Semakin rendahnya produktivitas tanaman, biaya pupuk dan pestisida yang terus naik makin mengurangi pendapatan petani. Karena permasalahan ini, tumpangsari kembali menjadi tren. Karena menanam 2 atau lebih tanaman, petani bisa mendapatkan penghasilan tambahan, atau setidaknya mengurangi resiko hilangnya pendapatan karena kegagalan panen tanaman utama. Namun demikian, tumpangsari sebenarnya bisa memberikan manfaat lebih jika pemilihan komoditas dilakukan dengan bijaksana. Tidak semua tanaman cocok untuk ditanam berdampingan. Beberapa akibat pemilihan komoditas yang kurang bijak adalah pertumbuhan kedua tanaman yang kurang maksimal dan meningkatnya hama pada salah satu tanaman. Salah satu contoh praktek tumpang sari yang bisa saling menguntungkan adalah tumpangsari antara jagung dan cabai. Tumpangsari jagung dan cabai bisa menghemat penggunaan air dan pupuk dasar hingga 50%, karena pengairan dan aplikasi pupuk dilakukan sekali waktu. Metode ini juga memberikan penghasilan yang relatif tanpa putus. Panen jagung muda akan diikuti oleh jagung pipilan, sedangkan cabai rawit bisa dipanen sekitar 2 minggu sekali. Selain itu, tanaman jagung melindungi tanaman cabai dari sinar matahari langsung dan membantu mengurangi serangan kutu kebul pada tanaman cabai, karena kutu kebul lebih menyukai tanaman jagung. Kutu kebul adalah pembawa virus kuning pada tanaman cabai. Virus kuning sangat mudah menyebar lewat air dan angin, sehingga tanaman cabai yang terlanjur terserang harus segera dicabut. Sebaliknya, tanaman cabai berfungsi sebagai mulsa alami sehingga mengurangi resiko tanaman jagung terkena kekeringan. Adanya tanaman cabai di sela-sela jagung juga mengurangi munculnya gulma.