAN HAMA TIKUS SAWAH Di BERBAGAI DAERAH di INDONESIA
Oleh Nanda Permatasari, SP., MP. Tikus sawah merupakan hama utama penyebab kerusakan padi di Indonesia. Rata-rata tingkat kerusakan tanaman padi mencapai 20% per tahun. Serangan tikus sawah terjadi sejak pesemaian hingga panen, bahkan dalam gudang penyimpanan padi. Pengendalian tikus sawah relatif lebih sulit karena sifat biologi dan ekologinya yang berbeda dibanding hama padi lainnya.Mengapa tikus selalu menjadi masalah? Banyak faktor mengapa hama tikus menjadi salah satu hama yang paling sulit ditangani, beberapa faktor diantaranya adalah penanganan yang terlambat, monitoring yang lemah, penanganan tidak intensif, dan di beberapa wilayah masih percaya pada mitos tentang tidak bolehnya membunuh tikus. Sebenarnya mitos tikus merebak karena akibat tidak diketahui dan belum dipahaminya aspek dinamika populasi tikus. Para petani tidak bersedia melakukan pengendalian tikus dengan cara membunuh tikus, seperti memberi umpan racun, maupun melakukan emposan dan gropyokan yang menyebabkan tikus mati. Para petani banyak yang mempercayai bahwa, jika membunuh tikus, maka serangan tikus akan semakin merajalela, sehingga akan sangat lebih merugikan petani. Oleh karena itu, penyuluh harus melakukan pendekatan secara tradisi dan budaya lokal dalam hal pendampingan pengendalian hama tikus ini.Saat ini petani beserta pemerintah dan stakeholder yang ada, bekerjasama dalam upaya pengendalian hama tikus secara terpadu, baik itu dengan menggunakan rodentisida, maupun dengan cara gropyokan serta upaya lain yang biasa para petani lakukan sejak turun temurun (tradisi). Nah upaya lain inilah yang bermacam macam bentuk dan caranya, beda daerah, beda bentuk dan caranya. Berikut contohntradisi pengendalian hama tikus yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia:1. Blora, Jawa TengahTradisi petani di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, dalam mengendalikan hama tikus, dengan memanfaatkan umpan yang dipasang di satu ujung bumbung bambu yang menarik tikus untuk masuk ke dalam bumbung bambu dan terperangkap ke dalam kantung plastik yang dipasang pada ujung bambu lainnya. Bahan dan alatnya adalah bambu sepanjang 2-4 meter yang setiap ruasnya dilubangi kawat,bendrat, umpan tanpa racun, dan kantong plastik. Kantong plastik dipasang pada satu ujung bambu, diperkuat dengan kawat. Bumbung diletakan di pematang atau di tempat yang sering dilalui tikus. 2. Majalengka, Jawa BaratPetani Majalengka menggunakan limbah cabe rawit yang diramu sedemikian rupa, lalu sore harinya disemprotkan pada tanaman padi dan sekitarnya. Hal ini akan menyebabkan penurunan aktivitas tikus seperti loyo, dan bergerak lamban, karena efek dari semprotan cabe yang menyebabkan kepedihan mata, gangguan pencernaan atau gangguan pernafasan. Pada malam harinya petani dapat dengan mudah memburu tikus dengan cara gropyokan menggunakan lampu petromak (Pengoboran).3. Cianjur, Jawa BaratPetani di Cianjur, Jawa Barat, menggunakan musuh alami palsu bagi tikus, yaitu ular belang palsu yang dibuat dari daun nanas yang di cat putih dan hitam. Ini sifatnya mengelabui, dan terbukti efektif.4. Lombok, Nusa Tenggara BaratHampir serupa dengan petani di Majalengka, petani di Lombok menggunakan peralatan sederhana, yaitu batang bambu yang diberi perangkap berupa karung di salah ujungnya. Ujung bambu yang tidak diberi perangkap karung dibuat agak runcing gunanya untuk mempermudah memasukan batang bambu kedalam sarang tikus. Karung (plastik atau goni) diikat dengan kawat atau tali plastik pada ujung bambu. Bagian ujung bambu yang runcing dimasukkan kedalam lubang sarang tikus dan dibiarkan beberapa saat sambil dikocok-kocok agar tikus-tikus takut dan keluar sarang.5. Tapanuli Selatan, Sumatra UtaraPetani Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, mereka mengumpan tikus dengan menggunakan jenis ubi racun yang sudah dicincang dan diberi sedikit air. Cincangan ubi racun ditaburkan di sekitar lubang aktif tikus yang ada di persawahan atau tegal.6. Pandeglang, BantenPetani di Pandeglang biasanya mengendalikan hama tikus dengan memberi umpan singkong yang direbus dari air kelapa. Singkong yang direbus dengan air kelapa akan bersifat racun bila dimakan, sehingga tikus akan mati. Ada juga perangkap Kala Celongcong yang merupakan modifikasi bubu ikan oleh petani Serang, ibukota provinsi Banten. 7. Solo, Jawa TengahMasyarakat petani di Solo rata-rata memilih untuk memberi makanan/ umpan yang tidak bersifat racun, tapi bersifat mengalihkan perhatian tikus, agar tidak memakan padi petani. Mereka mempercayai bahwa jika membunuh tikus, serangan tikus akan semakin ganas. Mereka memilih membiarkan dan pasrah. Sebagian besar petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani, sepakat untuk mengubah pola tanam mereka yang semula padi-padi-padi, menjadi padi-padi-palawija.8. Jember, Jawa TimurCara masyarakat petani Jember dalam mengendalikan hama tikus, kurang lebih sama, hanya bahan yang digunakan berbeda. Petani banyak yang menggunakan umpan, seperti karak (nasi kering), dan juga ada yang menggunakan kapur barus yang ditaburkan untuk menghalau tikus. Selain secara mekanis, para petani juga berikhtiar dengan cara beristighosah bersama, di tengah sawah setiap malam Jumat manis.Demikianlah ragam petani di berbagai daerah di Indonesia dalam mengatasi dan mengendalikan hama tikus, yang sudah menjadi tradisi dan kebiasaaan turun temurun yang dinilai efektif di daerah masing-masing. Sebenarnya selain yang telah disebut, masih banyak tradisi kearifan lokal yang digunakan dalam penanganan hama tikus. Apapun caranya, kunci keberhasilan pengendalian tikus ditentukan oleh serangkaian kegiatan yang dilakukan secara serentak dalam areal hamparan, terus menerus sepanjang musim dan antar musim, dilakukan sedini mungkin dan pelaksanaan pengendalian dilakukan terorganisasi secara baik. Sumber: www.litbang.pertanian.go.id/special/padi/bbpadi_2009_itp_11.pdfhttp://insan-teknik.blogspot.co.idhttp://www.solopos.com *) Penulis adalah Koordinator Penyuluh Pertanian di UPTD Bangsalsari Dinas TPHP Kab. Jember Email: aboknanda@yahoo.co.id